Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2014

Harlah ke-53, PMII Jatim Gelar Lomba Karya Tulis

Surabaya, Oki Setiana Dewi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Koordinator Cabang Jawa Timur punya cara tersendiri dalam menyerap aspirasi dan pandangan generasi muda. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI).

Kegiatan ini ternyata mendapat apresiasi cukup membanggakan dari sejumlah aktifis mahasiswa. Setidaknya ada enam puluh makalah yang kami terima, kata Ketua Panitia, Abdul Hady JM kepada Oki Setiana Dewi, Selasa (16/4).

Harlah ke-53, PMII Jatim Gelar Lomba Karya Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-53, PMII Jatim Gelar Lomba Karya Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)


Harlah ke-53, PMII Jatim Gelar Lomba Karya Tulis

Dari naskah yang ada selanjutnya dilakukan seleksi sehingga mengerucut menjadi sepuluh makalah. Sepuluh makalah itu akan dipresentasikan besok (17/4) di hadapan sejumlah dewan juri, terangnya.

Oki Setiana Dewi

Mereka yang bisa meyakinkan dewan juri akan meraih juara I, II, III serta harapan satu hingga tiga. Sedangkan dewan juri yang akan mengupas lebih dalam pandangan para pemakalah Prof Muhammad Ali Aziz (Guru Besar IAIN Sunan Ampel), Masdarul Khoiri (Kepala Biro Sindo Jatim), Faza Dhora Nailufar (Kepala Laboratorium Politik Universitas Brawijaya), serta DR HM Zamzami, Lc (Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya). Lokasi acara adalah ruangan Salsabila Kantor PWNU Jawa Timur, Jalan Masjid Al-Akbar Timur No. 9 Surabaya.

Tema besar yang diangkat pada lomba ini adalah Jawa Timur di Mata Mahasiswa: Problem dan Solusinya, dengan sub tema: Jawa Timur dalam bingkai Kerukunan Agama, Jawa Timur dalam Perspektif Sosial Politik, Jawa Timur dalam Perspektif Sosial Budaya serta Jawa Timur dalam Perspektif Pendidikan.

Oki Setiana Dewi

Masing-masing makalah telah memberikan sudut pandang yang cukup beragam dan jitu dalam melihat persoalan, ungkapnya. Hanya saja, apakah solusi yang ditawarkan itu realistis atau justru tidak tuntas, itulah yang akan dicarikan jawabannya saat presentasi tersebut.

Kita ingin budaya argumentatif dan solusi cerdas menjadi bagian dari gerak dan konsentrasi mahasiswa, katanya. Kalau ini sudah menjadi budaya, pada saatnya kelak mereka akan memberikan sumbangsih saran yang bertanggungjawab bagi masa depan bangsa, lanjutnya.

Kegiatan LKTI akan memperebutkan total hadial Rp. 16.500.000,-, termasuk tropy dan piagam.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43812/harlah-ke-53-pmii-jatim-gelar-lomba-karya-tulis

Oki Setiana Dewi

Senin, 08 Desember 2014

Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya

Oki Setiana Dewi - Sastrawan WS Rendra telah meninggal tahun 2009 lalu (semoga Alloh merahmatinya). Namun sebelum meninggal dan saat terbaring sakit, beliau sempat menulis sebuah puisi.

Puisi ini sangat dalam maknanya. Bahwa sesungguhnya hidup ini adalah amanah, dan apa yang ada pada diri kita adalah titipan semata. Maka tidak boleh ada yang disombongkan sedikitpun dari kita, karena semua itu hanyalah titipan. Yang suatu saat akan diambil kembali oleh Nya. Hanya saja kita tidak pernah tahu, kapan Dia akan mengambilnya.

Puisi ini juga mengingatkan akan pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian. Seperti sabda Nabi “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yakni kematian”.[HR. At-Tirmidziy (no. 2307), An-Nasa'iy (1824) dan Ibnu Majah (no. 4258). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (no. 682)].

Al-Imam Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata, “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menyerupakan segala kelezatan yang fana dan segala keinginan duniawi dan kehancurannya dengan sebuah bangunan yang menjulang. Bangunan itu akan runtuh oleh berbagai goncangan hebat. Lalu Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang terlena dengan dunia untuk mengingat penghancur kelezatan tersebut (yakni, maut) agar ia tak terus-menerus condong kepadanya, (sehingga) ia pun menyibukkan diri dengan sesuatu yang wajib atas dirinya berupa penghadapan diri kepada kampung abadi (yaitu, akhirat)”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/92)]

Berikut adalah puisi terakhir dari WS Rendra, semoga bisa menjadi renungan dan peringatan:

Hidup itu seperti uap,

yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap!

Ketika orang memuji milikku,

aku berkata bahwa ini hanya titipan saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-Nya,

Bahwa rumahku adalah titipan-Nya,

Bahwa hartaku adalah titipan-Nya,

Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-Nya ...

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,

"Mengapa Dia menitipkannya kepadaku?"

"Untuk apa Dia menitipkan semuanya kepadaku?"

Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-Nya ini?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? Malahan ketika diminta kembali,

kusebut itu musibah,

kusebut itu ujian,

kusebut itu petaka,

kusebut itu apa saja ...

Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah derita ...

Ketika aku berdo'a, kuminta titipan yang cocok dengan kebutuhan duniawi,

Aku ingin lebih banyak harta,

Aku ingin lebih banyak mobil,

Aku ingin lebih banyak rumah,

Aku ingin lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,

Seolah semua derita adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih-Nya, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,

Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku ... Betapa curangnya aku,

Kuperlakukan Dia seolah "Mitra Dagang" ku dan bukan sebagai "Kekasih"!

Kuminta DIA membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginanku ...

Duh Allah ...

Padahal setiap hari kuucapkan,

“Hidup dan Matiku, Hanyalah untukMu ya Allah, ampuni aku, ya Allah ... Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakmu saja ya Allah ...

Sebab aku yakin Engkau akan memberikan anugerah dalam hidupku .. Kehendakmu adalah yang terbaik bagiku ...

Semoga manfaat

Sahabatmu...

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/puisi-terakhir-ws-rendra-bikin-merinding-baca-wasiatnya.html

Senin, 10 November 2014

Palestina Hilang dari Peta Maps, PBNU Ancam Google Indonesia

Oki Setiana Dewi – Perusahaan mesin pencari Google telah menghilangkan peta negara Palestina dari Google Map, yakni pemetaan lokasi berbasis online yang biasa digunakan netizen untuk melakukan penelusuran alamat di dunia maya.

Palestina Hilang dari Peta Maps, PBNU Ancam Google Indonesia
Palestina Hilang dari Peta Maps, PBNU Ancam Google Indonesia


Atas sikap tersebut, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siraj melakukan protes keras. Jika tidak, PBNU akan melakukan perlawanan. "Kalau tidak dikembalikan, akan kami lawan," kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj di Jakarta, Kamis (11/8/2016).

Alumnus perguruan tinggi di Mekkah, Arab Saudi, itu juga mendesak agar peta negara Palestina segera dikembalikan karena sudah diakui oleh PBB. "Harus segera dikembalikan (peta) itu," tegasnya.

Sekjend PBNU Helmy Faisal juga menyayangkan penghapusan negara Palestina dari Google Maps. “Kita akan menyatakan nota protes itu kepada Google Indonesia,” Terang Helmy.

Sikap tersebut perlu dipertegas karena Palestina memiliki kedaulatan sebagaimana negara-negara lain di dunia. Kalau Palestina dihilangkan, Israil lebih pantas dihilangkan dari muka bumi.

Jangan sampai sejarah Palestina hilang hanya karena perusahaan Google melakukan hal yang tidak ia sukai, sebagaimana hilangnya beberapa peran tokoh NU dalam perjuangan kemerdekaan.

Menurut Kiai Said, sejarah NU di buku-buku akademik telah dihilangkan karena ada pengelabuan pihak-pihak tertentu, antara lain hilangnya nama Harun, orang yang yang meletakkan bom di mobil panglima Inggris Mallaby. Ia tewas pada November 1945. Harun, kata Kiai Said, adalah tokoh NU yang hilang dari peta sejarah. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/palestina-hilang-dari-peta-maps-pbnu-ancam-google-indonesia.html

Minggu, 04 Mei 2014

D. Zawawi Imron: Cinta Kita untuk Radhar

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Beberapa lembaga dan komunitas menggelar doa dan penggalangan untuk penyair dan budayawan yang sedang sakit, Radhar Panca Dahana. Sejak dua minggu lalu, ia dirawat di RSCM, Jakarta.

Acara Cinta Kita untuk Radar akan digelar di The Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah, Matraman, Jakarta, nanti malam (21/3) dari pukul 19.30-21.30.

Judul Cinta Kita untuk Radhar diberikan oleh sahabat Radhar, D. Zawawi Imron. Sebelum Zawawi mengasih judul, panitia memberikan judul Cinta Zawawi untuk Radar, tapi penyair dariMadura itu menolak.

D. Zawawi Imron: Cinta Kita untuk Radhar (Sumber Gambar : Nu Online)
D. Zawawi Imron: Cinta Kita untuk Radhar (Sumber Gambar : Nu Online)


D. Zawawi Imron: Cinta Kita untuk Radhar

"Saya tidak kuat mencintai orang hebat sendirian. Ganti saja dengan Cinta Kita untuk Radhar," begitu kata penyair berjulu Clurit Emas, via telepon kemarin (21/3) sore.

Marthin Sinaga, salah satu penggagas acara tersebut, menyebutkan bahwa penyair sepuh D. Zawawi Imron akan membacakan beberapa puisi yang disukai oleh Radhar, juga penyair Faisal Kamandobat dan masih banyak lagi.

Radhar yang dilahirkan di Jakarta 26 Maret 1965 menderita sakit komplikasi, di antaranya gagal ginjal. Sudah 12 tahun yang lalu ia menjalani cuci darah.

Penulis: Hamzah Sahal

Oki Setiana Dewi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43224/d-zawawi-imron-cinta-kita-untuk-radhar

Oki Setiana Dewi

Oki Setiana Dewi

Kamis, 02 Januari 2014

Agar Tetap Bisa Berjanjenan, Ini Siasat Cerdik NU Mojokerto Pada Zaman Sheikerei Jepang

Oki Setiana Dewi - Kemampuan adaptasi NU dalam menghadapi situasi diuji ketika Jepang datang. Dalam waktu singkat penguasa Jepang memberangus organisasi dan partai politik yang ada. Rapat-rapat umum yang dihadiri banyak orang dilarang. Pada posisi inilah kemudian Mbah Wahab mengeluarkan Mabadi Nasrillah.

Agar Tetap Bisa Berjanjenan, Ini Siasat Cerdik NU Mojokerto Pada Zaman Sheikerei Jepang
Agar Tetap Bisa Berjanjenan, Ini Siasat Cerdik NU Mojokerto Pada Zaman Sheikerei Jepang


Dua tokoh penting NU, Mbah Hasyim dan KH Mahfudz Shiddiq yang menjabat Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah HB NO ditangkap. Beliau dianggap menentang kegiatan Sheikerei yaitu membungkuk ke arah Tokyo pada pagi hari. Sheikerei bagi Mbah Hasyim merupakan perbuatan menyekutukan Allah. Mbah Hasyim dan KH Mahfudz dipenjara dan disiksa.

Melihat kondisi yang tidak menguntungkan itu, Mbah Wahab selaku wakil Rois Am segera bersikap. Bagi Mbah Wahab, pada situasi bagaimanapun organisasi harus tetap berjalan. Maka dikeluarkanlah perintah yang disebut Mabadi Nasrillah. Perintah itu menggunakan bahasa Arab agar tidak dipahami oleh Jepang.

Isi Mabadi Nasrillah adalah : (1) Tazawaru ba'dluhum ba'dlo atau saling mengunjungi satu sama lainnya. (2) Tawashau bil haqqi wa Tawashau bis Shabri, saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran. (3). Taqarrub ilallah yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan segala syarat dan rukunnya.

Menerima perintah tersebut, Kyai Nawawi selaku Rois Syuriah NU Mojokerto berusaha menterjemahkan. Pertama beliau merubah nama NU menjadi lembaga Ahlussunah wal Jamaah. Nama itu dipilih sebagai siasat agar NU tetap bisa bergerak di masyarakat. Kegiatannya diarahkan pada kegiatan ritual yang sudah membudaya seperti terbangan yang membaca barzanji, yasinan, tahlil dan semacamnya. Kegiatan budaya dan olah raga memang tidak dilarang oleh Jepang.

Dengan mengatasnamakan lembaga budaya Ahlussunah wal Jamaah itu Kyai Nawawi leluasa untuk melakukan silaturrahmi. Disela-sela kunjungan pada acara budaya tersebut beliau mengajak untuk tetap bersabar dalam menegakkan kebenaran. Tidak lupa kegiatan berdimensi ubudiyah itu juga dijadikan sarana ber-taqqarub ilallah.

Kecerdikan para ulama itu yang membuat NU tetap hidup di masyarakat Mojokerto. Mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi ala klandestin untuk berkumpul tanpa harus dibubarkan Jepang. Pada akhirnya NU dihidupkan kembali setelah larangan berorganisasi dicabut.

Perintah Mabadi Nasrillah tersebut dikeluarkan pada tahun 1943. Secara organisasi perintah itu berakhir seiring pencabutan larangan berorganisasi dan berpolitik pada tahun 1944. Setelah itu peran NU semakin strategis karena Mbah Hasyim ditunjuk sebagai ketua Syumubu atau departemen agama. Berkat lobby Kyai Wahid, NU juga berhasil mendesak agar pemuda muslim dilatih militer dan dibentuk barisan Hizbullah. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/agar-tetap-bisa-berjenjenan-ini-siasat-cerdik-nu-mojokerto-pada-zaman-jepang.html

Rabu, 08 Mei 2013

IPPNU Lamongan Bentuk Koordinator Pusat Informasi Konseling Remaja

Lamongan, Oki Setiana DewiPimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Kabupaten Lamongan membuat gebrakan baru dengan mengadakan Sosialisasi Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) dan Diskusi Panel bekerja sama dengan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Lamongan dan Aliansi Perempuan Lamongan (APeL).

Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Sabha Nirbawa Pemda Lamongan ini dihadiri 100 orang peserta dari seluruh Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) se-Kabupaten Lamongan. Ada 5 delegasi dari tiap pimpinan anak cabang (PAC). Acara yang berlangsung Ahad (3/4) ini juga dihadiri pengurus PW IPPNU JawaTimur.

IPPNU Lamongan Bentuk Koordinator Pusat Informasi Konseling Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Lamongan Bentuk Koordinator Pusat Informasi Konseling Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)


IPPNU Lamongan Bentuk Koordinator Pusat Informasi Konseling Remaja

Ketua PC IPPNU Kabupaten Lamongan Alifa Puteri Febrianti mengatakan, kegiatan ini terselenggara lantaran melihat pentingnya memahami substansi PIK-R. Harapan besar pasca-sosialisasi ini akan segera dilaksanakan Training of Trainer PIK-R Melati oleh PC IPPNU Kabupaten Lamongan dengan tujuan untuk menjaring trainer-trainer andal dari seluruh PAC IPPNU se-Kabupaten Lamongan, katanya.

Oki Setiana Dewi

Mereka akan mendampingi pengaplikasian materi yang dibahas seperti seksualitas, HIV/AIDS, Napza, dan kesehatan reproduksi remaja. Sehingga saling bersinergi dan dapat terealisasi dengan baik serta menyeluruh dalam menjadikan pelajar putri yang sehat, cerdas, dan hebat, imbuhnya.

Suharto dari BPPKB Kabupaten Lamongan mengatakan, Jawa Timur termasuk provinsi dengan angka tertinggi penggunaan narkotika di tingkat remaja. Terbukti pada tahun 2013 sampai 2015 meningkat drastis hingga tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Maka dengan adanya PIK-R Melati PC IPPNU Kabupaten Lamongan ini menjadi salah satu pendobrak dalam meminimalisir angka penggunaan narkotika di Kabupaten Lamongan, jelasnya.

Oki Setiana Dewi

Sementara Anis dari Aliansi Perempuan Lamongan menyampaikan tentang pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas bagi komunitas Muslim. Menurutnya, hal-hal yang dianggap tabu dalam masyarakat ataupun kalangan remaja harus segera dipecahkan agar mendapatkan solusi yang tepat dalam menghadapi berbagai masalah baik fisik, mental dan sosial.

Oleh karena itu, Lembaga Konseling Pelajar PC IPPNU Kabupaten Lamongan yang dikoordinatori oleh Rekanita Ummul Asma berharap kegiatan ini dapat terlaksana secara menyeluruh hingga ke pimpinan anak cabang (PAC), pimpinan ranting (PR), dan pimpinan komisariat (PK) se-Kabupaten Lamongan. Antusiasme peserta dalam mengikuti jalannya diskusi menjadi pelopor semangat dalam berorganisasi. Besarnya rasa ingin tahu peserta hingga banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada pemateri membuat suasana forum semakin menyenangkan.

Kegiatan yang menjadi bagian dari memeriahkan hari lahir ke-61 IPPNU ini berakhir dengan dibentuknya koordinator dari tiap-tiap PAC IPPNU se-Kabupaten Lamongan untuk memudahkan koordinasi terkait penyampaian informasi PIK-R dan agenda diskusi selanjutnya. (Red: Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67050/ippnu-lamongan-bentuk-koordinator-pusat-informasi-konseling-remaja

Oki Setiana Dewi

Sabtu, 23 Juni 2012

Gus Mus: Meskipun Bersorban, Saya Tidak Sudi Memanggilnya Kiai

Kita semakin sulit mencari contoh sehingga Islam terkesan jelek di mata orang lain. Oki Setiana Dewi - Ini adalah rangkuman ceramah KH Mustofa Bisri sesudah Tahlilan KH Zainal Abidin Munawir, Yogyakarta, Selasa, (17/02/2014) malam.

Malam ini kita membacakan tahlil dan mendoakan almarhum KH. Zainal Abidin Munawwir. Kita itu koyok yo yo’o. Potongane (gayanya) seperti saya dan panjenengan, berani-beraninya mendoakan Kiai Zainal. Ya, kita semua sesungguhnya hanya mengharap barokah dari beliau.

Gus Mus: Meskipun Bersorban, Saya Tidak Sudi Memanggilnya Kiai - Oki Setiana Dewi
Gus Mus: Meskipun Bersorban, Saya Tidak Sudi Memanggilnya Kiai - Oki Setiana Dewi


Gus Mus: Meskipun Bersorban, Saya Tidak Sudi Memanggilnya Kiai

Meski saya bukan wali, tapi saya meyakini Kiai Zainal itu adalah wali. Karena seperti terdapat dalam al-Qur`an, ciri wali itu tidak punya rasa takut dan tidak punya susah. Lha saya belum pernah tahu Kiai Zainal itu punya rasa takut dan susah.

أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

(Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.)

Sebenarnya panjenengan itu juga bisa jadi wali, wong panjenengan sudah memiliki salah satu syaratnya. Padahal syarat menjadi wali cuma dua. Panjenengan semua sudah punya satu, yaitu mengakui bahwa Gusti Pangeran itu hanyalah Allah Ta’ala. إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ، ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

(Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.)

Jadi syarat yang pertama menyatakan bahwa Tuhannya adalah Allah (قالوا ربنا الله), yang kedua adalah istiqomah (ثم استقاموا). Untuk jadi wali seperti Kiai Zainal, panjenengan kurang satu syarat saja, yaitu istiqomah. Syarat istiqomah ini memang yang paling sulit.

Panjenengan menyaksikan sendiri bagaimana Kiai Zainal dalam keadaan gerah masih berangkat ngimami di masjid dan tetap memikirkan santri. Sementara banyak orang yang mau sholat, tapi jarang yang sholatnya bisa istiqomah; orang yang mau mengajar juga banyak, tapi yang mengajar dengan istiqomah itu jarang; banyak yang bisa memperhatikan anaknya orang, tapi yang memperhatikan anak orang secara terus-menerus itu sedikit sekali. Istiqomah itu yang berat.

Saya itu ada gunung meletus tidak begitu kaget, meskipun abunya sampai Jogja. Tapi saya kaget mendengar kiai-kiai wafat, Kiai Sahal Mahfudz kemudian menyusul Kiai Zainal. Gusti Allah itu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, bila mengambil ilmuNya, tidak dengan cara mencabut ilmu itu dari dada para ulama (إن الله لا يَنْتَزِعُ العلم انتزاعا من صدور العلماء), akan tetapi (بقبض العلماء) Allah mengambil ilmuNya dengan cara mewafatkan ulama.

Kiai Munawwir dipundut nyawanya, sekaligus diambil ilmunya; Kiai Abdullah dipundut beserta ilmunya; Kiai Abdul Qodir dipundut beserta ilmunya; Kiai Ali Maksum dipundut beserta ilmunya; Kiai Warsun dipundut beserta ilmya; Kiai Zainal dipundut beserta ilmunya.

حتى إذا لم يَبْقَ عالم، وفي رواية: حتى إذا لم يُبْقِ عالما، اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا – أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Kalau kiai-kiai sudah pada diambil, orang-orang bingung harus bertanya kepada siapa. Mereka kemudia bertanya kepada orang sembarangan: pokoknya asal orang pakai sorban; asal jenggotan; asal jubahan; dipanggil kiai; dipanggil ustadz; pasti akan ditanya, maka mereka menjawab tanpa ilmu, jadinya mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Ini semua sekarang sudah kelihatan tanda-tandanya: banyak mufti jadi-jadian, yang bila ditanya apa saja bisa menjawab. Padahal yang begitu itu tanda-tandanya gebleq, bukan tanda orang yang alim. Tandanya orang bodoh itu adalah bila ditanya apa saja, bisa menjawab.

Ditanya: “Bagaimana hukumnya ayam yang ketabrak mobil, ustadz?” “Itu ayamnya masih hangat apa tidak?”

“Masih agak hangat, ustadz”

“Kalau masih agak hangat berarti agak halal…”

Sampeyan kalau mau tahu silahkan buka televisi. Ukuran jawabannya asal bisa dinalar saja.

Ada juga dikatakan: (موت العالِم موت العالَم). Pada masa ini yang sulit itu adalah mencari contoh (teladan). Islam itu kekurangan contoh. Oleh sebab itu wajah Islam kelihatan jelek karena kurang contoh.

Yang dijadikan contoh yang jelek-jelek. Sampeyan lihat Youtube, ada bocah edan pakai jubah, menginjak kepala. Yang begini ini yang merusak. Kalau ditanya: bagaimana baiknya, maka jawabnya: baiknya mandeg saja, gak usah lagi, ini merusak Islam. Orang Islam saja melihatnya jijik dan muak, apalagi orang lain... Ustadze wae nggono opo maneh santrine…

Lha di (Krapyak) sini ini sudah banyak contoh. Ada Kiai Abdul Qodir, ada Kiai Ali... Kalau mau yang agak ampeg, ada Kiai Zainal. Kalau mau contoh yang gampangan, ada Kiai Ali. Ada semua contohnya. Orang itu kan macam-macam. Ada yang maunya ampeg, ada yang maunya enteng. Dan yang seperti ini sudah ada sejak zaman Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam.

Santrinya macam-macam, ada yang seperti Abu Bakar, ada yang seperti Umar. Sahabat Umar itu contoh sahabat sangat berhati-hati. Hingga terhadap teman dan saudaranya sendiri saja keras, hingga Sahabat Kholid saja dipecat (dari jabatannya sebagai Komandan Tentara).

Sahabat Abu Bakar lain, lembut. Pendekatannya berbeda. Tapi semua itu didasarkan pada rahmat dan kasih sayang. Itu yang kemudian dilanjutkan dari sejak sahabat, tabi’in, dan para ulama, hingga sampai kepada Mbah Hasyim Asy’ari. Beliau punya dua orang anak buah yang berbeda: Mbah Bisri yang streng dan Mbah Wahab yang gampangan.

Orang NU yang sedemikian banyak akhirnya punya pilihan: yang belum bisa ikut Mbah Wahab, yg sudah bisa ikut Mbah Bisri. Tapi manusia yang macam-macam itu semua: yang hati-hati, yang ampeg, yang gampangan, mesti dilandasi dengan kasih sayang.

Makanya kalau saya ditanya tentang kriteria kiai itu apa, maka saya jawab: kiai itu adalah

الذين ينظرون إلى الأمة بعين الرحمة

Mereka ini kan hanya meniru Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, yang, beliau itu adalah

عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم

Jadi yang dilakukan oleh para kiai itu hanya mencoba meniru apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Tapi yang namanya meniru Kanjeng Nabi itu ya tidak mungkin bisa persis meniru semua seperti Nabi. Kalau sama persis nanti dikira ada nabi kembar. Ada yang meniru cara peribadatannya; ada yg meniru model perjuangannya; ada yang meniru cara dakwahnya. Meniru apa saja. Kanjeng Nabi itu hebat dalam bidang apa saja: termasuk saat menjadi panglima.

Jadi, meskipun orang itu pakai sorban sebesar ban truk, jenggotnya puanjang hingga pusar, tapi gak punya belas kasih kepada umat, maka saya tidak sudi memanggilnya kiai. Sebaliknya, meskipun orang itu tidak berpenampilan kiai, tapi punya belas kasih kepada umat, maka dia itu kiai.

Sama halnya bila ada orang yg merasa pinter, dan menyatakan bahwa orang yang ber-Islam itu harus dengan merujuk langsung pada Qur`an dan Hadits. Ini orang yang juga tidak punya belas kasih terhadap orang awam. Bagaimana mungkin, sementara dia saja tidak becus membaca Qur`an, dan belum tentu paham dengan apa yang dibacanya. Orang Arab sendiri belum tentu paham bila membaca Qur`an secara langsung.

Bandingkan dengan kiai-kiai zaman dulu, seperti Imam Syafi’i dan sesudahnya, yang mereka membuat buku-buku pintar, seperti Sulam, Safinah, Taqrib, ulama seperti mereka itulah yang pantas mengkaji dasar Al-Qur`an Hadits secara langsung. Tidak sembarangan.

Jadi orang-orang awam tinggal mengikut buku-buku pintar yang sudah dibuat, daripada jika mereka disuruh melihat Qur`an sendiri, tentu akan malas (aras-arasen). Beliau-beliau para ulama itulah, dengan dilandasi kasih sayang, membantu orang awam memahami Islam.

Dengan melihat istiqomahnya Kiai Zainal, dalam ibadah, mengajar dan membimbing santri-santri, paling tidak kita bisa tahu dan mencontoh bagaimana perilaku Nabi. Kita tidak perlu melihat Nabi secara langsung. Saya sendiri kadang ngelamun, seumpama saya hidup di masa Nabi, tentu saya merasa enak, karena tidak perlu membaca al-Qur`an, tidak perlu belajar banyak, sebab melihat sendiri sudah ada “Qur`an berjalan”.

Jadi kalau mau perlu apa-apa tinggal melihat Nabi: Bagaimana membina persaudaraan yang baik, melihat Kanjeng Nabi; Bagaimana memimpin ummat yang baik, melihat Kanjeng Nabi; Bagaimana perjodohan yang baik, ya melihat Kanjeng Nabi; Bagaimana bergaul dengan orang tua, melihat Kanjeng Nabi; Bagaimana bergaul dengan anak muda, melihat Kanjeng Nabi.

Semuanya tidak perlu membuka Al-Qur`an dan tinggal melihat Kanjeng Nabi. Tapi kemudian tersirat pikiran waras saya, ya kalau saya ditaqdirkan ikut Kanjeng Nabi. Kalau ternyata saya ditaqdirkan ikut Abu Jahal? Hehehe. Dah tidak perlu melamun hidup di zaman Nabi. Kita hidup sekarang di zaman akhir seperti ini juga tidak apa-apa asal kita masih ikut dengan tuntunan Kanjeng Nabi.

Jadi semakin lama kita itu semakin sulit mencari contoh. Kalau kita itu rajin membaca Al-Qur`an, mengerti maknanya Al-Qur`an, kita gak mencari contoh itu tidak apa-aoa. Kita tidak perlu banyak contoh bila kita sudah rajin membaca Al-Qur`an dan mengetahui makna Al-Qur`an. Tapi yang terjadi kan, kita itu tidak punya contoh. Membaca Al-Qur`an juga hanya ketika Bulan Ramadlan, itu saja bacanya cepet-cepet.

Kenapa kalau membeli televisi atau sepeda motor kita tidak perlu membaca buku panduannya. Padahal membeli barang-barang seperti itu pasti ada buku tebal sebagai panduannya: kalau mau menghidupkan, tekan tombol yang bertuliskan “power”; bagaimana caranya memindah channel.

Tapi saya yakin, panjenengan itu beli tivi atau motor itu tanpa pernah membaca buku panduannya. Lha kok bisa tahu dari mana? Ya, karena panjenengan sudah sering melihat orang menghidupkan tivi. Demikian juga dulu para sahabat. Meskipun tidak membaca buku panduan, tapi mereka melihat dan meniru Kanjeng Nabi. Sesudah Kanjeng Nabi tidak ada, ya harus melihat para sahabat sebagai murid-murid Kanjeng Nabi, dan seterusnya, sebagaimana diperintahkan oleh Kanjeng Nabi. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/gus-mus-meskipun-bersorban-saya-tidak-sudi-memanggilnya-kiai.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Oki Setiana Dewi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Oki Setiana Dewi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Oki Setiana Dewi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock