Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

KH Masyhuri Malik: Jaga Warisan para Pendiri NU

Jombang, Oki Setiana Dewi. Setelah menjalani masa Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) selama beberapa hari, para kader mengikuti prosesi baiat atau pengambilan sumpah setia.

PKPNU di Pondok Pesantren Babus Salam, Kalibening, Mojoagung ditutup, Senin (9/3) dini hari. Setelah digembleng dengan sejumlah informasi, antara lain mengenai potensi, kelebihan, kelemahan dan tantangan NU masa mendatang, para kader diharapkan dapat menjadi pionir bagi perjalanan NU ke depan.

KH Masyhuri Malik: Jaga Warisan para Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masyhuri Malik: Jaga Warisan para Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Masyhuri Malik: Jaga Warisan para Pendiri NU

Hal tersebut antara lain yang disampaikan oleh Ketua Pelaksana Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik saat memberikan pengarahan pada penutupan PKPNU di Jombang itu.

Oki Setiana Dewi

Di hadapan 48 peserta, KH Masyhuri Malik kembali mengingatkan bahwa para ulama khususnya pendiri NU telah berjuang menyelamatkan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Para ulama juga telah mewariskan ajaran Islam yang bisa diterapkan di tanah air. Menjaga dan mengawal NKRI adalah sama dengan menjaga keberadaan NU, tandasnya.

Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali para peserta memegang teguh apa yang telah diwariskan para pendiri jamiyah ini. Dan menjaga warisan para ulama tersebut bisa dilakukan dengan menjadi pengurus formal NU ataupun sebagai anggota biasa, terangnya.

Oki Setiana Dewi

Kiai Masyhuri berpesan kepada peserta yang tidak hanya berasal dari Jombang, juga Kediri, Lamongan, Nganjuk serta Gresik ini untuk terus menjaga soliditas serta senantiasa berkhidmat kepada NU. Bentuknya bisa dengan berperan aktif dalam kegiatan di komunitas setempat atau bersinergi dengan kepengurusan yang ada.

Syamsul Rijal dari PCNU Jombang menandaskan bahwa menjadi peserta PKPNU adalah kesempatan yang istimewa. Karenanya mohon usai mengikuti kegiatan ini, sejumlah kegiatan yang bisa dilakukan sebagai program nyata dapat segera dilakukan, katanya.

Intensitas komunikasi juga hendaknya dapat dilakukan sesama angkatan pelatihan baik mereka yang berdomisili di Jombang serta kota lain, lanjutnya.

Penutupan PKPNU dilakukan dengan pengukuhan dan baiat atau pengambilan sumpah setia yang diikuti oleh seluruh peserta. Baiat dipimpin langsung oleh KH Masyhuri Malik didampingi dua instruktur kaderisasi dari PBNU H Abdul Munim DZ dan Amir Maruf. (Syaifullah/Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58167/kh-masyhuri-malik-jaga-warisan-para-pendiri-nu

Oki Setiana Dewi

Minggu, 22 September 2013

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Muslim Kamboja fokus memberdayakan umatnya melalui bidang pendidikan. Selain belajar di universitas dalam negeri, mereka mengirim anak mudanya untuk menimba ilmu di luar negeri seperti Malaysia dan Indonesia.

Demikian disampakain Nos Sles, atau dalam bahasa Indonesia bisa dipanggil Nuh Saleh. Ia adalah Director of Deparatment of Education and Human Resources Departemen di lembaga umat Islam Kamboja yaitu Cambodian Muslim Development Foundation.

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

Nos Sles mengatakan, Muslim Kamboja sudah memiliki lima lembaga pendidikan. Satu didirikan Muslim kamboja sendiri, sisanya bantuan dari luar negeri.

Selama ini, yang banyak memberikan bantuan dalam pendidikan adalah Malaysia dan negara-negara Timur Tengah, ucap Nos Sles, diungkapkan seorang penerjemah, di kantor redaksi Oki Setiana Dewi, gedung PBNU, Jakarta, Jumat, (5/10).

Oki Setiana Dewi

Oki Setiana Dewi

Menurut Nos Sles, Indonesia adalah negara Muslim terbesar dan bertetangga dengan Kamboja, Sangat mungkin bekerjasama dalam pendidikan.

Karena itulah, mewakili Muslim Kamboja, ia berkunjung ke beberapa lembaga pendidikan di Indonesia. Di antaranya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulllah Jakarta.

Ia berharap, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia bisa memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Muslim Kamboja.

Nos Sles mengaku baru pertama kali mewakili lembaganya berkeliling ke Indonesia, Persoalannya adalah biaya perjalanan. Muslim Kamboja masih hidup di bawah garis kemiskinan. Rata-rata adalah petani, dan sebagian menjual kue kecil-kecilan, jelasnya.

Lebih jauh, Nos Sles menceritakan umat Muslim di Kamboja. Kami minoritas, sekitar 4 persen dari 14 juta penduduk Kamboja. Tersebar di masing-masing provinsi, dan muslim terbesar di daerah Campa.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40125/muslim-kamboja-minta-dukungan-untuk-pendidikan-islam

Oki Setiana Dewi

Selasa, 12 Maret 2013

Membaca Keprihatinan Gus Mus Tentang Salah Kaprah Kembali ke Al-Quran

Oki Setiana Dewi - Dalam sebuah wawancara khusus oleh Koran Tempo dengan Kiai Mustofa Bisri pada Kamis, 5 Januari 2017, Gus Mus, sebagaimana beliau akrap dipanggil, menuturkan,"Al-Quran itu tidak bisa diterjemahkan, apalagi diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yang kosa katanya masih miskin."

Beliau menjelaskan bahwa bangunan kata antara Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia tidaklah sama. Al-Qur’an yang diturunkan Alloh SWT di Arab, ungkap Gus Mus, mengandung banyak nuansa sastrawi. Maka, jika Al-Quran diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, nuansa itu akan hilang.

Penuturan di atas perlu dibaca sebagai bentuk keprihatinan Sang Kiai atas fenomena semakin maraknya perselisihan yang berujung pada pertengkaran antara sesama umat Islam sebagai akibat dari perbedaan memaknai dan memahami ayat-ayat Al-Quran, terutama yang terjadi akhir-akhir ini. Sebagaimana kita ketahui, masih ada sebagian orang Islam yang menempatkan produk terjemahan Al-Quran sama persis atau, minimal, sejajar dengan Al-Quran dalam bahasa aslinya, Arab.

Membaca Keprihatinan Gus Mus Tentang Salah Kaprah Kembali ke Al-Quran - Oki Setiana Dewi
Membaca Keprihatinan Gus Mus Tentang Salah Kaprah Kembali ke Al-Quran - Oki Setiana Dewi


Membaca Keprihatinan Gus Mus Tentang Salah Kaprah Kembali ke Al-Quran

Saya percaya bahwa Kiai, dalam hal ini, tidak bermaksud melarang penerjemahan Al-Quran dalam Bahasa Indonesia, karena, bagaimanapun juga, ini adalah salah satu bentuk ikhtiyar untuk menyampaikan pesan-pesan Al-Quran kepada masyarakat Indonesia yang ‘ajam, bukan Arab. Pun, penerjemahan al-Quran di Indonesia telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang mulai meyakini makna terjemahan sebagai satu-satunya makna yang harus digunakan, dan menutup kemungkinan munculnya makna lain. Ini bukan berarti kita tidak mempercayai kemampuan tim penerjemah, tetapi lebih kepada masalah atau faktor alamiah yang melekat pada bahasa yang berbeda.

Oki Setiana Dewi

Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya. Setiap kata dalam Bahasa Arab memiliki banyak nuansa makna. Maka, seringkali satu kata tertentu dalam Bahasa Arab memerlukan penjelasan panjang-lebar dalam bahasa sasaran (target language), Indonesia.

Penjelasan yang bertele-tele ini tentu saja akan mengurangi kesan bahasa Al-Quran yang meski sekilas nampak sederhana, namun sebenarnya sangat mendalam. Apalagi saat kita dihadapkan dengan bahasa-bahasa kiasan, maka situasi ini akan menambah kerumitan dalam memahami kedalaman makna al-Quran.

Oki Setiana Dewi

Al-Quran akan selamanya tertulis dalam Bahasa Arab, sejak awal diwahyukan hingga akhir zaman. Demikian ini adalah jaminan langsung dari Allah SWT. Oleh karena itu, usaha alih-bahasa dari bahasa asal (Arab) ke bahasa apapun tidak akan menjadikan produk alih-bahasa tersebut setara dengan Al-Quran dalam bahasa aslinya.

Alih bahasa tetaplah alih bahasa atau terjemahan, bukan Al-Quran. Dalam hal ini, penerjemahan mesti dipahami sebagai upaya memperkirakan makna yang tepat dari bahasa asal ke dalam bahasa sasaran. Penerjemahan tetaplah sebatas upaya mengira-ngira makna saja. Karena perbedaan bahasa, suatu kata dan gagasan tidak memungkinkan terwakili secara sempurna.

Memahami pesan-pesan Al-Quran melalui terjemahan tidaklah salah, tidak juga dilarang. Hanya saja, pemahaman tersebut tidak boleh diklaim sebagai satu-satunya kebenaran, menutup kebenaran pemahaman versi yang lain. Seseorang mesti tahu diri bahwa ia sebatas membaca bahan terjemahan, bukan al-Quran versi bahasa aslinya yang memiliki kedalaman makna yang tinggi di setiap sudut kata.

Dr. Abdullah Darraz, seorang penggagas tafsir tematik dari Mesir, mengatakan,"Apabila Anda membaca Al-Qur’an, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi, apabila Anda membacanya sekali lagi, Anda akan menemukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai-sampai Anda dapat menemukan kata atau kalimat yang mempunyai arti bermacam-macam, yang semuanya benar atau mungkin benar. Ayat-ayat Al-Quran bagaikan intan: setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. Dan tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang yang Anda lihat."

Memahami Al-Quran tidaklah sesederhana membaca terjemahan. Ia memerlukan banyak perangkat ilmu bahasa dan kebersihan hati. Oleh karenanya, Gus Mus juga berpesan, semangat kembali ke Al-Qur’an mestinya dipahami sebagai semangat mendalami pemahaman terhadap Al-Quran, bukan semangat kembali ke Al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama semata. Allahu A’lam. [Oki Setiana Dewi]

Muhammad Jauhari Sofi, santri di Pesantren Fathul Huda, Karanggawang

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/membaca-keprihatinan-gus-mus-tentang-salah-kaprah-kembali-ke-alquran.html

Sabtu, 11 Juni 2011

Naudzubillah, Gambar Hoax Boom Aleppo!

Oki Setiana Dewi - "'FatwaAhad': Taqlid yg paling buta ialah membebek pertikaian orang di kawasan lain hingga ikut menyebar fitnah2 mereka di negeri sendiri."

Tweet akun Gus Mus (@gusmusgusmu) sungguh sindiran keras buat mereka yang ingin mengimpor kerusuhan dan perang saudara di Timur Tengah ke Indonesia. Tragedi Aleppo Turki salah satunya.

Untuk memperkeruh suasana, bukan hanya berita yang ditulis. Namun foto juga diedit untuk pembenaran yang entah berpihak kepada siapa.

Naudzubillah, Gambar Hoax Boom Aleppo! - Oki Setiana Dewi
Naudzubillah, Gambar Hoax Boom Aleppo! - Oki Setiana Dewi


Naudzubillah, Gambar Hoax Boom Aleppo!

Perhatikan dua gambar di atas. Itu ada yang asli dan juga palsu, alias hoax. Gambar bom sama, tapi tambahan pesawat di atasnya adalah tambahan. Shoot gambar lebih di sebelah kanan lebih dekat daripada yang sebelah kiri.

Oki Setiana Dewi

Gambar ini dipakai tahun 2014 oleh http://www.dostor.org/662491, dengan judul:

سلسلة غارات إسرائيلية وقصف مدفعي على قطاع غزة

Oki Setiana Dewi

Terjamah: Serangkaian Serangan Israel dan Pemboman Artileri di Jalur Gaza

Anda juga bisa cek foto aslinya di http://bit.ly/1QVKs75, http://bit.ly/1rH23uS dan http://bit.ly/1WThqfs.

Berita sebenarnya: Serangan Israel di Jalur Gaza. Tapi fitnah beritanya: Rezim Asad memboom Aleppo. Anda bisa cek gambar Hoax ini di Fanpage Aceh Chanel. Hati-hati dengan Fanpage ini. Mengajak rusuh pembacanya terus. Ini linknya jika belum dihapus: http://bit.ly/24DWKhu

Sekarang fitnah banyak bertebaran tinggal kita memilah. Jika ingin cek gambar asli sebuah foto, coba pakai laptop atau pc buka pakai browser chrome, klik kanan, pilih "telusuri google untuk gambar". Nanti akan ketemu hasilnya. [Oki Setiana Dewi/ab] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/naudzubillah-gambar-hoax-boom-aleppo.html

Rabu, 15 September 2010

Mengulas Kehebatan Shalawat Nabi

Oki Setiana Dewi - Bulan Rabi'ul Awwal selalu memberi kesan yang tidak dapat digambarkan dengan pensil warna. Saking mulianya bulan ini, orang muslim selalu menyebutnya sebagai bulan Nabi. Karena di bulan itulah Sang Rasul dilahirkan sehingga orang Jawa menyebut sebagai wulan mulud (berasal dari kata maulid yang berarti bulan kelahiran Nabi).

Do'a dan kalimat pujaan pada Nabi disebut sebagai shalawat. Dan itulah yang membuat identitas dimana seorang muslim itu berkhidmah dan berdo'a tawassul pada Nabinya.

Pernah suatu saat saya mengisi pengajian ditanya oleh seorang Ibu. "Ustadz, ada banyak nama shalawat Nabi, saya jadi bingung. Shalawat apa yang paling benar dan sesuai ajaran Islam?" demikian pertanyaan itu disampaikan.

Mengulas Kehebatan Shalawat Nabi - Oki Setiana Dewi
Mengulas Kehebatan Shalawat Nabi - Oki Setiana Dewi


Mengulas Kehebatan Shalawat Nabi

Susah dijawab memang pertanyaan itu tetapi harus dijelaskan. Yang jelas memang banyak sekali nama-nama shalawat yang ada.

Oki Setiana Dewi

Sama halnya dengan lagu-lagu cinta di Indonesia juga banyak sekali lirik lagu, banyak pengarang, banyak penyanyi dengan penggemar yang berbeda-beda.

Yang pasti semua shalawat itu baik dan untuk do'a harapan pada Allah Subhanahu Wata'ala. Salah satu kehebatan shalawat sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dari Umar bin Khattah bahwa do'a manusia kepada Allah akan menggantung jika belum ditambah dengan bacaan shalawat.

Oki Setiana Dewi

Begitu hebatnya shalawat itu yang menjadi wasilah bagi terkabulkan do'a hamba bagi Tuhannya. Diantara nama-nama shalawat yang masyhur adalah shalawat: Ghazali, Nariyah, Munjiyat, Hajjiyah, Quthbul Aqthab, Fatih, Nurudzati, Nurul Qalbi, Tibbul Qulub, Syifa', Litausi'il Arzaq, Kamaliat dan lainnya.

Masing-masing shalawat ini memiliki keutamaan. Misalnya shalawat Ghazali ketika dibaca akan menghilangkan pikiran sedih, gelisah menjadi tentram dan dikabulkan hajatnya.

Adapun shalawat Nariyah jika rajin dibaca akan mendapatkan berkah: rejeki lancar, dilepaskan dari segala kesusahan, usaha gampang, dijauhkan dari bencana dan tercapai segala cita-citanya. Selamat bershalawat. [Oki Setiana Dewi]

M. Rikza Chamami, dosen UIN Walisongo

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/12/mengulas-kehebatan-shalawat-nabi.html

Sabtu, 12 Desember 2009

Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal

Oki Setiana Dewi - Beredar foto yang mencomot Tempo serta Metro TV dimana Ahok dalam judul berita ditulis menyatakan "Jika Kami Menang Gereja di Jakarta Harus Lebih Besar dari Istiqlal | Target Anggaran Rp. 5 T Untuk Gereja". Judul itu dinisbatkan kepada Koran Tempo, tanpa keterangan tanggal dan tahun berapa berita itu ditulis.

Metro TV pun dicomot dalam gambar broadcast tersebut dengan catatan caption berita "Ahok: Saya Ingin Jakarta Punya Gereja Seluas Vatikan Roma Bebas Masuk Untuk Semua Agama". Running teks Metro TV juga ditulis seolah senada dengan catatan berita yang sedang tayang, "Ahok mengaku jika menang di Pilgub DKI 2017 Akan Bangun Gereja Besar di Jakarta Pusat".

Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal - Oki Setiana Dewi
Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal - Oki Setiana Dewi


Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal

Bagi masyarakat awam, dua berita dari dua media yang dikliping dalam bentuk gambar dengan keterangan singkat tersebut akan menggiring orang untuk membenci. Seolah-olah judul berita itu memang ada dan fakta.

Padahal, dari segi konten, pernyataan itu justru akan membuat blunder Ahok jika dimuat di media yang bebas diakses oleh semua orang. Ia akan memperkeruh suasana jelang Pilkada pastinya. Ini menunjukkan kalau kebenaran kliping gambar judul berita dari dua media di atas sangat lemah kuadrat.

Oki Setiana Dewi

Penyebar foto di grup-grup WhatsApp, ketika diminta Oki Setiana Dewi untuk mencari link sumber, tidak ada yang bisa menjawab. Akhirnya, redaksi melakukan Googling dengan kata kunci pas sesuai judul berita "Jika Kami Menang Gereja di Jakarta Harus Lebih Besar dari Istiqlal".

Ternyata situs Tempo tidak ada yang memuat judul di atas. Metro TV juga tidak memuat judul tersebut. Yang ditemukan justru situs Kompas, Detik dan Viva. Tapi tidak ada judul berita sebagaimana ucapan Ahok. Itupun judul beritanya "Gereja Raksasa Berdiri Megah di Kemayoran", dimuat Detikcom tahun 2009.

Jika screenshoot kliping gambar berita itu di-zoom lebih lebar, Anda akan menemukan kalau gambar broadcast tersebut adalah editan. Terlihat ada ketidakserasian dalam teknik menempel antar gambar.

Oki Setiana Dewi

Jika sumber link berita tidak ada, analisis konten juga lemah, ditambah teknik tempel klipingnya yang tidak menemukan keserasian warna dan batas margin pas, maka, sudah bisa dipastikan kalau gambar itu adalah a-faktual, tidak merujuk fakta manapun, hoax.

Setelah doa Mbah Moen dimanipulasi, kini tim pasangan yang menggunakan isu agama juga main di wilayah hoax gambar tanpa referensi. Jika benar Ahok menyatakan demikian, bisa dibilang dia sableng kuadrat.

Untuk melengkapi keterangan, silakan Anda unduh gambar yang diulas editorial Oki Setiana Dewi ini pada link Google Docs redaksi DI, di bawah. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/sableng-kuadrat-jika-benar-ahok-bilang-akan-bangun-gereja-tandingi-istiqlal.html

Selasa, 03 Juni 2008

Sambut Hari Guru Nasional, FKIP UNU Sidoarjo Gelar Seminar Nasional

Sidoarjo, Oki Setiana Dewi. Dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univesitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sidoarjo, Jawa Timur menggelar Seminar Nasional yang bertemakan "Bosting up Brain Capacity and Creativity in a Brain New World."

Dekan FKIP Nurul Aini menjelaskan, acara tersebut merupakan hasil kerja sama FKIP UNU Sidoarjo dengan Buzan Center Indonesia. Ade Julius Rizky International Mind and Brain Management Trainer dihadirkan sebagai pemateri.

Sambut Hari Guru Nasional, FKIP UNU Sidoarjo Gelar Seminar Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Guru Nasional, FKIP UNU Sidoarjo Gelar Seminar Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)


Sambut Hari Guru Nasional, FKIP UNU Sidoarjo Gelar Seminar Nasional

Menurut Dekan yang akrab disapa Bu Aan itu materi Mind Mapping (pemetaan berpikir) yang disampaikan Ade Julius Rizky sangat dibutuhkan mahasiswa FKIP. Penggunaan Mind Mapping dipercaya dapat membantu mempermudah penyampaian materi pembelajaran karena memaksimalkan brain management (pengelolaan kemampuan otak). Selain itu, Mental Literacy juga diharapkan menjadi prinsip hidup mahasiswa.

Oki Setiana Dewi

"Metode Mind Mapping yang dipaparkan Bapak Ade Julius menekankan pada optimalisasi Brain Management dan Mental Literacy yang baik untuk diterapkan dalam dunia edukasi," ujar Bu Aan saat ditemui usai acara di Hall Rohmatul Ummah UNU Sidoarjo, Rabu (23/11).

Oki Setiana Dewi

Senada dengan Dekan FKIP, Rektor UNU Sidoarjo Fatkul Anam menambahkan, selain untuk memperingati Hari Guru seminar tersebut bertujuan untuk mempersiapkan dan membekali mahasiswa FKIP UNU agar menjadi lulusan yang unggul dan mampu bersaing di dunia pendidikan. "Seminar ini memberi bekal kepada mahasiswa (FKIP) calon guru agar kelak menjadi lulusan UNU Sidoarjo yang unggul," ungkapnya.

Ketua PCNU terpilih, H Mskhun yang hadir di acara itu dalam sambutannya menyampaikan, keberadaan UNU Sidoarjo diharapkan menjadi jawaban bahwa pendidikan NU yang selama ini kurang bisa bersaing berubah menjadi maju karena memiliki berbagai disiplin ilmu dan kompetensi. Hal tersebut dilihat dari jurusan yang ada di UNU Sidoarjo, tidak ada jurusan ilmu agama. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73179/sambut-hari-guru-nasional-fkip-unu-sidoarjo-gelar-seminar-nasional

Oki Setiana Dewi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Oki Setiana Dewi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Oki Setiana Dewi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Oki Setiana Dewi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock