Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

Subhanallah, Inilah Fakta Ilmiah Lailatul Qadar yang Disembunyikan

Oki Setiana Dewi - Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr Abdul Basith As-Sayyid menegaskan, Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar. Ia menyayangkan kelompok jutawan Arab yang kurang perhatian dengan masalah ini sehingga dunia tidak mengetahuinya.

Subhanallah, Inilah Fakta Ilmiah Lailatul Qadar yang Disembunyikan
Subhanallah, Inilah Fakta Ilmiah Lailatul Qadar yang Disembunyikan


Menurutnya, sesuai dengan hadits Nabi bahwa malam Lailatul Qadar adalah “baljah” (بَلْجَة) tingkat suhunya sedang, tidak ada bintang atau meteor jatuh ke (atmosfer) bumi, dan pagi harinya matahari keluar dengan tanpa radiasi cahaya.

Sayyid menegaskan, terbukti secara ilmiah bahwa setiap hari (hari-hari biasa) ada 10 bintang dan 20 ribu meteor yang jatuh ke atmosfer bumi. Kecuali malam Lailatul dimana tidak ada radiasi cahaya sekalipun.

Hal ini sudah pernah ditemukan Badan Antariksa NASA 10 tahun lalu. Namun mereka enggan mempublikasikannya dengan alasan agar orang-orang non Muslim tidak tertarik masuk Islam. Statemen ini mengutip ucapan seorang pakar di NASA,bernama Carner (seperti yang dikutip oleh harian Al-Wafd Mesir).

Abdul Basith Sayyid, Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr Abdul Basith As-Sayyid dalam sebuah program di TV Mesir Sayyid juga menegaskan bahwa Carner seorang pakar dari NASA akhirnya masuk Islam dan harus kehilangan jabatannya di NASA.

Ini bukan pertama kalinya, NASA mendapatkan kritikan dari pakar Islam. Pakar geologi Islam Zaglol Najjar pernah menegaskan, NASA pernah meremove satu halaman di situs resminya yang pernah dipublish selama 21 hari.

Halaman itu tentang hasil ilmiah yakni "Cahaya Aneh" yang tidak terbatas dari Ka’bah di Baitullah ke Baitul Makmur di langit.

Sayyid menegaskan, “Jendela” yang berada di langit itu mirip yang disebutkan dalam Al-Quran.

وَلَوْ فَتْحنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنْ السَّمَاء فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ لَقَالُو إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارنَا بَلْ نَحْنُ قَوْم مَسْحُورُونَ

Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya. tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir”. Al-Hijr: 14

Setelah Carner masuk Islam, ia menafsirkan fenomena “mencium Hajar Aswad” atau mengisyaratkan kepadanya (seperti menurut Abdul Basith Sayyid) bahwa batu itu merekam semua orang mengisyaratkan kepadanya (dengan lambaian tangan) atau menciumnya.

Carner juga mengungkapkan tentang sebagian potongan Hajar Aswad yang pernah dicuri. Setelah 12 tahun diteliti, seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut memang bukan dari planet tata surya Matahari.

Carner kemudian mendatangi pakar Inggris itu dan melihat sample Hajar Aswad sebesar biji (kacang) hims. Ia menemukan bahwa batu itu melancarkan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tidak terlihat ke segala arah. Setiap radiasi menembus 10 ribu kaki.

Karena itu, tegas Sayyid Abdul Basith, Imam Syafi’i menyatakan bahwa Hajar Aswad mencatat nama setiap orang yang mengunjunginya baik dalam haji atau umroh sekali saja. Carner menambahkan, batu itu mampu mencatat nama-nama orang yang berhaji dengan radiasi gelombangnya. Subhanallah... [Oki Setiana Dewi

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/subhanallah-inilah-fakta-ilmiah-lailatul-qadar.html

Rabu, 29 Juli 2015

Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU

Kudus, Oki Setiana Dewi. Sebanyak 21 pelajar setingkat SMA/MA/SMK dari berbagai sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Nahdlatul Ulama Kudus, Jawa Tengah, mengikuti lomba reportase pada Pekan Olahraga dan Seni Maarif (Porsema) di aula Gedung Pengurus Cabang NU pada Ahad pagi (8/2).

Secara praktik, sebenarnya lomba ini telah dimulai pada saat acara pembukaan hari Sabtu (7/2) di Gedung Olahraga (GOR) Wergu Wetan milik Pemkab Kudus. Saat itu juga, para peserta telah berburu berita, baik pada upacara pembukaan Porsema sendiri maupun di beberapa titik lokasi pelaksanaan berbagai lomba yang tersebar di beberapa tempat di Kudus itu.

Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU

Peserta diberi waktu untuk menulis hasil liputannya selama 90 menit, sejak pukul 09.00-10.30 WIB. Disediakan selembar kertas folio dan karenanya harus ditulis secara manual. Penilaian meliputi isi berita, narasumber, penggunaan bahasa, hingga ketepatan waktu saat mengumpulkan naskah.

Oki Setiana Dewi

Untuk mengatasi kejenuhan menunggu selama penilaian juri, para peserta berkumpul dan dipersilakan untuk berbagi pengalaman mengenai dunia kepenulisan. Baik menulis berita, penerbitan majalah, hingga karya sastra.

Terdapat di antaranya siswi MA NU Muallimat yang baru saja menerbitkan buku antologi cerpen dan puisi bertajuk Rembulan Masih Tersenyum. Sementara itu, siswi MA NU Banat mengisahkan pengalamannya selama menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah di tengah kesibukannya santri di pondok pesantren. Hadir juga alumni peserta yang menjuarai lomba reportase pada Porsema tingkat Jawa Tengah tahun lalu untuk memberi motivasi.

Oki Setiana Dewi

Rosidi, salah satu juri mengatakan bahwa lomba ini bukan untuk menang atau kalah. Salah, jika teman-teman hanya berorientasi di lomba ini hanya untuk menang atau kalah. Karena lebih dari itu, ajang ini merupakan bagian dari proses untuk terus belajar, paparnya di depan peserta.

Rosidi yang sekarang mengelola salah satu situs berita online itu juga mengarahkan para peserta untuk terus menulis dan mengirimkannya ke media mana saja. Seperti halnya ia mengatakan tak boleh putus asa jika tak memenangkan lomba ini, ia pun melarang para peserta putus asa untuk mengirimkan tulisan ke media, baik cetak maupun digital.

Juara I putri, Nila Sinta Fitriyani mengaku bahwa setelah mengikuti lomba tersebut ia akan terus belajar menulis. Awalnya saya tak menyangka bisa juara, padahal saingannya dari sekolah-sekolah terkenal di Kudus. Ternyata bisa! Saya senang, dan saya pasti akan terus belajar menulis. Sekarang saya merasa lebih tertarik lagi di dunia tulisan, kata Sinta yang mengharumkan almamaternya, MA NU Ibtidaul Falah Samirejo kecamatan Dawe, Kudus.

Selain Rosidi, juri lainnya yakni Qomarul Adib, wartawan Oki Setiana Dewi daerah Kudus. Acara diakhiri dengan foto bersama antara peserta, pendamping, dewan juri serta panitia. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57524/porsema-kudus-cetak-21-calon-jurnalis-muda-nu

Oki Setiana Dewi

Sabtu, 05 April 2014

Pesantren Annuqayah Manfaatkan IT Untuk Pembelajaran

Sumenep, Oki Setiana Dewi. Jajaran kiai, pengurus, staf pengajar dan santri pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep menggelar pelatihan pemanfaatan teknologi informasi terutama aplikasi internet dan perangkat lainnya selama dua hari, Sabtu-Ahad (17-18/5). Pelatihan ini dipandu Dekan Fakultas Teknik Informatika Dr H Agus Zainal Arifin dari Institut Teknologi Surabaya.

Materi pelatihan selama dua hari berisi peningkatan kompetensi bagi penyusunan perangkat pembelajaran berbasis IT. Para peserta dibekali materi pembelajaran efektif. Yang juga tidak kalah penting adalah e-learning, yakni pembelajaran yang dirancang agar lebih efektif, terang Kepala MA 1 Putri Annuqayah Mohammad Afif kepada Oki Setiana Dewi, Senin (19/5).

Pesantren Annuqayah Manfaatkan IT Untuk Pembelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Annuqayah Manfaatkan IT Untuk Pembelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Annuqayah Manfaatkan IT Untuk Pembelajaran

Pelatihan ini, sambung Afif, memudahkan para guru dalam menyelesaikan sejumlah permasalahan teknis yang ada berhubungan dengan perangkatan pembelajaran. Dalam waktu tidak lama, para tenaga pengajar nantinya dapat dengan cepat membuat soal, melakukan koreksi sekaligus memberikan nilai kepada siswa, bahkan dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Oki Setiana Dewi

Padahal, di sejumlah tempat pembuatan RPP merupakan pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga.

Bahkan banyak ditemukan pembuatan RPP yang copy paste, sedangkan yang bersangkutan tidak memahami hakikat dari yang dikerjakan, kata Afif.

Hasil pelatihan ini tidak semata untuk para guru, tetapi juga dirasakan para siswi sekolah ini. Diupayakan pada tahun ajaran baru mendatang, para siswi MA 1 Putri Annuqayah akan dibekali pemahaman dan pengetahuan bagi pengguanaan perangkat smartphone berjenis ipad dan tablet.

Oki Setiana Dewi

Dengan menggunakan jaringan internet dan piranti pendukung, maka sejumlah pihak akan termotivasi untuk belajar tanpa mengenal waktu seperti pesan agama, pungkas Afif. (Saifulah/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52105/pesantren-annuqayah-manfaatkan-it-untuk-pembelajaran

Oki Setiana Dewi

Jumat, 07 Februari 2014

Jalin Silaturrahim, Ribuan Alumni MI Maarif Kedensari Ikuti Jalan Sehat

Sidoarjo, Oki Setiana Dewi. Ribuan alumni Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif NU Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur mengikuti jalan sehat yang digelar oleh pihak sekolah di halaman sekolah, Sabtu (6/8). Dengan antusias, para Nahdliyin ini berkeliling melewati rute yang telah ditentukan oleh panitia acara untuk merebutkan hadiah dengan total hadiah Rp10 juta.

Diiringi musik patrol "Bongso Awas Lupa Urusan Sholat" atau yang biasa dikenal dengan "Bongso Alus", sekitar 2 ribu orang mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua penuh semangat mengikuti kegiatan ini.

Jalin Silaturrahim, Ribuan Alumni MI Maarif Kedensari Ikuti Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalin Silaturrahim, Ribuan Alumni MI Maarif Kedensari Ikuti Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)


Jalin Silaturrahim, Ribuan Alumni MI Maarif Kedensari Ikuti Jalan Sehat

Panitia acara jalan sehat, Faris Yunanto mengatakan, selain untuk memperingati Harlah ke-50 MI Maarif Kedensari tahun dan reuni akbar, jalan sehat ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahim antar alumnus mulai tahun 1973 hingga 2010 yang telah lama putus. Diharapkan, setelah mengikuti acara tersebut, persaudaraan alumni MI Maarif Kedensari tetap terjalin.

Oki Setiana Dewi

"Selain diikuti alumni, jalan sehat ini juga diikuti adik-adik yang masih belajar di sekolah ini. Jalan sehat merupakan rasa syukur dari yayasan atas berdirinya MI yang sudah mencapai usia 50 tahun sekaligus temu kangen. Kami berharap dengan adanya acara ini, ukhuwah Islamiyah dan jalinan persahabatan bisa tersambung kembali," harap Faris.

Oki Setiana Dewi

Ia menambahkan, selain acara jalan sehat, panitia juga mengadakan pengajian umum yang akan disampaikan oleh Kapten CPM, KH Ali Imron dari Mojokerto, Jawa Timur pada Sabtu (6/8) malam. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70257/jalin-silaturrahim-ribuan-alumni-mi-maarif-kedensari-ikuti-jalan-sehat

Oki Setiana Dewi

Rabu, 21 November 2012

PBNU Imbau Masyarakat Indonesia Tak Terpancing

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk keras tragedi kemanusiaan yang menimpa minoritas muslim Rohingya di Myanmar. Selain mendesak pemerintah Indonesia untuk segera bertindak, ormas Islam terbesar ini mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing sejumlah isu provokatif yang dapat mengoyak keharmonisan bangsa.

Apa yang terjadi di Timur Tengah atau di Asean jangan sampai mempengaruhi kebersamaan kita, tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam jumpa pers di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (1/8).

PBNU Imbau Masyarakat Indonesia Tak Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Imbau Masyarakat Indonesia Tak Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU Imbau Masyarakat Indonesia Tak Terpancing

Menurut Kang Said, langkah reaksioner yang berlebihan tidak akan menyelesaikan masalah. Keputusan untuk berjihad ke Myanmar atau membenci umat Budha di Indonesia jauh dari relevan. Sikap mengecam ketidakadilan harus ditunjukkan dengan cara-cara yang tepat.

Kita tunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa kita bangsa toleran, ujarnya.

Oki Setiana Dewi

Sejak awal, lanjutnya, bangsa Indonesia mampu hidup rukun dan damai meski ratusan suku bermukim di Tanah Air. Karena itu, ia berharap praktik kekerasan yang terjadi di Myanmar tak sampai mengotori suasana ini.

Hadir dalam kesempatan ini Ketua Umum ICRP Musdah Mulia, serta beberapa perwakilan kelompok Budhis di Indonesia, seperti Hikmahbudhi, STAB Dutavira, Magabudhi, Majelis Budhayana Indonesia, dan Patria.

Oki Setiana Dewi

Ketua Umum Hikmahbudhi Adi Kuriniawan berharap, sebagai ormas besar PBNU dapat mengajak masyarakat untuk bersikap secara positif dalam menghadapi tragedi Rohingya.

Kami berharap isu ini tidak menjadi liar, sehingga menimbulkan polemik-polemik dalam negeri, katanya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39069/pbnu-imbau-masyarakat-indonesia-tak-terpancing

Oki Setiana Dewi

Senin, 07 Mei 2012

Ini Alasan Teroris Bom Memilih Bunuh Diri di Mapolresta Solo

Oki Setiana Dewi - Seperti sudah ada kesepakatan yang terencana, jaringan teroris melancarkan serangannya serentak di beberapa tempat di dunia pada bulan Ramadhan. Sesudah Turki, Bangladesh dan - yang paling besar - di Irak, kemudian Saudi di beberapa tempat, terakhir - dan baru saja - di Indonesia.

Indonesia ini agak aneh. Biasanya, ketika teroris ingin menyampaikan pesan ke seluruh dunia, maka kota yang disasar adalah Jakarta dan Bali, karena kedua kota ini mendapat perhatian internasional. Tapi kali ini bom bunuh diri malah terjadi di Mapolresta Solo. Pertanyaannya kenapa Solo?

Ini Alasan Teroris Bom Memilih Bunuh Diri di Mapolresta Solo - Oki Setiana Dewi
Ini Alasan Teroris Bom Memilih Bunuh Diri di Mapolresta Solo - Oki Setiana Dewi


Ini Alasan Teroris Bom Memilih Bunuh Diri di Mapolresta Solo

Kemungkinan besar bom bunuh diri di Solo itu sudah dipersiapkan sejak lama untuk di arahkan ke Jokowi, dengan perkiraan Jokowi pasti mudik dan berlebaran di kampung halaman. Biasanya pada hari lebaran ada open house dari pejabat.

Sayangnya, informasi dimana Jokowi akan berlebaran baru disampaikan pada hari-hari terakhir mendekati lebaran. Dan Padang, tempat Jokowi melaksanakan lebaran, bukanlah kota yang diperhitungkan. Gagal total rencana ini dan pelaku dengan panik melakukannya di mapolresta Solo.

Oki Setiana Dewi

Kemungkinan kedua, yàng lebih kecil, ada rencana meledakkan bom bunuh diri itu di pusat perbelanjaan Solo. Karena ini adalah kotanya Jokowi, maka diharapkan pesannya akan membesar. Tetapi pelaku secara mendadak merubah niatnya dan membawa bom-nya ke mapolresta Solo.

Ia berubah pikiran - mungkin karena tersadar apa yg ia lakukan salah jika meledakkan orang-orang tidak berdosa, maka ia mengarahkan dirinya ke tempat yang terjaga dengan ketat.

Oki Setiana Dewi

Kemungkinan lain, ini hanyalah decoy atau pengalihan. Ketika satu ledakan terjadi di markas polisi, maka di harapkan polisi akan fokus pada kasus di mapolresta dan abai pada tempat yang lain. Mereka mempunyai target lain yang lebih besar, yang kebih ramai dan tidak ketat penjagaannya seperti Sholat Ied. Informasi terakhir, Polri menetapkan siaga satu di seluruh jajarannya.

Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam, dan entah kenapa semua target adalah tempat di mana banyak umat Islamnya. Belum bisa terdeteksi kenapa teroris ini melancarkan aksinya di bulan suci ini.

Mungkin, ini mungkin ya. Mereka ingin lebaran dengan 72 bidadari di surga nanti. Cuma mereka pasti kecewa berat, karena meski seluruh tubuhnya ada di sana, "si ujangnya" ketinggalan di bumi. Pata bidadari bersedih, lebaran kali ini mereka terpaksa makan rendang lagi, rendang lagi. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/ini-alasan-teroris-bom-memilih-bunuh-diri-di-mapolresta-solo.html

Minggu, 23 Oktober 2011

Indonesia Memasuki Perang Tanpa Alat Militer Fisik

Oki Setiana Dewi - Tanpa disadari, Indonesia saat ini berada dalam situasi perang Generasi Keempat (G-IV). Dalam perang ini, senjata yang digunakan bukanlah kecanggihan peralatan militer (hard power) tetapi senjata non militer (softpower) yang antara lain meliputi penghancuran budaya, ekonomi, perusakan moral generasi masa depan bangsa.

Indonesia Memasuki Perang Tanpa Alat Militer Fisik
Indonesia Memasuki Perang Tanpa Alat Militer Fisik


Selain berbiaya murah dibanding pengerahan senjata militer (hardpower), perang G-IV, yang biasanya disebut dengan istilah proxy war, tidak bertujuan jangka pendek. Tetapi justru berakibat fatal untuk jangka panjang di saat suatu bangsa sudah begitu terlambat menyadarinya.

Gaya hidup LGBT (Lesbian – Gay – Bisex dan Transgender) adalah salah satu senjata (softpower) yang digunakan oleh negara adikuasa (hegemony countries) yang bersifat kolonialisme dan imperialisme untuk menghancurkan nilai budaya, ketahanan ekonomi dan karakter bangsa.

Disebut sebagai G-IV, karena perang ini tidak lagi mengandalkan kekuatan militer tetapi terlebih menggunakan kekuatan budaya dan ekonomi.

Perang Generasi I (G-I) adalah perang tradisional dengan menyepakati hari perang dan perang Bharatayudha, sebagai contoh, adalah jenis perang G-I. Perang Generasi II (G-II), adalah jenis perang kota dan Perang Generasi III (G-III) adalah perang dalam skala modern dengan menggunakan pengerahan senjata militer secara penuh seperti halnya Perang Dunia Pertama atau Perang Dunia Kedua.

“Perang G-IV tidak lagi mengandalkan senjata militer yang berbiaya mahal untuk pengerahannya. Perang ini lebih halus dan tak terlihat. Namun dalam jangka panjang, suatu negara akan dicaplok oleh negara lain melalui penguasaan ekonomi ataupun budayanya. Dan, Indonesia tanpa disadari oleh bangsanya pada saat ini telah memasuki G-IV,” ujar Kiki Syahnakri (25/2/2016), di Jakarta.

Menurut Mantan Wakasad itu, LGBT merupakan salah satu senjata yang digunakan negara adikuasa untuk menguasai negara lain dengan menghancurkan budaya asli dan menggantikan dengan budaya yang dapat menghancurkan negara tersebut dari dalam.

Memang lebih memakan waktu, Kiki mengurai lebih lanjut, tetapi sifatnya tidak menghancurkan secara fisik melainkan menghancurkan secara mental dan moral.

“Perang G-IV ini dimulai pada tahun awal tahun 2000-an, ketika bangsa Indonesia membiarkan dirinya diatur oleh konsultan asing dalam penyusunan undang-undang, termasuk amandemen UUD 1945."

"Indonesia menjadi incaran dan destinasi perang G-IV, karena posisinya yang strategis, besar dan kaya akan sumberdaya alam. Indonesia saat ini sudah dikelilingi oleh negara-negara hegemoni baik secara militer ataupun ekonomi. Papua yang saat ini menjadi target jika tidak diantisipasi dengan bijaksana di masa depan akan menjadi the missing continent,” ujar Kiki.

Sementara itu, Putut Prabantoro menjelaskan, bangsa Indonesia harus berani menyudahi konflik internal bangsa yang berlatarbelakang kepentingan ekomini, politik, kelompok ataupun suku. Kelemahan di Indonesia adalah, konflik kepentingan itu menjadi besar ketika dipolitisir menjadi konflik antar agama. Konflik horisontal itu secara tidak sadar akan melemahkan persatuan bangsa yang seharusnya dijaga oleh semua rakyat Indonesia.

Semangat “Demi Indonesia Satu Tak Terbagi”, demikian Putut menjelaskan lebih lanjut, harusnya menjadi landasan berpijak bangsa Indonesia dalam mengantisipasi semua perang tak terlihat yang antara lain mengatasnamakan, hak asasi manusia (HAM), demokrasi, kebebasan berpendapat ataupun kebebasan berekspresi. Oki Setiana Dewi

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/indonesia-memasuki-perang-tanpa-alat-militer-fisik.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Oki Setiana Dewi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Oki Setiana Dewi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Oki Setiana Dewi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock