Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juni 2017

Sudans NU holds talks with minister of endowments

Khartoum, Oki Setiana Dewi. Sudans Minister of Endowments and Religious Affairs DR Muhammad Mustafa Al-Yakuti received a visit from Special Branch Board of Nahdlatul Ulama (PCINU) of Sudan at the ministrys headquarters in Khartoum on Wednesday (9/1).

Present also tt the meeting were Supreme Council (mustasyar) of PCINU DR Muhammad Sulaiman who is also Chairman of the Preaching Council of the Ministry of Endowments and Religious Affairs, Chairman of the Advisory Board (syuriyah) of PCINU Mirwan Akhmad Taufiq, Deputy Chairman of the Advisory Board Abdussalam, Deputy Secretary of the Advisory Board Zainul Alim and Lian Fuad.

Sudans NU holds talks with minister of endowments (Sumber Gambar : Nu Online)
Sudans NU holds talks with minister of endowments (Sumber Gambar : Nu Online)


Sudans NU holds talks with minister of endowments

Mirwan expressed gratitude to the minister for warmly receiving the NU delegates and introduced Nahdhatul Ulama as the Indonesias largest Muslim organization.

Mirwan also conveyed the idea of an international Sufi gathering that will be organized by the Jamiyyah Ahlit Thoriqoh al-Mutabaroh an -Nahdliyah (a sufi order organization recognized by NU) in the Jakartas Borobudur Hotel in the near Future.

Oki Setiana Dewi

NU is a religious social organization with some 90 followers. The organization aims to keep preserving and maintaining the teachings of Ahlussunnah wal Jamaah and has institutions and committees, including, Jamiyyah Ahlit Thoriqoh al-Mutabaroh an-Nahdliyah which is engaged in sufi orders (tariqa) in Indonesia which is currently led by Habib Ali Lutfi bin Yahya.

Following up an international Sufi gathering in Malang, Mirwan added, the NU Islamic scholars (ulema) agreed to make a worldwide tariqa network called "Majma As-Sufi al-Alami", which is aimed at further cultivating relationship, uniting sufi orders in different parts of the world that have not been well-organized in addition to propagating the teachings of Islam and helping create world peace.

Oki Setiana Dewi

Meanwhile, the Sudanese Minister of Endowments and Religious Affairs also conveyed a sense of happiness and pleasure for knowing significant roles played by NU in propagating the teachings of Aswaja in Indonesia.

Editor : Sudarto Murtaufiq

Contributor : Zainul Alim

Dari (International) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41711/sudan039s-nu-holds-talks-with-minister-of-endowments

Oki Setiana Dewi

Senin, 19 September 2016

Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes

Oki Setiana Dewi - Jangan meremehkan orang Jawa kuno. Ilmu dan sains mereka sangat tinggi. Di antara sains tingkat tinggi kreasi asli orang Jawa adalah memasak nasi dengan kukusan atau aseupan. Mengapa?

Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes - Oki Setiana Dewi
Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes - Oki Setiana Dewi


Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes

Ketika nasi dimasak dengan cara demikian, maka semua toksin atau racun kimiawi akibat pestisida dan pupuk urea dimusnahkan. Sementara bambu kukusan itu bertugas sebagai antioksidan atau pembuang racun karena mengandung silica alami.

Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes - Oki Setiana Dewi
Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes - Oki Setiana Dewi


Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes

Ajaibnya, meskipun kukusan itu berulang-ulang digunakan, zat silicanya malah tambah kuat. Lihatlah, bagaiman tergila-gilanya orang China dan Jepang dengan bambu. Alat masak dimsum itu sejatinya adalah nyontek teknologi kukusan Jawa.

Dengan memasak nasi di kukusan itulah akhirnya ditemukan fakta bahwa orang jaman dulu jarang yang terkena penyakit aneh-aneh. Manfaat memasak nasi dengan kukusan antara lain adalah nasi kita tidak lagi menjadi pantangan penderita diabetes. Ini bukan teori tapi sudah dibuktikan oleh banyak orang.

Orang Jawa dan keturunannya yang ada di Belanda maupun di negara Suriname, kalau memasak, mereka masih menggunakan kukusan. Agar tidak terkena penyakit aneh-aneh, silakan kembali menanak nasi dengan kukusan. [Oki Setiana Dewi/ed]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/manfaat-menanak-nasi-kukusan-untuk-diabetes.html

Selasa, 05 Juli 2016

Harlah, Muslimat NU Kudus Santuni 500 Yatama dan 250 Lansia

Kudus, Oki Setiana Dewi. Pada Jumat, 01 Syaban 1438 H (28/4) PC Muslimat NU Kabupaten Kudus menggelar istighotsah akbar, tahlil umum dan santunan 500 yatama plus 250 lansia dhuafa.

Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai puncak peringatan harlah ke-71 Muslimat NU. Gedung JHK Kabupaten Kudus Jawa Tengah dipenuhi lebih dari 2000 tamu undangan dari ranting hingga anak cabang di Kudus. Bahkan beberapa Pengurus Cabang Muslimat NU di Jawa Tengah di antaranya dari Sragen, Batang, Grobogan, Kebumen dan lainnya turut hadir.

Harlah, Muslimat NU Kudus Santuni 500 Yatama dan 250 Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, Muslimat NU Kudus Santuni 500 Yatama dan 250 Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)


Harlah, Muslimat NU Kudus Santuni 500 Yatama dan 250 Lansia

Rangkaian acara mewarnai peringatan harlah tersebut dimulai dari peringatan Isra Miraj, mauidhoh hasanah, dan penyerahan baksos KB Berprestasi dari PWMNU Jateng.

Oki Setiana Dewi

Sebelumnya (27/4), telah diadakan lomba gebyar PAUD, Baksos KB, khotmil quran bil ghoib dan manaqiban, ziarah leluhur, dan silaturahmi ulama di Kudus. PCMNU bahkan sukses menjadi tuan rumah lomba Gebyar PAUD dan lomba diba sekorwil Pati.

Harlah di Kudus ini dihadiri sejumlah ulama, tokoh, dan pejabat. Di antara yang hadir adalah KH Masum, KH Ulil Albab, Ketua dan jajaran PW Muslimat NU Jawa Tengah, dan H Masfuah, ketua bidang kesehatan yang menangani masalah KB dari bidang kesehatan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa tengah.

Gus Bab, panggilan KH Ulil Albab, dalam mauidhoh-nya mengatakan bahwa warga Muslimat adalah kekuatan besar, Muslimat jangan sampai seperti unthuk (buih di lautan) yang bergerak mengikuti arus. Muslimat harus bisa menjadi teladan keluarga dan lingkungannya.

Oki Setiana Dewi

Warga Muslimat NU harus bisa mengajak keluarganya agar terhindar dari paham radikal dengan cara berhidmat, kata Ketua PW Muslimat NU Jawa Tengah, Hj Ismawati Hafidz. Ia juga memuji PCMNU Kudus yang selalu sukses mengadakan kegiatan.

Prestasi PCMNU Kudus

Dalam sambutannya Ketua PC Muslimat NU Kudus, Hj Chumaidah Chamim menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang hadir. Semoga Muslimat NU semakin maju, besar, dan bisa menanamkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Semoga Muslimat NU Kudus bisa selalu menjadi teladan anggotanya dan cabang lain, katanya.

Chumaidah sangat bangga atas eksistensi Muslimat NU di berbagai bidang, baik keagamaan, sosial, dan pendidikan. SD Muslimat NU Kudus yang dikelola Muslimat NU Kudus sudah 7 tahun berdiri dan tahun ini adalah Ujian Nasional perdana yang diikuti siswa sisiwi kelas VI. Red: Mukafi Niam

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77578/harlah-muslimat-nu-kudus-santuni-500-yatama-dan-250-lansia

Oki Setiana Dewi

Jumat, 15 Januari 2016

Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu

Kediri, Oki Setiana Dewi. Pesantren Al-Falah Ploso adalah lokasi kedua di Kediri yang dikunjungi Tim Kirab Resolusi Jihad 2016, pada Ahad (16/10) pagi. Ketua tim H Isfah Abidal Aziz menyampaikan tujuan kedatangan tim, yakni silaturahmi dan meminta wejangan.

Pengasuh Pesantren Al-Falah KH Nurul Huda Jazuli berkenan memberikan sambutan. Ia menyatakan sangat gembira atas kehadiran tim. Ia berharap perjalanan tim kirab akan membawa barokah, hikmah, faidah, serta makna yang berarti untuk perjuangan para santri pembela akidah ahlusunah wal jamaah.

Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu

Jangan sampai santri dan NU bergeser dari tujuan awal dan ajaran aswaja yang sudah sejak dahulu dipelihara para kiai dan ulama, kata Kiai Nurul Huda.

Oki Setiana Dewi

Menurut Kiai Nurul Huda, saat ini banyak fitnah terhadap NU. Tetapi NU harus tetap dijaga. NU hadir untuk keselamatan dan kelanggengan ajaran aswaja.

Harus pula disadari NU dan santri paling menjadi andalan dalam membantu kondusifitas dunia. Dengan kata lain, keamanan dunia berada di tangan NU dan para santri. Selama NU dan santri belum bergeser dari tujuan awal, insya Allah dunia aman.

Oki Setiana Dewi

Ia mengatakan, seandainya pergeseran itu terjadi, maka akan sangat berbahaya. Karena satu per satu kiai meninggal dunia, santri muda harus bersiap mengambil peran menjadi penerus.

Selanjutnya, antara kiai dan santri harus saling mendukung. Dalam hal ini saling memberi nasihat berlaku baik dari atas (kiai) maupun ke bawah (santri). Tidak perlu lagi hanya kiai yang memberi nasihat, sementara santri diam saja. Sebab santri paling tahu keadaan dan kemajuan terkini. Saran-saran yang memang baik dari santri kepada kiai adalah diperlukan.

Kiai Nurul Huda mengharapkan kekompakan antarkiai. Jangan karena bukan pengurus, lalu tidak mau membangun NU lagi.

Semua itu bertujuan dalam perjuangan mempertahankan NU dengan semboyan li ilai kalimatilah. Semboyan itu menandakan bahwa kita berjuang demi Allah.

Di penghujung sambutan, Kiai Nurul Huda berharap tahun-tahun mendatang, pelaksanaan kirab bisa lebih ditingkatkan dan dipersiapkan lebih baik. Apabila hal itu bisa terlaksana akan menunjukkan kekuatan dan kebesaran NU.

Sambutan kunjungan ke Pesantren Al-Falah Ploso ditutup dengan doa oleh KH Zainudin Jazuli. Tim kemudian meneruskan perjalanan yakni ziarah ke makam KH Ahmad Sidiq dan KH Hamim Jazuli (Gus Miek), untuk selanjutnya ke makam Presiden RI Soekarno di Blitar. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72040/pengasuh-pesantren-ploso-banyak-fitnah-nu-harus-bersatu

Kamis, 23 April 2015

PMII Gelar Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus

Serang, Oki Setiana Dewi. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Pelatihan Nasional Kader Penggerak Dakwah Kampus yang diselenggarakan PB PMII bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sultan Agung Tirtayasa, di Serang, Banten, Ahad (1/7) kemarin.

Ketua Bidang Keagamaan PB PMII Abdul Aziz mengatakan, PMII mengajak para dai untuk mendawahkan kedamaian dan pentingnya akhlaqul karimah. PMII menyerukan para dai tidak hanya berdakwah dengan lisan, tetapi juga dakwah sikap.

PMII Gelar Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Gelar Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Gelar Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus

Penguatan spiritual dan moralitas sangat penting. Banyak problem bangsa terjadi karena dekadensi moral, ujarnya di sela pelatihan tersebut.

Oki Setiana Dewi

Dalam berdakwah, sambung Abdul Aziz, PMII siap menjadi garda terdepan mendakwahkan nilai nilai Aswaja dan keindonesiaan. PMII tetap menerima modernitas, tetapi kader PMII juga harus menjaga nilai-nilai Islam yang sesuai dengan tradisi lokal, imbuhnya.

Sementara Ketua Pelaksana Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus, Ahmad Miftahul Karomah mengungkapkan, pelatihan tersebut sengaja digelar di Banten untuk menghormati genealogi Syekh Nawawi Al-Bantani, yang merupakan ulama ternama dunia, yang berasal dari Banten.

Oki Setiana Dewi

Tradisi Islam Indonesia merupakan keberhasilan Walisongo dan para ulama lampau dalam menyebarkan dakwah yang damai. Termasuk di dalamnya adalah Syekh Nawawi. Kita harus ikuti jejak beliau, kata Ahmad.

Pelatihan bertema menggerakkan Nilai-nilai Islam Indonesia ini berlangsung dari Kamis (28/6) hingga Senin (2/7). Pembukaan dan stadium general dilaksanakan di auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, kemudian pelatihan dilaksanakan di Pondok Pesantren Bismillah, Ciomas, Kabupaten Serang. Pelatihan ini diikuti delegasi 38 kampus di seluruh Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis : Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38607/pmii-gelar-pelatihan-kader-penggerak-dakwah-kampus

Oki Setiana Dewi

Rabu, 17 Desember 2014

Ini Niat Menyambut Puasa Ramadhan dari Habib Abu Bakar al-Adeni al-Masyhur

Oki Setiana Dewi - Datangnya Ramadhan harus disambut dengan suka cita dan gembira. Untuk itu, harus ada niat yang mengantarkan suka cita itu. Berikut adalah niat menyambut Bulan Ramadhan oleh Al-Habib Abu Bakar Al-Adeni Al-Masyhur:

Ini Niat Menyambut Puasa Ramadhan dari Habib Abu Bakar al-Adeni al-Masyhur
Ini Niat Menyambut Puasa Ramadhan dari Habib Abu Bakar al-Adeni al-Masyhur


نوينا مانواه النبي صلى الله عليه وسلم والسلف الصالح من آل البيت الكرام والصحابه الأعلام

Kami niat sebagaimana niat Nabi SAW dan para salafuna shalih dari para ahlulbait Nabi yang mulia dan para sahabat yang agung.

ونوينا القيام بحق الصيام على الوجه الذي يُرضي الملك العلاّم

Kami niat melaksanakan puasa dengan sesempurna mungkin yang membuat ridho Allah SWT.

ونوينا المحافظة على القيام وحفظ الجوارح عن المعاصي والآثام

Kami niat menjaga sholat tarawih dan menjaga angota badan dr segala maksiat dan dosa.

ونوينا تلاوة القرآن وكثرة الذكر والصلاة والسلام على سيد الأنام ونوينا تجنب الغيبة والنميمة والكذب وأسباب الحرام

Kami niat rutin membaca Al-Qur'an dan banyak berdzikir serta sholawat pada Nabi Muhammad pemimpin manusia & menjauhi ghibah,adu domba,berdusta dan segala hal yg menyebabkan perkara yang haram dan dosa.

ونوينا كثرة الصدقات ومواساة الأرامل والفقراء والأيتام

Kami niat banyak bersodaqoh dan menyantuni para janda,orang fakir juga anak yatim.

ونوينا كمال الإلتزام بآداب الإسلام والصلاة في الجماعة في أوقاتها بانتظام

Kami niat menjaga dengan sebaik baiknya akhlak yang diajarkan dalam agama Islam serta menjaga sholat jama'ah tepat pada waktunya dengan sempurna.

ونوينا كل نية صالحة نواها عباد الله الصالحون في العشر الأوائل والأواسط والأواخر وليلة القدر في سائر الليالي والأيام

Kami niat dengan semua niat-niat baik yang telah diniatkan para sholihin di 10 pertama,10 kedua serta 10 terakhir dan malam lailatul qodar juga di setiap malam dan harinya.

Semoga semua menjadi berkah.. Amin [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/ini-niat-menyambut-puasa-ramadhan-dari-habib-abu-bakar-al-adeni-al-masyhur.html

Senin, 23 Juni 2014

NU chairman to attend Jokowis inauguration

Jakarta, Oki Setiana Dewi. General Chairman of Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil Siroj said he would attend the inauguration of President Joko "Jokowi" Widodo and Vice President Jusuf Kalla at the building of Peoples Consultative Assembly (MPR) on Monday (20/10).

"God willing I will attend it," said Siroj on the sidelines of his meeting with the chairman of MPR, Zulkifli Hasan, at the NU headquarters recently, adding that he greatly appreciated the development of democracy in Indonesia.

NU chairman to attend Jokowis inauguration (Sumber Gambar : Nu Online)
NU chairman to attend Jokowis inauguration (Sumber Gambar : Nu Online)


NU chairman to attend Jokowis inauguration

Meanwhile, Zulkifli Hasan said that all political party leaders, including Prabowo, had confirmed they would attend the inauguration.

Oki Setiana Dewi

The MPR on Saturday staged its final rehearsal for the swearing-in. Several foreign leaders, including Australian Prime Minister Tony Abbott, Malaysian Prime Minister Najib Razak, US Secretary of State John Kerry and US Republican senator and former presidential candidate John McCain, are expected to attend the ceremony.

Oki Setiana Dewi

National Police chief Gen. Sutarman has said that more than 24,000 police will be deployed to secure the event, most of whom will be concentrated on the MPR complex and its surroundings.

The MPR has earmarked Rp 1 billion (US$82,610) for the ceremony, which Zulkifli said was much less than for the inauguration of regional heads.

After the inauguration, volunteers for Jokowi will throw a street party to celebrate.

Jokowi and vice president-elect Jusuf Kalla are expected to join a a peoples parade, riding a horse-drawn carriage from Semanggi to the Hotel Indonesia traffic circle.

The Jakarta Police are expected to close off several of the citys main thoroughfares for the parade and divert traffic from affected areas.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55206/nu-chairman-to-attend-jokowi039s-inauguration

Oki Setiana Dewi

Sabtu, 21 Juni 2014

PP GP Ansor Kaji Masalah Jihad

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) mengupas masalah jihad dalam perlbagai sudut. Jihad dan praktiknya ditinjau dari sisi hukum, sejarah, sosial, dan politik. Karenanya, praktik jihad tidak selalu peperangan.

Sedikitnya 15 orang menghadiri kajian jihad yang berlangsung di ruang rapat PP GP Ansor lantai 2, jalan Kramat Raya nomor 65A, Jakarta Pusat, Jumat (26/7) sore. Kajian masalah jihad dipandu oleh Wakil Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta Habib Hamid Jakfar Al Qadri.

PP GP Ansor Kaji Masalah Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
PP GP Ansor Kaji Masalah Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)


PP GP Ansor Kaji Masalah Jihad

Jihad pada prinsipnya adalah upaya meninggikan kalimat Allah yang mulia. Jihad dapat dilakukan dengan pelbagai macam cara sesuai dengan kebutuhan keberagamaan masyarakat, kata Habib Hamid Al Qadri.

Oki Setiana Dewi

Jihad, sambung Habib Hamid Al Qadri, merupakan upaya keras seseorang di dalam mencapai sebuah maksud. Dalam urusan agama, jihad mengambil aneka bentuk tindakan-tindakan yang bersifat mensyiarkan agama Allah.

Habib Hamid Al Qadri menekankan pentingnya jihad bagi para pemuda untuk menghidupkan masjid-masjid.

Oki Setiana Dewi

Kajian jihad merupakan pertemuan kelima dari Pelatihan Angkatan II Kader Ahlussunnah Wal Jamaah. Pelatihan ini diadakan sebagai kelanjutan dari pelatihan pertama yang diadakan pada bulan Ramadhan tahun lalu.

Kajian ditutup dengan buka puasa dan sembahyang magrib berjamaah di kantor PP GP Ansor.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46140/pp-gp-ansor-kaji-masalah-jihad

Minggu, 12 Januari 2014

Muat Berita Yak Nah (Soal Kiai Said), Ini Surat Terbuka Kepada Pemilik Harian Bangsa

Oki Setiana Dewi - Beberapa hari ini Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siraj mendapatkan fitnah berita miring atau yak nah (ora nggenah) soal makelar tanah di Malang. Bangsa Online yang pertama menurunkan berita tersebut pada saat muktamar NU Jombang dimulai.

Kini, media pimpinan Masud Adnan tersebut telah hilang marwahnya di kalangan nahdliyyin. Salah satu buktinya adalah kiriman surat terbuka di bawah ini, ditulis oleh kader NU Madura. Monggo dibaca tuntas.

---------

Muat Berita Yak Nah (Soal Kiai Said), Ini Surat Terbuka Kepada Pemilik Harian Bangsa - Oki Setiana Dewi
Muat Berita Yak Nah (Soal Kiai Said), Ini Surat Terbuka Kepada Pemilik Harian Bangsa - Oki Setiana Dewi


Muat Berita Yak Nah (Soal Kiai Said), Ini Surat Terbuka Kepada Pemilik Harian Bangsa

Oki Setiana Dewi

Surat Terbuka Untuk HM. Masud Adnan

Kepada yang terhormat Bpk. HM. Masud Adnan (Direktur Harian Bangsa dan Bangsa Onlien)

Oki Setiana Dewi

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barkatuh.

Apa kabar, Pak Masud? Saya harap bapak baik-baik saja. Bapak masih ingat dengan saya? Saya tidak menanyakan bapak kenal saya atau tidak, karena yang jelas bapak tidak akan kenal saya. Tapi, setidaknya bapak masih ingat wajah saya. Supaya lebih gampang diingat: dulu waktu bapak hendak mencalonkan diri menjadi anggota legislatif provinsi Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa, saat masa-masa kampanye, bapak pernah meminta salah satu organisasi kemahasiswaan di daerah saya untuk mengadakan bedah buku yang bapak tulis yaitu “Sunan Gus Dur: Akrobat Politik Ala Nabi Khidir”. Semoga bapak mulai ingat. Kegiatan itu dilaksanakan di GOR kecamatan Palengaan, Pamekasan, pak. Waktu itu, saya sebagai moderator. Ingat, kan, pak? Waktu itu ratusan mahasiswa yang datang, sampai-sampai buku tulisan bapak itu (yang dibagikan gratis) tidak cukup.

Bapak masih ingat juga, kan, waktu bapak meminta saya untuk dipertemukan dengan ketua Gus Durian Madura? Waktu itu sekitar jam dua belas siang, bapak naik mobil dan saya rela naik motor meskipun gerimis. Dan seingat saya, dari kegiatan dan pertemuan bapak itu, semua saya lakukan dengan ikhlas tanpa menerima uang sepeserpun. Saya korbankan waktu dan tenaga saya waktu itu demi organisasi itu. Organisasi yang saya geluti.

Jujur, saya bangga dengan karya-karya bapak yang mengangkat tema-tema tentang idola saya. Gus Dur. Tapi akhir-akhir ini kebanggaan saya itu mulai luntur ketika media yang berada di bawah pimpinan bapak (Harian Bangsa dan Bangsa Online) memuat berita-berita provokatif dan mendiskreditkan jam'iyah Nahdlatul Ulama yang “diwariskan” secara turun-temurun kepada saya. Entah apa motifnya. Yang menjadi tanda tanya besar dalam benak saya adalah: bukankah bapak juga warga NU? Apa iya bapak tidak tahu menahu tentang content media yang bapak pimpin? Sebagai seseorang yang —sedikit banyak— paham tentang media, saya tidak yakin bapak tidak tahu.

Jika memang tujuannya mencari untung, apa harus dengan cara seperti itu? Apa yang diperoleh institusi media bapak dari pemberitaan itu? Apa yang bapak dapatkan ketika masyarakat mulai tidak percaya dan membemci NU? Apa bapak merasa puas ketika masyarakat membagikan link berita tentang NU (yang provokatif) itu? Saya rasa, dari semua peetanyaan ini, jawabannya pasti “TIDAK”. Bukankah bapak alumni Pesantren Tebu Ireng? Pesantren yang didirikan oleh Rais Akbar NU, Hadlratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari.

Berdasarkan pengamatan saya terhadap isi berita pada media bapak itu, khususnya berita tentang NU dan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., dimuat tanpa ada konfirmasi dan klarifikasi kepada subyek yang diangkat dalam berita itu. Bukankah hal ini bertentangan dengan kode etik pers?

Sebelum surat ini saya akhiri, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Demi Allah, saya tulis surat ini bukan untuk menjatuhkan bapak. Saya menulis surat ini hanya ingin mengembalikan marwah NU yang mulai terkikis. Dan saya yakin, bapak juga tidak menginginkan hal itu.

Mungkin saya cukupkan surat terbuka ini, pak.

Semoga kita senantiasa mendapatkan aliran barokah dari Mbah Hasyim dan para pendiri NU lainnya. Amin.

Palengaan, 29 Desember 2016

Pengagum bapak

Muhammad Ahnu Idris

-------------------

Kini, situs online yak nah di atas, sedang moncer di kalangan wahabi. Mereka bertepuk tangan karena media milik kader NU sendiri justru menggembosi Ketum nya. Naudzubillah. Pantaskan disandingkan dengan portal fitnah piyungan, nugaris gatholoco dan juga media-media wahabrot yang moncrot-moncrot kalau asyik menghina kiai NU dan amaliyahnya. Yak nah beh. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/muat-berita-yak-nah-ini-surat-terbuka-kepada-pemilik-harian-bangsa.html

Kamis, 26 Desember 2013

Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)

Oki Setiana Dewi - "Al-Masajid" adalah bab yang kami baca dari kitab Bulughul Maraam di Masjid Al-Akbar Surabaya. Satu persatu hadis saya jelaskan, termasuk hadis Sayidina Hassan bin Tsabit yang melantunkan syair di masjid pada masa Sayidina Umar. Saya juga menjelaskan kegemaran Nabi membaca syair, dan Nabi juga berkenan membalas syair dari para Sahabat (HR Bukhari dan Muslim)

Kemudian ada jamaah yang sangat rajin dan aktif mengikuti kajian, beliau bertanya, "ada banyak kitab syair memuat pujian kepada Rasulullah, seperti Diba' dan Barzanji, yang isinya memuji Nabi berlebihan (ghuluw). Apa benar demikian?" Tanya bapak yang rambutnya banyak memancar kilau perak ini.

Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw) - Oki Setiana Dewi
Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw) - Oki Setiana Dewi


Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)

Saya mencoba menjawab dengan sebuah hadits tentang Sahabat yang berlebihan memuji Nabi dan beliau menegurnya:

ﻗﺎﻟﺖ اﻟﺮﺑﻴﻊ ﺑﻨﺖ ﻣﻌﻮﺫ، : ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻏﺪاﺓ ﺑﻨﻲ ﻋﻠﻲ، ﻓﺠﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﻓﺮاﺷﻲ ﻛﻤﺠﻠﺴﻚ ﻣﻨﻲ، ﻭﺟﻮﻳﺮﻳﺎﺕ ﻳﻀﺮﺑﻦ ﺑﺎﻟﺪﻑ، ﻳﻨﺪﺑﻦ ﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﻣﻦ ﺁﺑﺎﺋﻬﻦ ﻳﻮﻡ ﺑﺪﺭ، ﺣﺘﻰ ﻗﺎﻟﺖ ﺟﺎﺭﻳﺔ: ﻭﻓﻴﻨﺎ ﻧﺒﻲ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻓﻲ ﻏﺪ. ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﺗﻘﻮﻟﻲ ﻫﻜﺬا ﻭﻗﻮﻟﻲ ﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺗﻘﻮﻟﻴﻦ»

Artinya: Rabi' binti Muawwidz berkata: "Nabi datang saat pernikahanku di pagi hari, beliau duduk di tempatku seperti dudukmu di dekatku. Wanita-wanita kecil menabuh terbang, mereka memuji bapak-bapak mereka yang gugur saat perang Badar. Sampai ada wanita yang berkata: "Ada Nabi di antara kita yang mengetahui apa yang terjadi esok". Nabi bersabda: "Jangan kamu katakan seperti itu. Katakanlah seperti engkau ucapkan" (HR Al-Bukhari)

Oki Setiana Dewi

Dalam hadits yang seakan melarang memuji Nabi ini, Nabi tidak berkenan jika dipuji mengetahui hal ghaib yang belum terjadi. Meski terkadang Nabi diberi tahu melalui wahyu apa yang akan terjadi, seperti hadist tentang kemunculan seorang Tabi'in terbaik bernama Uwais Al-Qarni (HR Muslim)

Oki Setiana Dewi

Ketika kita memuji dengan kata-kata pujian kepada Rasulullah, tidak sampai menjadikan beliau sebagai Tuhan. Pujian kita kepada Nabi masih dalam koridor pujian Allah kepada Rasulullah yang terdapat dalam ayat berikut yang artinya:

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, ia amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (At-Tawbah: 128)

Bahkan seorang Sahabat Amr bin 'Ash yang tak sanggup mengurai sifat Nabi dalam barisan kata-kata:

ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﺪ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻲ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻻ ﺃﺟﻞ ﻓﻲ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ، ﻭﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺃﻃﻴﻖ ﺃﻥ ﺃﻣﻸ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ ﺇﺟﻼﻻ ﻟﻪ، ﻭﻟﻮ ﺳﺌﻠﺖ ﺃﻥ ﺃﺻﻔﻪ ﻣﺎ ﺃﻃﻘﺖ؛ ﻷﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﺃﻣﻸ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ

Artinya: "Tak ada seorang pun yang aku cintai dibanding Rasulullah dan tidak ada yang lebih agung di mataku. Aku tak mampu memenuhi mataku dari beliau, karena keagungannya. Jika aku ditanya tentang sifat beliau, maka aku tak berdaya. Sebab aku tak mampu memenuhi pandanganku dari beliau" (HR Muslim)

Hampir semua kitab-kitab sejarah, kepribadian dan apapun yang menyangkut Baginda Rasulullah, adalah pujian yang tak pernah keluar dari aturan yang dilarang dalam agama kita. [Oki Setiana Dewi]

Ma'ruf Khozin, pemateri kitab Buluughul Maraam di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/menuduh-memuji-nabi-berlebihan-itu-justru-ghuluw.html

Senin, 11 Maret 2013

Hadiri Muktamar, Bupati Lampung Barat Pun Ziarahi Makam Gus Dur

Jombang, Oki Setiana Dewi. Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri menyempatkan diri ziarah ke makam Presiden RI ke-4 KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur kompleks pemakaman Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8), di sela kehadirannya di lokasi Muktamar Ke-33 NU.

Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan dirinya bagian dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU). Mukhlis yang ditemani Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lampung Barat Burlianto Eka Putra pun tak canggung berjongkok dan berdoa di depan kuburan ketua umum PBNU tiga periode berturut-turut tersebut.

Hadiri Muktamar, Bupati Lampung Barat Pun Ziarahi Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Muktamar, Bupati Lampung Barat Pun Ziarahi Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


Hadiri Muktamar, Bupati Lampung Barat Pun Ziarahi Makam Gus Dur

"Saya baru kali ini datang ke makam Gus Dur dan ke Jombang. Saya warga NU dan pengurus NU di Lampung Barat. Jadi harus hadir pada Muktamar NU ke-33 di Jombang ini. Namun sebelum kegiatan berlangsung, terlebih dahulu sowan KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur ini," katanya.

Setelah berdoa Mukhlis Basri yang ketika itu memakai baju koko dan songkok putih lalu berpose bersama warga di dekat makam Gus Dur. Ia tiba di Jombang Jumat (31/7).

Oki Setiana Dewi

Selain Mukhlis, ada ribuan peserta muktamar lain dari berbagai daerah peziarah yang turut berziarah. Kompleks pemakaman Pesantren Tebuireng menjadi tempat tujuan favorit muktamirin karena di sini terdapat makam pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asyari dan juga putranya, KH Wahid Hasyim. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Oki Setiana Dewi

Foto: Bupati Mukhlis Basri (tengah) di area Muktamar ke-33 NU

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61246/hadiri-muktamar-bupati-lampung-barat-pun-ziarahi-makam-gus-dur

Oki Setiana Dewi

Minggu, 25 November 2012

Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos

Contoh berita hoax Nusron Wahid Oki Setiana Dewi - Ini bukan cerita tentang tokoh tertentu, tapi sekadar contoh dua tokoh yang sering jadi "proyek" media sosial (medsos), yakni Nusron Wahid dan KH Ahmad Musta'in Syafi'ie dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

"Kalau Peserta Aksi 212 (2-12-2016) Lebih dari Seribu Orang Ludahi Muka Saya....". Begitu ungkapan Nusron yang jadi viral. Bahkan ada viral yang sama tapi diberi capture "detikcom". Nah, Nusron dan detikcom sama-sama membantah.

Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos - Oki Setiana Dewi
Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos - Oki Setiana Dewi


Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos

Nusron bilang kalau dia tidak pernah ngomong seperti itu. Detikcom juga bilang tidak pernah menampilkan foto dan pernyataan Nusron seperti itu. Artinya, semuanya hanya "tempelan". Dampaknya? Akal jadi tidak waras. Itulah adu domba.

Contoh adu domba yang lain. Pernyataan KH Ahmad Musta'in Syafi'ie (Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur) yang berjudul "Dahsyatnya Energi Al-Maidah 51". Pernyataan itu diluruskan asisten KHA Musta'in Syafi'ie, yakni Masrukhin.

Oki Setiana Dewi

Katanya, Kiai Musta'in tidak pernah membuat surat itu. Anehnya, surat adu domba antara ulama dengan PBNU yang dibuat atas nama Kiai Mustain itu bukan hanya sekali ini beredar di medsos. Tapi beberapa orang terprovokasi untuk yakin. Itulah adu domba.

Oki Setiana Dewi

Baca: Bongkar Hoax "Energi Al Maidah 51" yang Dibuat Atas Nama KH Mustain Syafii Jombang.

Sejatinya, perbedaan pendapat itu merupakan hal biasa yang terjadi sejak para pendahulu negeri ini. Bung Karno sudah biasa berbeda pendapat dengan Bung Hatta, namun saat Bung Hatta menikah pun, Bung Karno datang.

Sebaliknya, saat Bung Karno sakit, Bung Hatta juga menjenguk, meski dicegah sejumlah orang. Pendiri NU KH Hasyim Asy'ari juga biasa berbeda pendapat dengan tokoh NU lainnya, KH Wahab Chasbullah. Bahkan perbedaan soal beduk cukup melegenda. .

Tokoh Muhammadiyah Hamka juga biasa berbeda pendapat dengan Bung Karno. Dan, banyak lagi. Sebuah beda pendapat yang minus dosa. Baca juga: Buya Hamka Tinggalkan Qunut Untuk Keharmonisan

Baca juga: Bung Hatta Kutuk Cara Orde Baru Perlakukan Soekarno Saat Sakit.

Dulu, beda pendapat itu digunakan untuk memahami orang lain, karena beda pendapat dianggap sunnatullah dan bahkan kemajemukan juga dianggap takdir-Nya. Sekarang, beda pendapat justru digunakan untuk menyalahkan, mencurigai, mengkafirkan, membid'ahkan, membenci, dan sejenis itu.

Gawatnya lagi, beda pendapat itu kini menemukan "sarana" berbentuk media sosial yang akhirnya beda pendapat itu untuk "adu domba" seperti dialami Nusron, Kiai Mustain, Prof Syafii Maarif, Gus Mustofa Bisri, dan sebagainya. Ya, hoax tapi targetnya untuk provokasi.

Jika dicermati "proyek" adu domba dalam medsos itu agaknya ada unsur kesengajaan dan ada target tertentu, karena bahasa yang digunakan mirip, pelakunya juga sepertinya punya target orang atau lembaga yang sama, karena pihak yang menjadi sasaran "proyek" itu juga selalu itu-itu saja.

Momentum yang dipakai adalah penistaan Al-Quran (sebenarnya juga kitab suci Kristiani) yang menghasilkan dua cara penyikapan yakni cara hukum (persuasif) dan cara massa (411 dan 212). Masalahnya, cara massa menyikapi dengan menyalahkan pihak dengan cara lain yang seolah salah total. Jadi, beda itu biasa, kok diadu domba?

Boleh jadi, cara hukum (persuasif) tidak sepopuler cara massa. Tapi, keduanya sama-sama bisa untuk mendorong hasil yang sama (seperti anti penistaan Al-Quran, penetapan tersangka, membuat rakyat tidak memilih pemimpin tertentu, dan sebagainya).

Kalau hasilnya sama, kenapa bisa menyalahkan pihak lain? Apa cara massa itu tidak justru membuat orang mudah pakai massa untuk menghalalkan kepentingannya dan main klaim? Bukankah Tuhan mementingkan keihlasan, substansi, niat dan hati?

Hati-hati, ada "proyek" yang sengaja dilakukan untuk memberangus orang atau lembaga tertentu dalam waktu 10-15 tahunan. [Oki Setiana Dewi/ emy]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ketika-perbedaan-jadi-proyek-hoax-adu-domba-di-medsos.html

Jumat, 28 September 2012

Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru

Oki Setiana Dewi - Isu tentang logo PKI (Palu-Arit) yang dihembuskan kencang sejak awal dikabarkan akan ada uang baru, menurut sumber Oki Setiana Dewi, penuh dengan misteri politik tingkat tinggi yang sulit terdeteksi karena super rumit dan rahasia.

Kata sumber Oki Setiana Dewi yang tidak berkenan disebutkan nama dan identitasnya tersebut, jika asumsi logo PKI digunakan untuk menggoyang beredarnya cetakan uang kertas baru Rp. 100.000,-, maka itu adalah "isu ora mutu" yang sangat mengada-ada.

Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru - Oki Setiana Dewi
Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru - Oki Setiana Dewi


Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru

Menurutnya, pemerintah sengaja mencetak uang kertas baru untuk "menarik kembali" cetakan uang lama yang beredar di masyarakat dengan target ingin mengetahui siapa saja para elite ber-uang di negeri ini yang punya kuburan rupiah tunai menggunung.

Jika sudah ada uang baru, pilihan bagi mereka hanya ada dua: laporkan atau investasikan. Itu saja. Jika terlalu lama menyimpan, sementara uang cash yang sudah dipegang itu dinyatakan pemerintah tidak akan berlaku lagi untuk transaksi sah, maka, ia akan terancam bangkrut dan sia-sia saja apa yang selama ini ingin disusun untuk mengatur negara.

Mungkin, alasan inilah yang bisa jadi, melahirkan ide tentang pengampunan pajak (tax amnesty), yakni memancing raja-raja duit keluar dari bungker simpanan kekayaan, -sebelum akhirnya ada keputusan cetak uang baru,-.

Oki Setiana Dewi

Oki Setiana Dewi

Padepokan Dimas Kanjeng, sebagaimana laporan Oki Setiana Dewi berjudul "Adakah Keterkaitan Dimas Kanjeng dengan Krisis Moneter dan Tragedi Ninja" pada 8 Oktober 2016 itu, konon adalah tempat aman menyimpan uang kertas tunai sejak reformasi (dengan kedok penggandaan berbasis agama), yang sangat berjasa terhadap "pencucian uang" atau "penimbunan uang kertas gelap" dari beberapa elit berduit.

Uang baru yang sudah dipublish desainnya itu, oleh kalangan anti PKI, lalu dipermasalahkan mulai dari pemilihan tokoh pahlawan yang katanya tidak pas , tokoh muslimah yang dicopot jilbabnya , hingga logonya yang dianggap berbau cina-komunis.

Uang cetak baru sengaja ditunda beredar luas karena menunggu kuburan uang tunai yang selama disimpan (mungkin salah satunya di bungker Dimas Kanjeng) bisa dimunculkan sendiri oleh debitur atau pemilik asal-usul. Sepertinya, BI hingga saat ini masih setia menunggu uang lawasnya masuk ke brangkas dulu, sebelum yang terbaru didistribusikan.

Kini, antara pemerintah dan pemilik uang, kata sumber Oki Setiana Dewi, sedang beradu kuat menahan dan "bertarung" di tingkat wacana. "Banyak yang tidak rela uangnya terdeteksi," kata sumber yang memang dirahasikan Oki Setiana Dewi tersebut.

Pertarungan itu, jika analisis ini benar, konon menggunakan tokoh ormas yang memiliki pendukung loyal atas munculnya isu PKI di Indonesia. Ideologi disalahkan (dijadikan alasan politik menarik kembali uang baru) karena logonya itu ada di desain uang cetak terbaru.

Sangat disayangkan jika yang digunakan mereka untuk menekan (menarik) peredaran uang kertas baru berlogo palu arit (asumsi) itu adalah Habib Rizieq Shihab dan FPI serta alumni 212-nya. Innalillah. .

Karena apapun itu, uang kertas tunai, dalam sejarah pemberontakan dan penggulingan bersenjata, selalu digunakan sebagai pelumas gerakan. Uang tunai juga bisa digunakan untuk kepentingan mobilisasi politik langsung seperti di Indonesia. Bukankah ini musim Pilkada serentak akhi?

Semoga saja analisis sumber Oki Setiana Dewi di atas tidak benar sehingga tidak akan terjadi adanya pemilik simpanan uang tunai yang sengaja membuang uang kertasnya ke sungai, laut, dan lobang-lobang sempit bawah tanah seperti pernah terjadi di India, hanya karena cash simpanannya itu sudah tidak bernilai tukar lagi dimana-mana.

Kalau demikian, cucu-cucu kita, pada puluhan tahun mendatang, akan mudah menemukan harta karun tidak bermanfaat ketika menggali tanah bumi pertiwi ini. Harusnya, warisan penting untuk generasi mendatang adalah persatuan, bukan perseteruan. Wallahu a'lam. [Oki Setiana Dewi/ redaksi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/antara-dimas-kanjeng-habib-rizieq-dan-isu-logo-pki-di-cetakan-uang-kertas-baru.html

Kamis, 21 Juni 2012

Ariyanto Nugroho Pimpin GP Ansor Sleman

Sleman, Oki Setiana Dewi. Ariyanto Nugroho terpilih menjadi Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman, Yogyakarta masa khidmat 2016-2020 Konferensi Cabang yang berlangsung di Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Ahad (23/10). Ia menggantikan R. Yuwan Syikro setelah memperoleh dukungan terbanyak dari empat kandidat lainnya yakni Suwardi, Syukron Arif Muttaqien, dan Ahmadi S.

Ariyanto memperoleh surat dukungan dari 9 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan 36 Ranting. Sedangkan Suwardi memperoleh surat dukungan 4 PAC, 13 Ranting, Syukron 1 PAC, 2 Ranting dan Ahmadi memperoleh dukungan 2 Ranting. Sesuai dengan tata tertib (tatib) pemilihan ketua, bakal calon ketua berhak menjadi calon dengan minimal dukungan 4 PAC dan 20 Ranting.

Ariyanto Nugroho Pimpin GP Ansor Sleman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ariyanto Nugroho Pimpin GP Ansor Sleman (Sumber Gambar : Nu Online)


Ariyanto Nugroho Pimpin GP Ansor Sleman

Berdasarkan rekap surat dukungan, hanya Ariyanto Nugroho yang memenuhi persyaratan. Dengan begitu, Ariyanto Nugroho kita nyatakan sebagai ketua PC GP Ansor Kabupaten Sleman 2016-2020, ujar Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor Ulil Archam saat memimpin sidang pleno pemilihan ketua dan formatur.

Oki Setiana Dewi

Ariyanto mengaku memimpin Ansor bukan pekerjaan yang ringan. Sebagai organisasi kepemudaan dibawah naungan Nahdlatul Ulama, Ansor diharapkan bisa mencetak kader nahdiyin yang siap menjadi kader agama, masyarakat dan kader bangsa. Ini bukan pekerjaan yang mudah dan ringan. Untuk itu perlu dukungan seluruh pihak termasuk para pengurus yang nantinya bersama kami dalam kepengurusan periode mendatang, ujar Ariyanto.

Selain pemilihan ketua, dipilih juga 6 orang formatur yang akan mendampingi Ariyanto Nugroho untuk menyusun kepengurusan PC GP Ansor masa khidmat 2016-2020. Mereka adalah R. Yuwan Syikro (Ketua Demisioner), Syaifudin Al Ghozali (PW Ansor DIY), Kecuk Sudino (PAC Turi), Churmatul Adha (PAC Tempel), Ngadimin (PAC Minggir) dan Abu Hasan Asyari (PAC Prambanan).

Oki Setiana Dewi

Sebelumnya, saat pembukaan Kepala Bagian Kesar Kabupaten Sleman Hery Suptop, mewakili Bupati Sleman, mengatakan GP Ansor mempunyai peran penting dalam pembinaan generasi muda, khususnya kalangan Nahdiyin. Sebab, Ansor sangat berpengaruh pada pola berpikir, bertindak dan bersikap para generasi muda NU ini.

Ini (menjadi pengurus Ansor, Red) merupakan tugas mulia. Untuk itu, kami sangat berharap Ansor bisa bersinergi dengan pemerintah dalam pembinaan generasi muda di Kabupaten Sleman, harapnya.

Hadir dalam pembukaan Ketua PCNU Kabupaten Sleman Ismail S. Ahmad, Kapolsek Ngaglik, Koramil Ngaglik, perwakilan Muslimat NU, IPNU, IPPNU dan perwakilan Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman. (sam/abdullah alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72380/ariyanto-nugroho-pimpin-gp-ansor-sleman-

Oki Setiana Dewi

Minggu, 25 Maret 2012

Ini Bapak Kitab Kuning di Nusantara

Oki Setiana Dewi - Berbicara tentang pesantren di Indonesia, tentu daerah Jawa Timur saat ini akan lebih dominan dari segi kultur dan pengaruhnya. Namun tahukah anda? Bahwa ternyata standarisasi pemikiran keilmuan pesantren di Indonesia berasal dari seorang Jawa Barat (Sunda).

Ini Bapak Kitab Kuning di Nusantara
Ini Bapak Kitab Kuning di Nusantara


Adalah Syaikh Nawawi al-Bantani. Seorang yang digelari Bapak Kitab Kuning Nusantara itu adalah orang Banten. Orang yang lahir di tatar Sunda. Bahkan, salah satu gurunya yang beberapa kali ia sebut dalam beberapa karyanya adalah orang Purwakarta, beliau adalah Syaikh Yusuf As-Sumbalaweni.

Karya-karya Syaikh Nawawi hingga saat ini masih menjadi bacaan standar di hampir seluruh pesantren di Nusantara. Diantaranya:

Syarh Safinatun Naja

Tijan

Sulamunajat

Nihayatu Zain

Uqudul Lujain

Syarh Riyadul Badiah

Maroqil Ubudiyah

Qomi Thugyan

Qothrul Ghaits

Nurudzholam

Tanqihul Qaul

Madarijus suud

Tafsir almunir

Dan lain-lain.

Syaikh Nawawi al-Bantani dikuburkan di Ma'la Mekah. Sebab sewaktu muda beliau pindah ke Mekkah. Beliau pernah diangkat menjadi Imam Masjidil Haram serta mengajar disana. Keilmuannya sangat luas dan terkenal ke seluruh dunia.

Diantara murid Syaikh Nawawi al-Bantani adalah Syaikona Kholil Bangkalan, K.H. Hasyim Asy'ari, dan Mama Tubagus Bakri Sempur. [Oki Setiana Dewi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/ini-bapak-kitab-kuning-di-nusantara.html

Rabu, 16 November 2011

Cara Syekh Mahfudz Attarmasi Berbakti pada Tanah Air

Sebagai salah seorang ulama Nusantara berkaliber internasional yang kepakaran dan keilmuannya di bidang agama diakui dunia Islam, Syekh Mahfudz bin Abdullah Attarmasi tidak lantas melupakan tanah kelahiranya begitu saja. Ia yang dilahirkan dari daerah kecil di Kabupaten Pacitan yang bernama Tremas itu masih tetap berbakti terhadap tanah airnya, Indonesia.

Kecintaanya pada tanah kelahiran, yang pertama diwujudkan dengan seringnya Syekh Mahfudz menggunakan Bahasa Jawa sebagai ciri khasnya saat mengajar para santrinya di Masjidil Haram Mekah. Penggunaan Bahasa Jawa itu tidak terlepas dari banyaknya santri yang berasal dari Jawa. Walaupun tidak sedikit santri yang berasal dari luar Jawa, bahkan luar Indonesia seperti Thailand, Malaysia, India dan Syiria.

Cara Syekh Mahfudz Attarmasi Berbakti pada Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Syekh Mahfudz Attarmasi Berbakti pada Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)


Cara Syekh Mahfudz Attarmasi Berbakti pada Tanah Air

Sementara beberapa tradisi muslim Nusantara seperti dibaan dan tahlilan pada masa Syekh Mahfudz juga dilakukan dengan baik di sana. Diceritakan, tiap datang bulan maulid, nuansa tradisi muslim Jawa terasa begitu kental. Layaknya tradisi di Jawa, lantunan sholawat nabi dan terbangan bergema di serambi Masjidil Haram.

Oki Setiana Dewi

Syekh Mahfudz berangkat ke Mekah bersama adiknya, Kiai Dimyathi pada tahun 1872 M. Ia mulai mengajar di Masjidil Haram sejak tahun 1890 M. Sewaktu ayahnya (Kiai Abdullah) wafat pada tahun 1894 M, ia mengirim adiknya, Kiai Dimyathi untuk pulang ke Jawa. Kemudian Kiai Dimyathi inilah yang menjadi kiai di Tremas. Sementara ia tidak kembali ke Nusantara dan memilih berkarir di Mekah.

Meskipun tidak pernah mengajar di Pesantren Tremas, Syekh Mahfudz turut mengangkat dan mengharumkan nama pesantren yang didirikan kakeknya, Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo, pada tahun 1830 M itu hingga terkenal ke saentero dunia.

Oki Setiana Dewi

Tiap musim haji tiba, banyak orang Jawa bermukim di Mekah dan berguru langsung kepada Syekh Mahfudz. Bila santrinya hendak kembali pulang ke Jawa, Syekh Mahfudz selalu menitipkan salam untuk saudaranya yang berada di Jawa. Selain itu, para santrinya juga diminta untuk meneruskan belajar kepada adiknya, Kiai Dimyathi yang kala itu mulai mengasuh Pesantren Tremas.

Ini merupakan cara Syaikh Mahfudz mengenalkan Pesantren Tremas kepada para santrinya sehingga sejak saat itu Pesantren Tremas mulai banyak didatangi para santri dari penjuru Nusantara.

Padahal sebelumnya sulit dibayangkan, Tremas yang terletak di daerah Pacitan yang kala itu sulit dijangkau oleh manusia karena daerahnya yang berbukit-bukit dan masih berupa hutan belantara serta belum tersedianya sarana transportasi yang memadai dapat dikenal luas sebagai tempat untuk menimba ilmu.

Selanjutnya seperti kebanyakan ulama Nusantara lainya, Syekh Mahfudz kembali mengabadikan nama tempat ia dilahirkan dengan menyandangkan nama Attarmasi di belakang namanya. Seperti Syekh Nawawi yang menisbatkan nama Banten menjadi Al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minagkabawi yang menisbatkan nama Minangkabau.

Sedang nama Attarmasi merupakan nisbat dari sebuah desa bernama Tremas. Keterangan lain menyebut Atturmusi dan Attirmisi, namun nama yang paling populer adalah Attarmasi. Hingga kesohorlah nama Syekh Mahfudz Attarmasi, yang berarti ulama dari daerah Tremas.

Tidak sampai di situ, ia juga menulis nama Attarmasi pada judul kitab yang dikarangnya. Yaitu kitab Hasyiah at-Tarmasi ala Syarah Bafadhal dan Al-Fawaidz At-Tirmisiah ala As-Sanid Al-Qiroat Asariyahs.

Asal Mula Nama Tremas

Tremas berasal dari kata Patrem yang berarti senjata atau keris kecil dan Mas berasal dari kata emas yang berarti logam mulia yang biasa dipakai untuk perhiasan kaum wanita. Kata ini berkaitan erat dengan cerita tentang dibukanya sebuah hutan yang akhirnya dinamakan Tremas. Yang pertama kali membuka hutan tersebut adalah seorang punggawa keraton Surakarta yang bernama Ketok Jenggot atas perintah raja keraton Surakarta sebagai hadiah atas jasanya yang telah berhasil mengamankan keraton dari mara bahaya.

Perlu diketahui, bahwa sebelum Ketok Jenggot membuka hutan Tremas, di daerah tersebut sudah ada sekelompok orang yang lebih dahulu datang dan bermukim, yaitu R Ngabehi Honggowijoyo (ayah Kiai Abdul Manan, pendiri pertama Pesantren Tremas). Maka dari itu setelah meminta izin dan memberi keterangan tentang tugasnya, barulah Ketok Jenggot mulai melaksanakan tugasnya dengan membuka sebagian besar hutan di daerah tersebut.

Setelah tugasnya selesai, senjata Patrem Emas yang dibawanya itu kemudiam ditanam di tempat ia pertama kali membuka hutan tersebut, dan akhirnya daerah yang baru dibukanya tersebut diberi nama Tremas.

Melalui cerita singkat ini, sangat tepat apabila seseorang ingin selalu dikenang, maka ia harus meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Selaras dengan ungkapan Barangsiapa yang tidak punya tanah air, maka tidak mungkin punya sejarah. Barangsiapa yang tidak punya sejarah, maka akan terlupakan.

*) Disarikan dari buku Mengenal Pondok Tremas dan Perkembanganya, dan terjemah kitab Al-Minhah Al-Khoiriyyah; Kumpulan 40 Hadits Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdulllah Attarmasi. (Zaenal Faizin)

Dari (Fragmen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67289/cara-syekh-mahfudz-attarmasi-berbakti-pada-tanah-air

Oki Setiana Dewi

Rabu, 17 Maret 2010

IPNU-IPPNU NTB Siap Kawal Pelajar dari Ekses Negatif Teknologi

Mataram, Oki Setiana Dewi. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) menggelar kegiatan Safari Ramadhan di Masjid Desa Trengan, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Safari mendapat sambutan positif dari tokoh masyarakat setempat.

Tim safari yang dipimpin Syamsul Hadi selaku Ketua PW IPNU NTB dan Baiq Masisarah selaku Ketua PW IPPNU NTB ini disambut langsung oleh tokoh setempat TGH Mukhtar yang juga Mustasyar PCNU Lombok Utara didampingi Jalil, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lombok Utara.

IPNU-IPPNU NTB Siap Kawal Pelajar dari Ekses Negatif Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU NTB Siap Kawal Pelajar dari Ekses Negatif Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU NTB Siap Kawal Pelajar dari Ekses Negatif Teknologi

Syamsul Hadi dalam kesempatan itu memperkenalkan rombongan dan menyatakan komitmennya sebagai organisasi NU beranggotakan pelajar untuk mengawal para pelajar di NTB. "IPNU-IPPNU adalah anaknya NU yang paling kecil. Kami adalah adiknya Ansor," kata alumni Pendidikan Fisika IKIP Mataram ini, Rabu (22/6).

Oki Setiana Dewi

Meski menjadi anak bungsu, IPNU-IPPNU NTB bertekad hadir memfasilitasi dan mendampingi para belajar pelajar. Pihaknya berjanji akan membentengi para remaja itu dari imbas negatif kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat.

Menurutnya, teknologi memang memberikan dampak positif, misalnya kecepatan akses informasi dari mana saja. Namun sisi negatif dengan kemajuan teknologi saat ini begitu mudahnya generasi khususnya pelajar mengakses konten-konten yang tidak prodoktif dan berdampak pada pergaulan yang tidak sehat, ujar Hadi yang merupkan alumni Pondok Pesantren Al Mansuriah Bonder Lombok Tengah ini.

Oki Setiana Dewi

Ustadz Azrai Gazali selaku penceramah dalam safari ini mendorong kepada masyarakat agar menjaga anak-anaknya dari hal-hal yang tidak baik. Orang tua, katanya, harus peka terhadap anaknya karena Lombok Utara adalah kawasan yang cantik dan menjadi sorotan dunia. Budaya-budaya luar akan mudah masuk dan mempengaruhi perilaku negatif para remaja.

Selain safari, pelajar NU NTB ini juga aktif menyemarakkan Ramadhan mulai dari shalat isya dan tarawih berjamaah di sekretariannya di Jalan P No 44 Perumahan Elit Lingkar Selatan Kota Mataram. (Red: Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69251/ipnu-ippnu-ntb-siap-kawal-pelajar-dari-ekses-negatif-teknologi

Oki Setiana Dewi

Kamis, 14 Januari 2010

Bagaimana Kabar NU Digital World?

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Juli 2016 lalu, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) meluncurkan program NU Digital World (NDW) di Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon.

Peluncuran program ini menjadi penting di saat warga dan pengurus NU yang ada di daerah kesulitan dalam mengakses informasi tentang keislaman, khususnya tentang ke-NUan.

Bagaimana Kabar NU Digital World? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Kabar NU Digital World? (Sumber Gambar : Nu Online)


Bagaimana Kabar NU Digital World?

Mereka (warga dan pengurus NU) cukup memilik hape yang berbasis android. Mereka sudah bisa mengakses informasi-informasi ke-NUan, karena problem sampai saat ini yang ada di daerah-daerah itu terbatasnya literatur dan referensi ke-NUan, kata Kepala Perpustakaan PBNU H Syatiri saat ditemui di Ruang Perpustakaan PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (8/2).

Menurutnya, jumlah koleksi yang sudah digitalisasi oleh Perpustakaan PBNU mencapai 2333 dengan memprioritaskan produk-produk NU seperti hasil muktamar dari masa ke masa, AD/ART NU dari masa ke masa, dan juga dokumen-dokumen Banom NU.

Oki Setiana Dewi

Sementara perpustakaan sebagai pengelola program NDW ini masih mengalami kendala terkait jaringan internetnya yang belum baik.

Yang kita rasakan sekarang soal jaringan internet karena NDW itu berbasis internet. Sekarang ini menggunakan wifi, tapi sinyalnya kecil sekali, kadang dapat kadang tidak, ungkapnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Oki Setiana Dewi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75281/bagaimana-kabar-nu-digital-world

Oki Setiana Dewi

Sabtu, 13 September 2008

Depag Tahun ini Angkat 97.000 PNS

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Departemen Agama pada tahun ini akan mengangkat 97.000 orang sebagai PNS terutama dalam sektor pendidikan yang meliputi guru dan dosen.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Menteri Agama Said Agil Al Munawwar ketika memberikan sambutan pada acara pengukuhan guru besar pada Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, MA dan Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (20/03).

Ungkapan menag tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah oleh para hadirin yang mana sebagian merupakan orang-orang yang bergelut dalam pendidikan Islam.

Depag Tahun ini Angkat 97.000 PNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Depag Tahun ini Angkat 97.000 PNS (Sumber Gambar : Nu Online)


Depag Tahun ini Angkat 97.000 PNS

Jumlah ini merupakan jumlah maksimal yang kita dapatkan. ungkap khatib aam PBNU tersebut. Namun demikian ia tidak menjelaskan berapa jumlah sebenarnya yang diajukan oleh depag ketika ditanya Oki Setiana Dewi.

Sebagaimana diketahui, dengan kebijakan zero growth di berbagai daerah, dengan jarangnya pengangkatan guru agama, maka dalam beberapa tahun ke depan, akan terjadi kekurangan guru agama karena pada tahun 2006-2008 akan banyak terjadi pansiun untuk mereka yang diangkap pada tahun 1967.

Berita ini tentu saja disambut dengan gembira oleh para lulusan Tarbiyah di berbagai IAIN di seluruh Indonesia yang saat ini banyak menjadi guru honorer di berbagai sekolah dan madrasan dengan pendapatan yang sangat tidak layak.

Namun demikian, bukan berarti permasalahan pendidikan agama selesai dengan peningkatan jumlah guru agama tersebut. Gaji yang masih belum memadai dan sarana serta prasarana pendidikan yang kurang memadai masih menjadi kendala pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam.

Oki Setiana Dewi

Saat ini dilingkungan NU saja terdapat banyak sekali madrasah atau pesantren yang dikelola sendiri oleh masyarakat. Dengan dukungan dan bantuan dari pemerintah, tentu saja kualitas pendidikan yang diperoleh anak didik akan lebih baik yang dalam hal ini juga akan meningkatkan kualitas generasi muda bangsa.(mkf)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/1367/depag-tahun-ini-angkat-97000-pns

Oki Setiana Dewi

Oki Setiana Dewi

Senin, 19 Juni 2006

VP tells NU to set example of morality in Islam

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Vice President Jusuf Kalla has asked the Indonesias largest Muslim organization Nahdlatul Ulama (NU) to set an example of morality in Islam, considering that it cannot be expected to happen in Middle Eastern countries.

"NU should be able to become a leader in developing Islam in Indonesia," NU general chairman KH Said Aqil Siradj was quoted by Republika daily as saying here on Friday (30/01).

VP tells NU to set example of morality in Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
VP tells NU to set example of morality in Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


VP tells NU to set example of morality in Islam

Said met with Jusuf Kalla to deliver an invitation for NUs 89th anniversary celebration, which will be held on Saturday night (31/01).

On NUs 89th anniversary, he noted, the Vice-President will inaugurate 23 of its universities and a mosque under the central office.

Oki Setiana Dewi

He remarked that NU wwould support the government to follow the constitution and improve the peoples welfare.

Oki Setiana Dewi

"We will give our feedback or advice to the government if we find that its policies do not support the people," he affirmed.

When asked about the death penalty for drug dealers, he observed that NU agreed with the rejection of their clemency pleas.

He added that during the meeting, the Vice-President also suggested that the thoughts of both KH Mustofa Bisri and KH Abdurrahman Wahid be published into books, which should be translated into English and Arabic.

"Islam in Indonesia should become known to the international community," he said.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57372/vp-tells-nu-to-set-example-of-morality-in-islam

Oki Setiana Dewi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Oki Setiana Dewi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Oki Setiana Dewi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Oki Setiana Dewi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock