Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 November 2015

Asia Muslims help Rohingya brothers

Jakarta, Oki Setiana Dewi. As many ports were shut in the face of helpless Rohingya Muslim migrants, help was offered by ordinary people across Southeast Asia, inspiring compassion and feelings of unity as one Muslim nation.

On the one hand, were seeing governments quibbling and struggling to find ways to deal with these boat people, said Vivian Tan, a Bangkok-based spokeswoman for the UN refugee agency, UNHCR, The News International reported on Tuesday (19/5) as reported by Onislam.net.

Asia Muslims help Rohingya brothers (Sumber Gambar : Nu Online)
Asia Muslims help Rohingya brothers (Sumber Gambar : Nu Online)


Asia Muslims help Rohingya brothers

But on the other hand, its encouraging to see that the people in this region have responded very generously to these boat people.

The public response has been overwhelming and governments really need to follow this example and let people disembark as soon as possible, Tan said.

Oki Setiana Dewi

Inspiring compassion, the arrival of hundreds of desperate Rohingya Muslims was met by open hearts from Malaysian and Indonesian Muslims.

Oki Setiana Dewi

In Malaysia, ordinary people launched donation drives to help feed migrants who have flooded ashore in the past two weeks.

Similar positive reaction appeared in Indonesia where fisherman rescued three boats last week and saved 900 lives. Villagers also donated clothing and home-cooked meals.

Aid groups estimate that thousands more migrants, who fled persecution in Burma and poverty in Bangladesh, are stranded in the Andaman Sea after a crackdown on human traffickers prompted captains and smugglers to abandon their boats.

On the official level, navy ships from Malaysia, Thailand and Indonesia intercepted boats last week packed with desperate, hungry migrants, giving them food and water and then sending them away.

The reaction was denounced by a prominent Islamic scholar in Malaysia who noted that the government is still searching for a Malaysia Airlines plane believed to have crashed at sea over a year ago, while those who are still alive, we leave to die out at sea.

Where is our humanity? Asri Zainal Abidin, a former state mufti in Malaysia, wrote on his Facebook page.

Appeals

Outraged by official response, Malaysian sympathetic citizens and Muslim groups have launched donation drives to collect food, clothing and medical aid to refugees.

Meanwhile, Marina Mahathir, a social activist and daughter of former Prime Minister Mahathir Mohammed, issued an appeal last week for anyone with seaworthy boats to send aid to the migrants still at sea.

Our chief concern is those still out at sea because this is a real humanitarian crisis, she said.

We need to provide some sort of solution. I dont think we can wash our hands of this.

An online petition is calling on the Malaysian government to put humanity before politics.

We the people want incoming migrants who have been abandoned at sea by traffickers to be rescued and cared for by our elected Malaysian government, it says.

In Indonesia, the worlds most populous Muslim nation, officials have appealed to villagers on loudspeakers not to get too close to the migrants, fearing they could spread disease.

In Indonesia, the worlds most populous Muslim nation, officials have appealed to villagers on loudspeakers not to get too close to the migrants who were towed ashore in eastern Aceh province by fisherman, fearing they could spread disease.

But villagers have ignored the orders. Hundreds have thronged

Villagers ignored the orders, thronging into the the two warehouses where the migrants have been housed since their Friday arrival, bringing rice, instant noodles, clothing and even some home-cooked meals.

We have to help them, because they are our brothers, said Hayaturrahman Djakfar, who came with a group that donated sarongs, towels, headscarves, childrens clothes and food.

And because they are struggling for a better life and protection. There is no reason not to help them.

Described by the UN as one of the worlds most persecuted minorities, Rohingya Muslims are facing a catalogue of discrimination in their homeland.

They have been denied citizenship rights since an amendment to the citizenship laws in 1982 and are treated as illegal immigrants in their own home.

The Burmese government, as well as the Buddhist majority, refuse to recognize the term Rohingya, referring to them as Bengalis.

Rights groups have accused Burmese security forces of killing, raping and arresting Rohingyas following the sectarian violence last year.

Fleeing state-sponsored persecution, an estimated 120,000 Burmese refugees fled to live in 10 camps along the Thailand-Myanmar border, according to The Border Consortium, which coordinates NGO activity in the camps.

Many fled persecution and ethnic wars as well as poverty and have lived in the camps with no legal means of making an income. (Masdar)

Dari (International) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59632/asia-muslims-help-rohingya-brothers

Senin, 20 Juli 2015

Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Oki Setiana Dewi dan INFID (International NGO Forum on Indonesia Development) bermaksud mengumumkan kepada publik mengenai kesempatan untuk mengikuti kompetisi esai dan multimedia yang bertujuan mengampanyekan Islam ramah, moderat dan damai terutama di dunia maya.

Dalam konferensi pers peluncuran kompetisi esai dan video tersebut, Selasa (27/9) di Gedung PBNU Jakarta hadir Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Pimred Oki Setiana Dewi Achmad Mukafi Niam, Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo, awak media, dan para aktivis orgnaisasi pemuda.

Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam

Dalam paparannya, Helmy Faishal mengungkapkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lee Kuan Yeuw School Singapura yang merilis data dari View Research Center. Hasil penelitian ini memngungkapkan bahwa 4 persen dari penduduk Indonesia atau tepatnya adalah 10 juta orang Indonesia setuju konsep negara Islam. Angka tersebut adalah para pemuda dan kaum urban.

Oki Setiana Dewi

Mereka sepakat dan mendukung konsep Negara Islam (Islamic State) yang kita kenal ISIS. Ini jumlah yang besar sekali yang membuktikan bahwa Indonesia berada pada pusaran radikalisme global, ujar Helmy.

Sehingga menurut Helmy, upaya penanggulangan radikalisme bukan hanya tanggung jawab Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi tugas seluruh elemen bangsa demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia agar Pancasila dan UUD 1945 sebagai pondasi persatuan tetap kokoh.

Oki Setiana Dewi

Untuk menanggulangi problem radikalisme global yang terus menggerogoti keutuhan bangsa, menurut Helmy, perlu ada langkah-langkah konkret, baik dari civil society maupun pemerintah. Karena arah gerakan ini menyasar para pemuda sebagai pengguna besar media sosial dan dunia maya.

Kami dari NU sudah bolak-balik menyampaikan kepada pemerintah untuk melakukan law enforcement karena semua sudah diatur dalam UU Terorisme. Kelompok-kelompok radikal secara jelas tidak mengakui dasar negara Pancasila yang sebenarnya sudah bisa diambil tindakan hukum, papar Helmy. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71540/miris-hasil-riset-sebut-10-juta-orang-indonesia-setuju-konsep-negara-islam

Oki Setiana Dewi

Senin, 09 Desember 2013

Jamu Tamu Maulid, Habib Luthfy Sediakan 500 Kambing

Pekalongan, Oki Setiana Dewi. Untuk menjamu tamu yang hadir di acara Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1434 H yang akan dilangsungkan di Gedung Sholawat Pekalongan 13 Pebruari mendatang, Habib Luthfy selaku khodimul maulid telah menyiapkan sedikitnya 500 ekor kambing.

Kambing kambing yang disediakan Habib Luthfy berasal dari kantong pribadi kini sebagian sudah tiba di kandang yang telah disediakan, sedangkan kekurangannya akan dipenuhi oleh pemasok pada minggu pertama Pebruari mendatang.

Jamu Tamu Maulid, Habib Luthfy Sediakan 500 Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamu Tamu Maulid, Habib Luthfy Sediakan 500 Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)


Jamu Tamu Maulid, Habib Luthfy Sediakan 500 Kambing

Selain kambing, Habib Luthfy yang juga Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (Jatman) juga telah menyiapkan 5 ton beras untuk dimasak pada malam sebelum, saat acara berlangsung dan sesudah acara peringatan maulid.

Oki Setiana Dewi

Di samping hal itu, Habib Luthfy juga telah menyumbang uang tunai kepada panitia sebesar 50 juta rupiah (bukan 20 juta sebagaimana yang telah diberitakan) untuk menyukseskan haflah maulid yang rutin digelar setiap tahun di Kanzus Sholawat.

"Untuk kanjeng nabi, kita jangan setengah setengah untuk bersedekah, karena Rasulullah merupakan junjungan kita yang kelak akan memberikan syafaat kepada kita," ujarnya.

Oki Setiana Dewi

Wakil Sekretaris panitia Maulid, H. Suwardi mengatakan, kegiatan maulid yang rutin digelar di Kanzus Sholawat akan diikuti di beberapa tempat secara bergantian hingga menjelang bulan Ramadhan.

Dikatakan, hingga saat ini telah tercatat ada 70 tempat yang siap menggelar kegiatan peringatan maulid rangkaian Kanzus Sholawat, baik di Kota Pekalongan, Batang, Kabupaten Pekalongan maupun daerah daerah lain di wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Jakarta. Dari seluruh rangkaian kegiatan maulid, menurut Suwardi, sebagian besar dihadiri oleh Maulana Habib Luthfy selaku khodimul maulid.

Untuk menyemarakkan kegiatan maulid, pihak panitia telah menyiapkan kegiatan tambahan berupa pawai panjang jimat, pawai merah putih, pawai batik karnival, nikah maulid hingga pentas musik gambus El Balasyik asal Jawa Timur.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42204/jamu-tamu-maulid-habib-luthfy-sediakan-500-kambing

Oki Setiana Dewi

Kamis, 17 Oktober 2013

LPPNU Gelar Pelatihan Peningikatan Kapasitas Kelembagaan

Cirebon, Oki Setiana Dewi. Untuk kesekian kalinya, PP. LPPNU menggelar pelatihan tingkat nasional. Pelatihan yang diberi titel Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Melalui Pengembngan Agro Ecopreunership Berbasis Spritual untuk Membenung Radikalisasi di Perdesaan ini diikuti oleh 80 peserta. Mereka adalah pengurus LPPNU, yang berasal dari 70 kabupaten dan 10 provinsi. Ada provinsi Lampung, NTB, Kaltim dan lain-lain, tugas salah satu panitia, Rahmat Faisol.

Menurut Faisol, pelatihan kali ini intinya adalah peningakatan kapasitas kelembagaan. Diharapkan, dengan pelatihan itu kelak peserta dapat membangun LPPNU secara lebih baik dan kuat. Sebab, kalau lembaga sudah baik, baru bisa bergerak untuk yang lain, ujarnya.

LPPNU Gelar Pelatihan Peningikatan Kapasitas Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Gelar Pelatihan Peningikatan Kapasitas Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)


LPPNU Gelar Pelatihan Peningikatan Kapasitas Kelembagaan

Pelatihan kali ini dimulai Jumat (20/1) hingga 4 hari kedepan. Jadwal yang dirilis panitia menyebutkan bahwa Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj akan memberi pengarahan pada Sabtu malam (21/1). Selain diberi penyampaian materi, peserta juga diajak turun langsung ke lapangan berdiskusi dengan petani. Juga ada materi acara ngaji bareng dan kunjungan ke makam Sunan Gunung Jati.

Oki Setiana Dewi

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq

Oki Setiana Dewi

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35938/lppnu-gelar-pelatihan-peningikatan-kapasitas-kelembagaan

Oki Setiana Dewi

Sabtu, 27 April 2013

Ini Alasan Pentingnya Jenjang Kaderisasi Jadi Nahdliyin

Jombang, Oki Setiana Dewi. Pentingnya memperhatikan jenjang kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU) kembali digulirkan menjelang konferensi cabang (Konfercab) NU besok (22-23/4) di Pesantren Tebuireng setelah beberapa bulan lalu sempat menjadi perbincangan di kalangan pemuda NU. Kaderisasi merupakan syarat mutlak dalam ber-NU.

Hal ini disampaikan Ketua GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto kepada Oki Setiana Dewi, Kamis (20/4).

Ini Alasan Pentingnya Jenjang Kaderisasi Jadi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Pentingnya Jenjang Kaderisasi Jadi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)


Ini Alasan Pentingnya Jenjang Kaderisasi Jadi Nahdliyin

Menurutnya adanya jenjang kaderisasi di NU salah satu tujuannya adalah untuk menciptakan regenerasi NU yang sehat. Hingga kader yang dari level paling bawah pun (pengurus ranting, red) pada saatnya akan menempa kepengurusan di atasnya dan seterusnya.

"Jenjang kaderisasi yang sudah maklum adanya harus dijalankan sebaik-baiknya, IPNU, PMII, GP Ansor NU, NU, IPPNU, PMII (Kopri), Fatayat NU, Muslimat NU sehingga tidak memaksakan mengambil pengurus dari latar belakang yang tidak jelas atau tidak sesuai disiplin kaderisasi di NU," ujarnya.

Oki Setiana Dewi

Oki Setiana Dewi

Menurut pria yang kerap disapa Gus Antok itu, selama ini jenjang kaderisasi NU kurang diperhatikan. Dampaknya, kepengurusan NU seolah bersifat inklusif bagi siapapun dan dari kalangan apapun. Padahal, kondisi ini rawan akan penyusupan kelompok yang tidak pro pada NU, bahkan kalangan yang sebenarnya ingin merusak NU dari dalam.

"Ini kan sangat bahaya bagi NU, baik dari sisi struktural maupun kulturalnya. Jangan-jangan orang yang mau masuk NU atau yang sudah masuk NU adalah orang yang sebenarnya mau merusak NU," kata Gus Antok.

Namun demikian, kondisi tersebut bukanlah kondisi yang tidak bisa diubah. Momentum Konfercab ini menjadi forum penting untuk memusyawarahkan perihal kondisi tersebut. Sehingga pengurus NU dari level ranting sampai PCNU adalah orang-orang yang jenjang disiplin kaderisanya sudah sama-sama menempa.

"Kalau jenjang kaderisasi ini jalan, NU akan semakin kuat. Semua pengurus NU sudah sama-sama menempa kaderisasi NU," paparnya.

Ia mengatakan, tak sedikit kader GP Ansor yang seharusnya melanjutkan pengabdiannya di PCNU setelah masa pengabdian di GP Ansor usai, malah tidak mendapat wadah yang semestinya. "Banyak sahabat-sahabat GP Ansor yang sudah usai masa khidamatnya tidak ditarik ke PCNU," tuturnya.

Karenanya, pada forum musyawarah tertinggi tingkat cabang itu, ia berharap peserta forum mulai memperhatikan dan membahas tuntas soal problem jenjang kaderisasi tersebut. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77229/ini-alasan-pentingnya-jenjang-kaderisasi-jadi-nahdliyin

Oki Setiana Dewi

Sabtu, 18 Agustus 2012

Tips Sehat Berpuasa dengan Asupan Gizi yang Tidak Mudah Dicerna

Oki Setiana Dewi - dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, KGer, Finasim dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, memberikan tips berpuasa agar lancar. Tips puasa sehat ini berlaku secara umum untuk seorang berusia lanjut dan juga semua kalangan.

1. Saat Sahur usahakan untuk membatasi asupan teh dan kopi. Pasalnya, dua asupan tersebut membuat metabolisme berjalan cepat. Sehingga cepat mendatangkan rasa haus meski tak terdehidrasi.

Tips Sehat Berpuasa dengan Asupan Gizi yang Tidak Mudah Dicerna - Oki Setiana Dewi
Tips Sehat Berpuasa dengan Asupan Gizi yang Tidak Mudah Dicerna - Oki Setiana Dewi


Tips Sehat Berpuasa dengan Asupan Gizi yang Tidak Mudah Dicerna

2. Sangat dianjurkan mengonsumsi makanan yang lambat dicerna dan memiliki serat yang tinggi. Contohnya gandum, padi-padian, kacang-kacangan, biji-bijian, nasi merah.

3. Saat ta'jil/pendahuluan berbuka puasa dianjurkan untuk mengonsumsi kurma karena mengandung gula serat, karbohidrat, kalium dan magnesium. Dengan kurma, kebutuhan nutrisi tubuh yang hilang selama puasa perlahan dipenuhi.

4. Mengonsumsi pisang saat ifthor/berbuka sangat baik bagi tubuh Anda, sebab pisang merupakan sumber kalium, magnesium dan karbohidrat.

Oki Setiana Dewi

Oki Setiana Dewi

5. Batasi makanan yang digoreng saat berbuka karena dapat meningkatkan sel-sel lemak dalam tubuh. Hal ini karena seorang yang sudah di usia lanjut cenderung memiliki keluhan penyakit yang disebabkan lemak, seperti penyakit jantung koroner dan hipertensi.

6. Batasi makanan yang lebih cepat dicerna, seperti gula. Hal ini bisa cepat mendatangkan rasa haus ditengah Anda menjalani puasa nantinya.

7. Konsumsi air atau jus buah antara berbuka puasa dan sebelum tidur. Hal ini bertujuan untuk menyediakan kebutuhan cairan dalam tubuh untuk Anda lancar beraktivitas esok harinya.

8. Hindari terlalu banyak minum Es, karena memudahkan Anda kenyang. Dimana asupan makanan gizi yang lengkap akan menurun karena tak bisa masuk dalam tubuh.

Selamat menunaikan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Suci Ramadhan 1437 H/ 2016 M. Semoga informasi ini bermanfaat dan Anda diberi kelancaran, kesehatan dan ke-khusyu-an serta ikhlas menjalankannya. Bertambah iman, ilmu dan amal yang diridhai Allah SWT. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/tips-sehat-berpuasa-dengan-asupan-gizi-yang-tidak-mudah-dicerna.html

Jumat, 03 Agustus 2012

KH Abdul Hamid Pasuruan Bukan Wali Tiban oleh Gus Mus

Berikut aku turunkan Kata-Pengantarku atas Buku Biografi salah seorang tokoh idolaku, Almarhum walmaghfur lah KH. A. Hamid Pasuruan; barangkali ada yang belum membaca buku Biografi tersebut. Semoga manfaat.

Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa shahabat Umar Ibn Khatthab (40 S.H. – 23 H.) itu “faqih” mujtahid dan fatwa-fatwanya dibukukan orang dan dikenal sebagai fiqh Umar. Mungkin juga tak banyak yang tahu bahwa khalifah kedua ini muhdats (gampangnya, wali besar menurut istilah di kita sekarang).

Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar mesjid di Madinah; pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah, hingga ‘nurut’ –memberi manfaat manusia tanpa minta imbalan korban perawan seperti semula-- sampai sekarang ini; sering dengan firasatnya, shahabat Umar menyelamatkan orang. Bahkan khalifah yang pertama-tama dijuluki Amirul mukminin ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang turun kemudian kepada Rasulullah SAW (Misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badr, tentang pelarangan khamr, tentang adzan, dsb.).

Namun manaqibnya jarang atau mungkin malah tidak pernah dibaca orang. Umumnya orang hanya mengenal beliau sebagai pemimpin yang al-Qawwiyul Amien, yang kuat dan amanah. Pemimpin kelas dunia (bahkan Michael Hart memasukkan beliau dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia) yang sering di elu-elukan sebagai Bapak Demokrasi yang penuh toleransi.

Boleh jadi juga banyak yang tidak tahu bahwa sahabat Abu Bakar Siddieq (51 S.H. – 13 H.) adalah waliyullah paling besar sepanjang zaman. Kebesarannya tampak sekali saat Rasulullah SAW wafat. Ketika semua orang, bahkan shahabat Umar yang perkasa, terpukul dan panik penuh ketidakpercayaan, Sahabat Abu Bakar –yang pasti paling sedih dan paling merasa kehilangan dengan wafatnya sang kekasih agung itu—sedikit pun tidak kelihatan guncang, apalagi kehilangan keseimbangan.

Sahabat nomor wahid itu bahkan masih sempat mengingatkan shahabat Umar dan yang lain tentang firman Allah, Wamaa Muhammadun illa Rasuul qad khalat min qablihir rusul …yaitu bahwa betapa pun besarnya Muhammad SAW dia tetap manusia yang bisa mati. Hanya Allah yang hidup dan tak mati. “Man kaana ya’budu Muhammadan fainna Muhammadan qad maat; waman ya’buduLlaaha fainnaLlaha Hayyun la yamuut;” kata beliau saat itu menyadarkan shahabat Umar dan yang lain.

Wali mana yang lebih besar dari orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai kekasihnya, Abu Bakar Shiddiq ini? Sebagaimana shahabat Umar, juga jarang yang mengingat bahwa shahabat Abu Bakar juga mujtahid dalam arti yang sesungguhnya. Umumnya orang hanya mengenal shahabat abu Bakar sebagai shahabat yang mulia budi bahasanya, negarawan dan khalifah pertama Khulafa-ur Rasyidien.

Demikian pula shahabat-shahabat besar yang lain seperti sayyidina Utsman Ibn ‘Affan (47 S.H. – 35 H.) dan sayyidina Ali Ibn Abi Thalib (W. 40 H.), kebanyakan orang hanya mengenal sebagian dari sosok mereka yang paling menonjol; sehingga sisi-sisi kelebihan yang lain bahkan sering terlupakan. Dalam kitabnya Thabaqaat al-Fuqahaa, imam Abu Ishaq as-Syairazy menempatkan Khulafa-ur Rasyidien –secara berurutan-- di deretan pertama tokoh-tokoh faqih dunia. Tapi siapakah yang tersadar bahwa tokoh-tokoh khulafa itu ‘ahli fiqh’ juga?

Hal yang sama, dengan pencitraan yang berbeda-beda, terjadi pada tokoh-tokoh berikutnya. Imam Syafi’i (150 H.- 204 H.) misalnya, karena sudah terlanjur beken di bidang fiqh, apalagi menciptakan kaidah fiqh yang sangat jenius dan spektakuler, banyak orang yang lupa bahwa beliau sebenarnya juga menguasai ilmu hadis dan sastrawan yang handal; beliau mempunyai antologi puisi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy-Syafi’i. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Muhammad Ibn Idris ini juga mengerti tentang musik. Setiap orang berbicara tentang imam Syafi’i boleh dikata hanya sebagai sosok faqih mujtahid belaka.

Lebih malang lagi adalah imam Ibn Taimiyah yang hanya gara-gara kemononjolannya dalam hal menentang tawassul, oleh sebagian banyak orang –khususnya pengagum Imam Ghazaly—ditolak seluruh pemikirannya dan tidak dianggap sebagai imam yang alim dan mumpuni.

Syeikh Abdul Qadir Jailany (atau Jiely atau Kailany, 470-561 H. ) yang dijuluki Sulthaanul ‘Auliyaa, Raja Para Wali, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa beliau sebenarnya menguasai tidak kurang dari 12 ilmu. Beliau mengajar ilmu-ilmu Qira'ah, Tafsir, Hadis, Perbandingan madzhab, Ushuluddin, Ushul Fiqh, Nahwu, dlsb. Belia berfatwa menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali. Namun karena orang melihat sosok akhlaknya yang sangat menonjol, maka orang pun hanya melihatnya sebagai seorang sufi atau wali besar.

Demikianlah umumnya tokoh besar, sering ‘divonis’ harus menjadi ‘hanya sebagai’ atau ‘dikurangi’ kebesarannya oleh citra kebesarannya sendiri yang menonjol. Masyarakat tentu sulit diharapkan akan dapat melihat kebesaran seseorang tokoh secara utuh, paripurna; karena justru masyarakatlah yang pertama-tama terperangkap dalam sisi kebesaran yang menonjol dari sang tokoh dan kemudian tidak bisa melepaskan diri. Karena bagi mereka cukuplah apa yang mereka ketahui dari sang tokoh itu sebagai keutuhan kebesarannya. Barangkali disinilah pentingnya buku biografi seperti yang sekarang ada di tangan Anda. Biografi Almarhum wal maghfurlah Kiai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan ini.

***

Saya ‘mengenal’ secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika saya masih tergolong remaja, sekitar tahun 60-an. Ketika itu saya dibawa ayah saya, KH Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi kebiasaan ayah, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Saya kira ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe.

Waktu itu, di samping Kiai Hamid, ada Mbah Baidlawi, Mbah Maksum, dan kiai-kiai sepuh lain. Dengan mbah Baidlawi dan mbah Maksum, saya sudah sering ketemu, ketika beliau-beliau itu tindak Rembang, atau saya dibawa ayah sowan ke Lasem. Dengan kiai Hamid baru ketika itulah saya melihatnya. Wajahnya sangat rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang memandangnya.

Ayah saya berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai kharismatik itu mencengkeram dada saya sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”. Telinga saya menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah saya sendiri di notes saya: “Liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam saya selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.

Kemudian ketika saya sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah saya mulai mengenal putera-putera beliau –Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris— , Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh idola saya yang istimewa. Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid –Allah yunawwir dhariihah— hanyalah sebagai ‘pemberi berkah’ kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan inspirasi banyak santri muda yang –melihat dan mendengar karomah beliau-- ingin menjadi wali dengan jalan pintas. Padahal berkah beliau, paling tidak menurut saya –dengan alasan-alasan yang akan saya kemukakan melalui kisah-kisah di belakang—lebih dari itu.

Pernah suatu hari saya sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat ‘kolusi’ dengan Gus Nu’man, saya bisa menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Saya melihat manusia yang sangat manusia yang menghargai manusia sebagai manusia. Bayangkan saja; waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya tanah Jawa, dan beliau mentasyjie’ saya agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau.

Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan saya sedikit demi sedikit mencair. Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau nasihat-nasihat secara langsung, tapi saya mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau. Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak saya dengan terus menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada saya (Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu ‘hoby’ Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat saya tangkap intinya: setiap manusia mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.

Ketika ‘krisis’ melanda NU di tahun 80-an, saya nderekke para rais NU Wilayah Jawa Tengah, Almarhum Kiai Ahmad Abdul Hamid Kendal, Almarhum Kiai A. Malik Demak, dan Kiai Sahal Machfudz Kajen, sowan ke kediaman kiai saya, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogya –Allah yarhamuh—yang waktu itu Rais ‘Am. Kebetulan pada waktu itu Kiai Hamid sudah ada disana.

Seperti biasa dengan nada berkelakar, Pak Ali –demikian santri-santri Kiai Ali selalu memanggil beliau—berkata kepada Kiai Hamid: “Iki lho, Mustofa kandani, seneni!” (“Ini lho Mustofa dinasihati, marahi!”). Memang ketika itu saya sedang ada ‘polemik’ dengan kiai saya yang ‘liberal’ itu. Sekali lagi saya saksikan Kiai Hamid –dalam memenuhi permintaan sahabat-karibnya itu—dengan kelembutannya yang khas, hanya bercerita. “Saya tidak bisa bernasihat; mau menasihati apa? Tapi saya ingat dulu Syaikhuna …” demikian beliau memulai. Dan, masya Allah, dari cerita beliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga; khususnya bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip penting organisasi, beliau sampaikan --dengan metode cerita— sama sekali tanpa nada indoktrinasi atau briefing; apalagi menggurui. Luar biasa!

Sengaja saya ceritakan beberapa pengalaman pertemuan saya dengan Kiai Hamid di atas, selain sebagai tahadduts bin-ni’mah, saya ingin menunjukkan bahwa beliau memiliki ‘karomah’ yang lain, yang lain dari yang dipahami banyak orang. Sebenarnya buku yang sekarang ada di tangan Anda, sudah cukup memberikan gambaran agak utuh tentang sosok beliau; khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanan beliau. Tentang penguasaan ilmu, akhlak, dan perhatian beliau terhadap umat. Pendek kata tentang hal-hal yang di masa kini sudah terbilang langka.

Yang kiranya masih perlu dibeber lebih luas adalah proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri Abdul Mu’thi menjadi Kiai Abdul Hamid. Tentang ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu; tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak kagetan.

Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. ‘Wali Tiban’, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’. Bahkan ayah saya, Kiai Bisri Mustofa dan guru saya Kiai Ali Maksum –keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid-- yang paling sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian kawan-karib mereka ini.

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, ‘Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra.

Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid –rahimahuLlah—adalah naskah lengkap berupa antologi puisi.

Banyak kiai yang karena ke-amanah-annya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, seperti bisa dibaca di buku biografi ini, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri.

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

Waba’du; sebelum saya menulis pengantar ini, saya sudah salat sunah dua raka’at; namun saya masih tetap merasa tidak sopan dan tidak sepantasnya berbicara tentang Kiai Hamid seperti ini dan khawatir kalau-kalau beliau sendiri tidak berkenan. Kelembutan dan kearifan beliau seperti yang saya kenallah yang membuat saya berani menuruti permintaan Gus Idris dan pihak Yayasan Ma’had As-Saafiyah Pasuruan untuk menulis.

Semoga tulisan saya ini termasuk menuturkan kemuliaan orang salih yang dapat menurunkan rahmat Allah. Idz bidzikrihim tatanazalur rahamaat. Dan mudah-mudahan masyarakat tidak hanya mendapat berkah dari manakib beliau ini, tapi lebih jauh dapat menyerap suri tauladan mulia dari sierah dan perilaku beliau. Allahumma ‘nfa’naa bi’uluumihil qayyimah wa akhlaaqihil kariemah. Amin.

Rembang, 1 Shafar 1424 Oleh KH A. Mustofa Bisri 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/kh-abdul-hamid-pasuruan-bukan-wali-tiban.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Oki Setiana Dewi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Oki Setiana Dewi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Oki Setiana Dewi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock