Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2016

Kisah Percobaan Pembunuhan terhadap Rasulullah

Selama masa dakwah, ujian seakan tak ingin berhenti menghampiri Rasulullah SAW. Sebuah percobaan pembunuhan pernah menyasar dirinya ketika hendak berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Para kaum musyrikin pernah berembuk dalam sebuah tempat pertemuan (darun nadwah) tentang rencana menghabisi nyawa Nabi Muhammad. Mereka mengumumkan hadiah mewah bagi siapapun yang berhasil menggorok leher Nabi. Kelompok anti-tauhid ini menjanjikan seratus unta merah berbiji mata hitam (terbaik dan termahal) untuk orang yang sanggup menyerahkan tubuh atau kepala Nabi.

Kisah Percobaan Pembunuhan terhadap Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Percobaan Pembunuhan terhadap Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)


Kisah Percobaan Pembunuhan terhadap Rasulullah

Suraqah ibn Malik. Dialah orang pertama kali berdiri dan menyanggupi sayembara jahat tersebut. Ia tidak menyia-nyiakan waktu. Suraqah meloncat ke atas kudanya dan mengejar perjalanan Nabi.

Suraqah beruntung. Usaha kerasnya mengantarkannya tepat di belakang Rasulullah. Bersama untanya Rasulullah tetap tampak tenang. Namun, dalam kondisi itu Suraqah justru menghunus padang dan langsung menyabetkannya ke arah kepala Nabi.

Oki Setiana Dewi

Blessss..!

Dalam al-Aqthaf ad-Daniyyah f Idlhi Mawidh al-Ushfriyah dijelaskan, bumi saat itu tunduk kepada perintah Nabi. Tiba-tiba saja kaki kuda Suroqah ambles ke dalam tanah hingga lutut. Pedang pun gagal menyentuh kulit Nabi.

Oki Setiana Dewi

Suraqah hanya bisa mengeluh dan meminta pertolongan. Rasulullah, si korban percobaan pembunuhan itu, tanpa rasa sungkan menyelamatkannya. Hingga akhirnya Nabi meneruskan perjalanan hijrahnya seperti biasa.

Suraqah secara fisik memang selamat, tapi syahwat untuk mendapatkan hadiah sayembara yang melimpah ternyata menyesatan jalan pikirannya. Selang beberapa saat, ia kembali membuntuti Rasulullah dan mengulangi perbuatan kejinya. Kuda berpacu dan, sekali lagi, pedang siap dihantamkan.

Blessss...!

Kali ini kaki kuda Suraqah terhisap bumi lebih dalam lagi, hingga mencapai perut. Lagi-lagi, Suraqah memohon ampun dan perlindungan Rasulullah. Ia bersumpah tak akan mengulangi tindakan jahatnya. Mendengar hal itu, Rasulullah memaafkan dan mendoakannya.

Suraqah turun dari tunggangannya dan duduk di depan unta Rasulullah. Wahai Rasulullah, jelaskanlah padaku tentang Tuhanmu yang memiliki kekuatan yang sedemikian rupa. Apakah Dia terbuat dari emas? Atau dari perak?

Nabi menunduk sembari diam cukup lama. Lantas Malaikat Jibril datang kepada Nabi dan membacakan surat al-Ikhlas ayat 1-4 dan as-Syura ayat 11.

Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang Islam, pinta Suraqah.

Rasulullah memberitahunya hingga Suraqah masuk Islam. Kini Suraqah mendapatkan hadiah yang belum pernah ia bayangkan: menyaksikan teladan manusia suci yang bersih dari rasa dendam, dan memasuki dunia baru yang sarat nilai ketuhanan sebagai seorang muslim. (Mahbib)

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52091/kisah-percobaan-pembunuhan-terhadap-rasulullah

Oki Setiana Dewi

Jumat, 25 Maret 2016

Al Wala wal Bara, Kritik Terhadap Dakwah Islam Radikal

Oki Setiana Dewi - Ada sebuah istilah baru yang lagi ngetrend yaitu Al Wala’ wal Baro’ yang mana istilah ini dan juga istilah trilogi tauhid tidak dikenal di zaman sahabat ataupun pada zaman salafus sholih maupun di kalangan ulama terdahulu seperti Imam Nawawi, Imam Suyuthi dan para ulama dunia yang lain.

Al Wala wal Bara, Kritik Terhadap Dakwah Islam Radikal
Al Wala wal Bara, Kritik Terhadap Dakwah Islam Radikal


Wala’ secara bahasa artinya adalah dekat, menolong, mencintai dan lain-lain. Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah mencintai dan menolong sesama muslim yang tidak berbuat kesyirikan atau kemaksiatan.

Padahal sangat jelas sekali bahwa Rasulullah tidak mengkhawatirkan ummatnya berbuat syirik, namun muncul golongan yang merasa lebih bertauhid dari Rasulullah dan gemar mensyirikkan umat Rasulullah.

Baro’ secara bahasa adalah berlepas diri, dan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah berlepas diri dari orang kafir atau muslim yang berbuat kesyirikan dan kemaksiatan. Yaitu dengan tidak mencintai atau membantu mereka.

Namun istilah ini ternyata bukan sekedar istilah biasa, karena terjadi ajakan pertumpahan darah, permusuhan, pengafiran, serta tuduhan syirik kepada golongan yang berbeda atas nama al Wala’ wal Baro’. Bukankah kita sudah pernah mendengar ajakan untuk memusuhi dan menghajar golongan yang berbeda pendapat atas nama al Wala’ wal Baro’.

Sebetulnya konsep seperti ini sudah lama dikenal oleh para ulama ahlussunnah wal jamaah dengan nama Alhubbu fillah wal bughdhu fillah (cinta karena Allah dan benci karena Allah), namun dibawakan lagi dengan istilah dan pemahaman yang berbeda oleh golongan tertentu.

Bagaimana seharusnya kita bersikap kepada sesama muslim? Sikap kita kepada sesama muslim adalah saling tolong menolong, mencintai dan memperlakukannya bagaikan saudara.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10).

Juga disebutkan didalam hadits “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menggenggam jari-jemarinya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan di dalam hadits yang lain beliau bersabda "Tidak beriman seorang muslim hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya" (HR Bukhari).

Lalu bagaimana sikap kita dengan muslim yang lain, seperti pelaku maksiat atau ahli bid’ah. Sikap kita terbaik kepada mereka adalah berlepas dari perbuatannya, bukan dari pelakunya. Karena sejatinya, siapapun yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dia adalah saudara kita dalam keimanan, sekalipun dia pelaku maksiat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Asy-Syu’ara’: 214-216)

Di dalam Al Quran dinyatakan, berlepas diri dari perbuatan mereka, bukan berlepas diri dari pribadi mereka.

Begitu pula diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwasanya suatu ketika Khalid bin Walid RA berbuat sebuah kesalahan, dan Rasulullah mendengarnya lalu berkata “Ya Allah sesungguhnya aku berlepas diri dari perbuatan Khalid.” Beliau tidak berkata berlepas diri dari Khalid, akan tetapi beliau mengatakan berlepas diri dari perbuatan Khalid.

Benarkah kita berlepas diri dari non muslim dengan memusuhi mereka? Sangat banyak sekali ayat qur’an, hadits, bahkan suri tauladan dari sahabat dan generasi salaf yang mengajarkan kita untuk bersikap baik kepada non muslim. Kiranya akan terlalu panjang apabila diuraikan semuanya dalam tulisan ini maka cukuplah salah satu firman Allah dalam suratnya memberikan penjelasan kepada kita.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (yang dimaksud adalah orang kafir) yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah: 8).

Kesimpulannya adalah kita harus mencintai dan mengasihi setiap kaum muslimin, bahkan pelaku maksiat pun tetap kita perlakukan sebagai saudara dan hanya perbuatan maksiatnya yang boleh kita benci.

Dewasalah dalam menyikapi perbedaan diantara mereka, jauhilah sikap saling memvonis karena itu justru akan menjadikan terpecah belahnya persatuan kaum muslimin.

Sikap kita kepada non muslim adalah menghargai dan tetap berhubungan baik dalam urusan keduniaan dan kita pun haram mengganggu peribadatan mereka.

Dakwah tauhid dan sunnah membawa kedamaian, bukan membawa perpecahan apalagi sampai mengkafirkan. Semoga Allah selalu menyayangi kita semua. [Oki Setiana Dewi]

Join Telegram Channel: bit.ly/UstMuhammad110

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/al-wala-wal-bara-kritik-terhadap-dakwah-islam-radikal.html

Jumat, 15 Januari 2016

Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu

Kediri, Oki Setiana Dewi. Pesantren Al-Falah Ploso adalah lokasi kedua di Kediri yang dikunjungi Tim Kirab Resolusi Jihad 2016, pada Ahad (16/10) pagi. Ketua tim H Isfah Abidal Aziz menyampaikan tujuan kedatangan tim, yakni silaturahmi dan meminta wejangan.

Pengasuh Pesantren Al-Falah KH Nurul Huda Jazuli berkenan memberikan sambutan. Ia menyatakan sangat gembira atas kehadiran tim. Ia berharap perjalanan tim kirab akan membawa barokah, hikmah, faidah, serta makna yang berarti untuk perjuangan para santri pembela akidah ahlusunah wal jamaah.

Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu

Jangan sampai santri dan NU bergeser dari tujuan awal dan ajaran aswaja yang sudah sejak dahulu dipelihara para kiai dan ulama, kata Kiai Nurul Huda.

Oki Setiana Dewi

Menurut Kiai Nurul Huda, saat ini banyak fitnah terhadap NU. Tetapi NU harus tetap dijaga. NU hadir untuk keselamatan dan kelanggengan ajaran aswaja.

Harus pula disadari NU dan santri paling menjadi andalan dalam membantu kondusifitas dunia. Dengan kata lain, keamanan dunia berada di tangan NU dan para santri. Selama NU dan santri belum bergeser dari tujuan awal, insya Allah dunia aman.

Oki Setiana Dewi

Ia mengatakan, seandainya pergeseran itu terjadi, maka akan sangat berbahaya. Karena satu per satu kiai meninggal dunia, santri muda harus bersiap mengambil peran menjadi penerus.

Selanjutnya, antara kiai dan santri harus saling mendukung. Dalam hal ini saling memberi nasihat berlaku baik dari atas (kiai) maupun ke bawah (santri). Tidak perlu lagi hanya kiai yang memberi nasihat, sementara santri diam saja. Sebab santri paling tahu keadaan dan kemajuan terkini. Saran-saran yang memang baik dari santri kepada kiai adalah diperlukan.

Kiai Nurul Huda mengharapkan kekompakan antarkiai. Jangan karena bukan pengurus, lalu tidak mau membangun NU lagi.

Semua itu bertujuan dalam perjuangan mempertahankan NU dengan semboyan li ilai kalimatilah. Semboyan itu menandakan bahwa kita berjuang demi Allah.

Di penghujung sambutan, Kiai Nurul Huda berharap tahun-tahun mendatang, pelaksanaan kirab bisa lebih ditingkatkan dan dipersiapkan lebih baik. Apabila hal itu bisa terlaksana akan menunjukkan kekuatan dan kebesaran NU.

Sambutan kunjungan ke Pesantren Al-Falah Ploso ditutup dengan doa oleh KH Zainudin Jazuli. Tim kemudian meneruskan perjalanan yakni ziarah ke makam KH Ahmad Sidiq dan KH Hamim Jazuli (Gus Miek), untuk selanjutnya ke makam Presiden RI Soekarno di Blitar. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72040/pengasuh-pesantren-ploso-banyak-fitnah-nu-harus-bersatu

Kamis, 20 Agustus 2015

Dilaporkan GP Ansor, Penghina Ulama Ini Kejang-Kejang Terbayang Penjara

Oki Setiana Dewi - Seorang sahabat bercerita kepada saya. Ada teman facebooknya menulis ujaran kebencian kepada seorang ulama. Isinya caci maki. Tentu hal itu mengundang reaksi para pemuda Ansor.

Dilaporkan GP Ansor, Penghina Ulama Ini Kejang-Kejang Terbayang Penjara
Dilaporkan GP Ansor, Penghina Ulama Ini Kejang-Kejang Terbayang Penjara


Si penulis status buruk itu diperingatkan oleh anggota Ansor agar menghapus tulisannya. Ternyata dia menolak dan tetap merasa berhak mencaci si ulama karena menurutnya, si ulama itu orang sesat dan munafik karena dia anggap membela seorang Kristen. Sedangkan menurut dia, Kristen itu kafir yang harus diperangi.

Anggota Ansor yang lain mengingatkan dia agar berhenti mencaci ulama dan meminta maaf. Si penulis status bergeming, tetap merasa benar dan yang salah adalah si ulama. Tak mempan dinasehati, seorang anggota Ansor yang lain lagi memberi ancaman: Tolong hapus tulisanmu, jika tidak, akan kami laporkan ke polisi".

Diancam begitu, si pemuda pengagum Rizieq Shihab itu malah menantang, "silakan laporkan polisi. Saya tidak takut. Polisi itu thoghut, memakai hukum buatan manusia. Hukum Indonesia itu fasiq. Aku hanya takut hukumnya Allah".

Banyak yang gemes dengan sesumbarnya itu, tapi para anggota Ansor tetap tidak mengancam semisal akan memberi "hukuman adat" padanya.

Para anggota Ansor disertai beberapa angota IPNU lantas mendatangi rumah si penulis status. Itu upaya terakhir memberi nasehat. Dengan ditemui langsung diharapkan dia akan berhenti pongah. Ternyata tidak, tetap saja sombong dan menantang semakin kencang. "Silakan laporkan polisi sekarang juga jika kalian tidak terima," ucapnya congkak.

Usai dari rumah si pemuda, para pemuda Ansor langsung ke kantor polisi untuk melapor. Polisi pun memproses laporan tersebut, dan pada hari berikutnya polisi menyampaikan surat panggilan pemeriksaan kepada si pemuda terlapor.

Tak seperti omongannya, si pemuda gemetar begitu mendapat surat panggilan dari polisi. Dia ternyata takut datang ke kantor polisi. Istrinya pun menangis karena melihat suaminya begitu ketakutan akibat terbayang akan di penjara.

Sore itu, si pemuda congkak yang kini lututnya lemes itu lantas membawa anak dan istrinya ke rumah ketua Ansor. Sambil menangis mengiba-iba dia meminta maaf dan meminta agar laporan itu dicabut.

"Mas, Pak, Kang. Tolong kasihani saya. Ini keluarga saya akan menderita jika saya dipenjara. Mohon maafkan saya, status saya sudah saya hapus dan saya berjanji tidak akan mengulangi. Mohon cabut laporan ke polisi itu. Saya sungguh menyesal," katanya sambil menekuk lutut tanpa menyerah.

Sebenarnya para pemuda Ansor gemes padanya. Ingin mereka meniru ucapan orang-orang GNPF MUI dan FPI: "Maafkan sih maafkan, tapi proses hukum jalan terus". Atau bahkan menggerakkan massa untuk mendemo sampai tiga jilid.

Tapi jelas hal itu tidak akan dilakukan. Sahabat-sahabat Ansor itu terlalu lama digembleng ilmu hikmah oleh para kyai, sehingga hati mereka langsung luluh melihat tangisan seorang wanita dan anaknya.

Kasihan kepada istri dan si anak dari pemuda itu, maka dimaafkanlah sang penghina ulama. Ketua Ansor lantas memerintahkan agar mencabut laporan ke polisi. Polisi dinego agar tidak melanjutkan kasus tersebut.

Saya tertawa membayangkan seorang yang congkak tiba-tiba gemetar dipanggil polisi. Hahaha. [Oki Setiana Dewi/ab]

Keterangan: Nama pemuda yang ditulis Ichwan DS di atas off the record redaksi, termasuk tahun kejadian dan tempat kejadian perkara, demi melindungi.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/dilaporkan-gp-ansor-penghina-ulama-ini-kejang-kejang.html

Kamis, 04 Juni 2015

KH Masyhuri Malik: Jaga Warisan para Pendiri NU

Jombang, Oki Setiana Dewi. Setelah menjalani masa Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) selama beberapa hari, para kader mengikuti prosesi baiat atau pengambilan sumpah setia.

PKPNU di Pondok Pesantren Babus Salam, Kalibening, Mojoagung ditutup, Senin (9/3) dini hari. Setelah digembleng dengan sejumlah informasi, antara lain mengenai potensi, kelebihan, kelemahan dan tantangan NU masa mendatang, para kader diharapkan dapat menjadi pionir bagi perjalanan NU ke depan.

KH Masyhuri Malik: Jaga Warisan para Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masyhuri Malik: Jaga Warisan para Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Masyhuri Malik: Jaga Warisan para Pendiri NU

Hal tersebut antara lain yang disampaikan oleh Ketua Pelaksana Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik saat memberikan pengarahan pada penutupan PKPNU di Jombang itu.

Oki Setiana Dewi

Di hadapan 48 peserta, KH Masyhuri Malik kembali mengingatkan bahwa para ulama khususnya pendiri NU telah berjuang menyelamatkan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Para ulama juga telah mewariskan ajaran Islam yang bisa diterapkan di tanah air. Menjaga dan mengawal NKRI adalah sama dengan menjaga keberadaan NU, tandasnya.

Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali para peserta memegang teguh apa yang telah diwariskan para pendiri jamiyah ini. Dan menjaga warisan para ulama tersebut bisa dilakukan dengan menjadi pengurus formal NU ataupun sebagai anggota biasa, terangnya.

Oki Setiana Dewi

Kiai Masyhuri berpesan kepada peserta yang tidak hanya berasal dari Jombang, juga Kediri, Lamongan, Nganjuk serta Gresik ini untuk terus menjaga soliditas serta senantiasa berkhidmat kepada NU. Bentuknya bisa dengan berperan aktif dalam kegiatan di komunitas setempat atau bersinergi dengan kepengurusan yang ada.

Syamsul Rijal dari PCNU Jombang menandaskan bahwa menjadi peserta PKPNU adalah kesempatan yang istimewa. Karenanya mohon usai mengikuti kegiatan ini, sejumlah kegiatan yang bisa dilakukan sebagai program nyata dapat segera dilakukan, katanya.

Intensitas komunikasi juga hendaknya dapat dilakukan sesama angkatan pelatihan baik mereka yang berdomisili di Jombang serta kota lain, lanjutnya.

Penutupan PKPNU dilakukan dengan pengukuhan dan baiat atau pengambilan sumpah setia yang diikuti oleh seluruh peserta. Baiat dipimpin langsung oleh KH Masyhuri Malik didampingi dua instruktur kaderisasi dari PBNU H Abdul Munim DZ dan Amir Maruf. (Syaifullah/Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58167/kh-masyhuri-malik-jaga-warisan-para-pendiri-nu

Oki Setiana Dewi

Kamis, 23 April 2015

PMII Gelar Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus

Serang, Oki Setiana Dewi. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Pelatihan Nasional Kader Penggerak Dakwah Kampus yang diselenggarakan PB PMII bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sultan Agung Tirtayasa, di Serang, Banten, Ahad (1/7) kemarin.

Ketua Bidang Keagamaan PB PMII Abdul Aziz mengatakan, PMII mengajak para dai untuk mendawahkan kedamaian dan pentingnya akhlaqul karimah. PMII menyerukan para dai tidak hanya berdakwah dengan lisan, tetapi juga dakwah sikap.

PMII Gelar Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Gelar Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Gelar Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus

Penguatan spiritual dan moralitas sangat penting. Banyak problem bangsa terjadi karena dekadensi moral, ujarnya di sela pelatihan tersebut.

Oki Setiana Dewi

Dalam berdakwah, sambung Abdul Aziz, PMII siap menjadi garda terdepan mendakwahkan nilai nilai Aswaja dan keindonesiaan. PMII tetap menerima modernitas, tetapi kader PMII juga harus menjaga nilai-nilai Islam yang sesuai dengan tradisi lokal, imbuhnya.

Sementara Ketua Pelaksana Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus, Ahmad Miftahul Karomah mengungkapkan, pelatihan tersebut sengaja digelar di Banten untuk menghormati genealogi Syekh Nawawi Al-Bantani, yang merupakan ulama ternama dunia, yang berasal dari Banten.

Oki Setiana Dewi

Tradisi Islam Indonesia merupakan keberhasilan Walisongo dan para ulama lampau dalam menyebarkan dakwah yang damai. Termasuk di dalamnya adalah Syekh Nawawi. Kita harus ikuti jejak beliau, kata Ahmad.

Pelatihan bertema menggerakkan Nilai-nilai Islam Indonesia ini berlangsung dari Kamis (28/6) hingga Senin (2/7). Pembukaan dan stadium general dilaksanakan di auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, kemudian pelatihan dilaksanakan di Pondok Pesantren Bismillah, Ciomas, Kabupaten Serang. Pelatihan ini diikuti delegasi 38 kampus di seluruh Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis : Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38607/pmii-gelar-pelatihan-kader-penggerak-dakwah-kampus

Oki Setiana Dewi

Minggu, 05 Mei 2013

KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya

Oki Setiana Dewi - Habib Husain Al Aydrus Pethekan, Semarang, sampai usia 60-an tahun masih saja sendiri, alias belum menikah. Sampai kemudian pada sekitar tahun 1985-an, Habib Husain menghadiri undangan akad nikah kakak tertua KH. Muhajir Madad Salim, Demak, Jawa Tengah.

KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya
KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya


KH Maimoen Zubair Sarang yang masih kerabat dekat mempelai perempuan kemudian memberikan mauidhoh hasanah. Di antara isi ceramah itu adalah:

"Sepasang pengantin itu, kalau sudah didudukkan berdampingan begini, jangan dikira cuma dilihat banyak orang di alam dunia saja. Sepasang pengantin nanti di akhirat juga akan didudukkan berdampingan, bersama-sama masuk ke dalam surga," ujar Mbah Moen.

Hanya istri dari alam dunia saja yang bisa mendampinginya duduk di bangsal kencana di surga suaminya nanti. Sedangkan bidadari, mereka tidak. "Istri itu ibarat makanan pokok," lanjut Kiai Maimoen, "sedangkan bidadari cuma snack. Kalau dia butuh bidadari, maka bidadari baru dapat melayani. Jika tidak butuh, maka bidadari tidak bisa dekat-dekat dengannya," terangnya.

Jadi, orang-orang yang meninggal dunia sampai belum sempat menikah, maka keadaan mereka tidak sama dengan yang sudah menikah. "Bidadari itu ibarat jajan-jajanan. Kamu kok sama sekali tidak makan nasi, dan hanya makan jajanan-jajanan saja, maka tidak bisa kenyang. Perut malah bisa kembung," hadirin tertawa.

Mendengar petuah Mbah Moen itu, ketika pulang resepsi, Habib Husain langsung menikah. Ia menikah dalam usia setua itu karena takut kalau nanti di surga dirinya malah cuma dapat kembungnya saja, seperti dawuhnya Mbah Moen tersebut.

Kurang dari dua tahun setelah itu, Habib Husain wafat dalam keadaan sempurna alias sudah beristri di dunia. Harapannya tentu agar tidak sakit kembung di surga nantinya.

Nah, Anda yang masih ada kesempatan, masih muda, mampu memberikan nafkah lahir batin namun belum berpasangan, segeralah menikah. Niatkan mencari istri dunia akhirat. Soal dapat bidadari-bidadari, itu adalah bonus jika Anda tidak melakukan bom bunuh diri atas nama jihad konyol.

Jika belum menikah dalam keadaan jomblo sempurna, belum sempat berkeluarga, maka Anda akan seperti orang yang hanya mendapatkan bonusannya saja namun tidak mendapatkan hadiah utama. Yang membaca postingan akan mendapatkan jodoh secepatnya. Bagi yang menyebarkannya, cepat dijemput sang jodoh nya. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/kh-maimoen-zubair-jika-istri-adalah-nasi-bidadari-snacknya.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Oki Setiana Dewi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Oki Setiana Dewi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Oki Setiana Dewi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock