Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2016

Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli

Hatim Al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Terdapat sebuah kisah penuh hikmah yang mendasari kata al-asham, berarti tuli, yang menjadi julukannya, sebagaimana diriwayatkan Imam Ghazali dalam kitab Nashaihul Ibad.

Sejatinya Hatim tidak-lah tuli, hingga pada suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu. Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya.

Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli (Sumber Gambar : Nu Online)


Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli

Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras.

Oki Setiana Dewi

Tolong bicara yang keras! Saya tuli,

Namun, yang bertanya justru bingung. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim.

Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan, teriak Hatim.

Oki Setiana Dewi

Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim ini seorang yang tuli. Ia pun merasa sedikit lega, karena suara kentutnya tidak didengar Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya.

Sejak saat itu, Hatim mendadak menjadi tuli dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun. (Ajie Najmuddin)

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55751/kisah-ulama-15-tahun-pura-pura-tuli

Oki Setiana Dewi

Selasa, 24 November 2015

Kurban Muslimat NU Malaysia Meningkat dari Tahun Sebelumnya

Kuala Lumpur, Oki Setiana Dewi. Setelah bekerja keras, Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU) Malaysia akhirnya berhasil mengumpulkan 6 ekor sapi untuk Hari Raya Qurban tahun ini. Jumlah kurban tersebut merupakan tersbesar dari tahun-tahun sebelumnya.

Alhamdulilah dari sejak dilantik pada 10 Agustus 2014, Muslimat NU Malaysia sudah tiga kali memfasilitasi penyembelihan kurban, kata Ketua MNU Malaysia Mimin Mintarsih, Rabu (14/9).

Kurban Muslimat NU Malaysia Meningkat dari Tahun Sebelumnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban Muslimat NU Malaysia Meningkat dari Tahun Sebelumnya (Sumber Gambar : Nu Online)


Kurban Muslimat NU Malaysia Meningkat dari Tahun Sebelumnya

Selain berasal dari para pengurus MNU dan masyarakat Sungai Mulia 5, dana hewan kurban ini juga melibatkan beberapa donatur dari Singapura. Para donatur dari Singapura itu sebenarnya adalah masih keluarga kita sendiri. Alhamdulillah, dengan cara seperti ini, hubungan silaturrahim kita semakin erat, tambahnya.

Oki Setiana Dewi

Total donasi yang terkumpul adalah RM 27.000. Dan pengumpulan dana kurban tahun ini (2016, red) merupakan terbesar dari 3 tahun sebelumnya, akunya bangga.

Dari keenam sapi tersebut, 4 ekor dipotong pada hari pertama dan 2 lainnya pada hari kedua. Proses penyembelihan dan pembagiannya juga melibatkan elemen masyarakat dan pengurus NU. Daging kurban kami distribusikan ke masyarakat sekitar, pengurus muslimat cabang dan rantingnya, para anak-anak yatim, ibu-ibu janda dan golongan yang kurang mampu, tambahnya.

Oki Setiana Dewi

Ia berharap semoga qurban tahun ini diterima oleh Allah dan dilipatgandakan pahalanya. Kepada para pengurus NU yang datang dan ikut membantu, di antaranya PCINU dan KMNU, juga diucapkan ribuan terima kasih, pungkasnya. (Aziz/Abdullah Alawi)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71216/qurban-muslimat-nu-malaysia-meningkat-dari-tahun-sebelumnya-

Senin, 31 Agustus 2015

Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji

Oki Setiana Dewi - Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud.

Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji
Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji


KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafadz “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya.

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”. KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.

Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

KH. Sya’roni terdiam. Betapa berbudinya murid yang satu ini. Lama tidak pernah bertemu, kini jauh-jauh mendatangi guru masa kecilnya untuk menawari sebuah mobil gratis. Sebuah mobil yang dimaksud mengganti sepeda tua untuk berangkat mengajar ke madrasah. Cukup geli rasanya mengingat betapa biasanya murid di madrasahnya sering menunggak SPP. Sekarang malah ada murid yang menawari mobil baru gratis. KH. Sya’roni menangis, terharu dengan tingkah kolonel santun ini.

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm… apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.”

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas. [Oki Setiana Dewi/ istahiyyah]

Keterangan:

Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada peringatan harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di gedung JHK, Kudus, Rabu Pon (12 Muharrom 1436 H).

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ini-ijazah-kh-syaroni-ahmadi-kudus-bisa-cepat-naik-haji.html

Rabu, 01 Oktober 2014

Antar-Media NU Harus Jaga Sinergi dan Resonansi

Malang, Oki Setiana Dewi. Potensi media di Nadlatul Ulama (NU) sangat besar. Ada kearifan lokal, tokoh atau ulama dan kiai dengan pandangan Islam ramah, kegiatan yang dilaksanakan umat demikian berfariasi, serta potensi lain. Kalau setiap daerah melakukan sinergi kekuatan yang ada, bukan tidak mungkin hal tersebut menjadi kekuatan dahsyat di kemudian hari.

"Kita bisa saling mendukung dan berbagi ide maupun gagasan, serta potensi apa saja yang ada di daerah," kata Sururi Arumbani, Ahad (27/3). Justru liputan berbasis daerah menjadi khazanah bagi keberadaan Islam Nusantara yang didengungkan NU, lanjut Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PW LTNNU Jatim) ini.

Antar-Media NU Harus Jaga Sinergi dan Resonansi (Sumber Gambar : Nu Online)
Antar-Media NU Harus Jaga Sinergi dan Resonansi (Sumber Gambar : Nu Online)


Antar-Media NU Harus Jaga Sinergi dan Resonansi

Sejumlah potensi daerah tersebut di antaranya adalah profil para kiai dan ulama setempat dalam mendampingi umat, khidmat para perempuan yang melakukan pemberdayaan kesehatan dan ekonomi, anak muda yang telaten mendampingi pemuda dan sejenisnya. "Saya rasa kreasi seperti ini layak ditampilkan di sejumlah media yang dikelola NU," katanya.

Pemimpin Redaksi di TV9 Surabaya ini juga mengingatkan bahwa liputan daerah tersebut dapat dishare atau dibagi kepada komunitas media NU di berbagai tempat. "Bisa jadi hal tersebut akan menjadi inspirasi untuk dilakukan di daerah lain," ungkapnya.

Oki Setiana Dewi

"Inilah yang dinamakan dengan sinergi dan resonansi media NU lintas daerah," terang Kang Sururi, sapaan akrabnya. Bahkan bila digarap dengan serius, potensi para kiai lokal akan juga menjadi tokoh yang disegani di level nasional.

Oki Setiana Dewi

Karena dalam pandangan dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya ini, para tokoh yang kini telah mencapai level nasional dan bisa berbicara terkait isu global adalah mereka yang banyak belajar dari bawah dengan muatan lokal. "Kita ingin kiai, ulama, gus dan ustadz yang layak berbicara di level nasional adalah mereka yang telah melewati jam terbang di daerah dengan kapasitas dan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan," ungkapnya.

Ungkapan senada disampaikan Ahmad Najib AR yang juga Ketua PW LTN NU Jatim. "Saatnya mulai ditumbuhkan kesadaran bersama bahwa potensi para kiai NU layak ditampilkan di publik karena memang memiliki kedalaman pengetahuan agama dan wawasan kenegaraan," kata Gus Najib, sapaan akrabnya.

Sebelumnya, Sekretaris PC LTN NU Kota Malang, Mahmudi mengingatkan bahwa ada banyak tokoh nasional di Kota Malang dengan latarbelakang NU. "Demikian pula para kiai di sini juga layak dimunculkan di media," katanya.

Potensi serupa tentu saja ada di kota dan kabupaten lain di seluruh Indonesia. "Karenanya, sinergi antar media NU dengan muatan lokal di daerah setempat adalah sebuah kebutuhanyang tidak terhindarkan," kata pegiat media lokal di Malang tersebut.

Sejumlah masukan sihasilkan dari diskusi intensif antara PW dan PC LTN NU se-Jawa Timur yang diselenggarakan di kantor PCNU Kota Malang tersebut. Para peserta juga menyampaikan laporan kegiatan sekaligus berbagai kendala yang dihadapi di daerah. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66862/antar-media-nu-harus-jaga-sinergi-dan-resonansi

Oki Setiana Dewi

Kamis, 08 November 2012

Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan

Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan di dalam sirahnya bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Pada setiap generasi umatku terdapat manusia-manusia adil dari kalangan Ahlul Baitku, yang menyingkirkan dari agama ini segala bentuk penyimpangan orang-orang yang sesat, pemalsuan orang-orang yang batil, dan petakwilan orang-orang yang bodoh."

Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan
Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan


Di kalangan dunia penuntut ilmu di pondok-pondok pesantren, nama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sudah tidak asing lagi. Namanya harum dan masyhur di kalangan mereka karena sebagian besar sanad keilmuan para ulama Nusantara (Indonesia, Malaysia dan Pathani) bersambung kepada ulama besar ini. Beliau sangat terkenal sebagai seorang ulama pembela Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menentang faham Wahabi, sehingga ulama besar ini sangat dibenci dan amat dimusuhi oleh golongan wahabi. Maka, banyak fitnah yang ditaburkan terhadap beliau. Tujuannya tidak lain agar umat Islam yang tidak tahu yang sebenarnya, menjauh.

Menurut riwayat, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan lahir di Makkah pada 1232H /1816M. Selesai menimba ilmu di kota kelahirannya, ia lantas dilantik menjadi mufti Mazhab Syafi'i, merangkap “Syeikhul Harom”, suatu pangkat ulama tertinggi saat itu yang mengajar di Masjidil Harom yang diangkat oleh Syeikhul Islam yang berkedudukan di Istanbul, Turki.

Ulama besar inilah yang telah memberi perlindungan kepada Syaikh Rahmatullah bin Kholilurrohman al-Kironawi al-Hindi al-Utsmani ( lahir 1226H /1811M, riwayat lain lahir Jumadil Awwal 1233H /9 Maret 1818M, wafat malam Jum`at, 22 Ramadan 1308H /2 Mei 1891M) ketika diburu oleh penjajah Inggris bahkan beliau memperkenalkannya kepada pemerintah Makkah. Sehingga Syeikh Rahmatullah mendapat izin untuk membuka Madrasah Shoulatiyah.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan merupakan seorang Syeikhul Islam, Mufti Haromain dan Pembela Ahlus Sunnah Wal Jama`ah. Berasal dari keturunan yang mulia, ahlul bait Rosulullah Saw. Silsilah beliau bersambung kepada Sayyidina Hasan, cucu kesayangan Rasulullah SAW. Berdasarkan kitab Taajul-A`raas, Juz 2, halaman 702 karya al-Imam al-A`llaamah al-Bahr al-Fahhamah al-Habib A`li bin Husain bin Muhammad bin Husain bin Ja`far al-A`ththoos disebutkan urutan nasabnya seperti berikut: Al-Imam al-Ajal wal-Bahrul Akmal Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi wa Hafidzu Haditsin Nabi S.a.w. wa Kawakibu Sama-ihi, Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin asy-Sayyid Ahmad

bin Zaini Dahlan

bin Ahmad Dahlan

bin ‘Utsman Dahlan

bin Ni’matUllah

bin ‘Abdur Rahman

bin Muhammad

bin ‘Abdullah

bin ‘Utsman

bin ‘Athoya

bin Faaris

bin Musthofa

bin Muhammad

bin Ahmad

bin Zaini

bin Qaadir

bin ‘Abdul Wahhaab

bin Muhammad

bin ‘Abdur Razzaaq

bin ‘Ali

bin Ahmad

bin Ahmad (Mutsanna)

bin Muhammad

bin Zakariyya

bin Yahya

bin Muhammad

bin Abi ‘Abdillah

bin al-Hasan

bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya

bin Abi Sholeh

bin Musa

bin Janki Dausat Haq

bin Yahya az-Zaahid

bin Muhammad

bin Daud

bin Muusa al-Juun

bin ‘Abdullah al-Mahd

bin al-Hasan al-Mutsanna

bin al-Hasan as-Sibth

bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul rodliyallahu ‘anhuma wa `anhum ajma`in.

Murid-muridnya: Diantara murid-murid beliau yang terkenal ialah Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi, pengarang “I’anathuth-Tholibin Syarh Fath al-Mu’in karya al-Malibary” yang masyhur, Sayyidil Quthub al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas, Sayyid Abdullah az-Zawawi Mufti Syafi`iyyah, Mekah. Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi telah mengarang kitab bernama “Nafahatur Rohman” yang merupakan manaqib atau biografi kebesaran gurunya Sayyid Ahmad.

Adapun ulama-ulama Nusantara yang pernah berguru dengan ulama besar ini ialah:- Syeikh Nawawi bin Umar Al-Jawi Al-Bantani (Jawa Barat)

Syeikh Abdul Hamid Kudus (Jawa Timur)

Syeikh Muhammad Khalil al-Maduri (Jawa Timur)

Syeikh Muhammad Saleh bin Umar, Darat (Semarang)

Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi (Sumatra Barat)

Syeikh Hasyim Asy’ari Jombang (Jawa Timur)

Sayyid Utsman bin ‘aqil bin Yahya Betawi (DKI Jakarta)

Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani (Jawa Barat)

Tuan guru Kisa-i Minankabawi [atau namanya Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di dunia Melayu. Satu, putra beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Kedua, cucu beliau, Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

Syeikh Muhammad bin Abdullah as-Shuhaimi

Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni

Tuan Hussin Kedah (Malaysia)

Syeikh Ahmad Yunus Lingga,

Datuk Hj Ahmad (Ulama Brunei Dar as-Salam)

Tok Wan Din, nama lengkapnya Syeikh Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathoni,

Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni (Tok Bendang Daya II),

Haji Utsman bin Abdullah al-Minankabawi, Imam, Khatib dan Kadi Kuala Lumpur yang pertama,

Syeikh Muhammad al-Fathoni bin Syeikh `Abdul Qadir bin `Abdur Rahman bin `Utsman al-Fathoni

Sayyid `Abdur Rahman al-Aidrus (Tok Ku Paloh)

Syeikh `Utsman Sarawak

Syeikh Abdul Wahab Rokan

Dan lain-lain.

Para ulama banyak memberikan gelar kepada beliau antara lain sebagai al-Imam al-Ajal (Imam pada waktunya), Bahrul Akmal (Lautan Kesempurnaan), Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi (Ketunggalan masa dan waktunya), Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi (Syaikh Ilmu dan Pembawa benderanya) Hafidzu Haditsin Nabi SAW wa Kawakibu Sama-ihi (Penghafal Hadits Nabi SAW. dan Bintang-bintang langitnya), Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin (Tumpuan para murid dan Pendidik para salik), dan lain-lain.

Inilah orang yang difitnah dan dituduh oleh gembong-gembong wahabi sebagai tukang fitnah. Ketahuilah bahwa orang yang pertama kali memfitnah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah Rasyid Ridha murid Muhammad Abduh yang mengarang “Tafsir al-Manar” rujukan kaum Wahabi. Tujuan mereka memfitnah Sayyid Ahmad adalah untuk memusnahkan ilmu dan pengetahuan yang sebenarnya, agar kebatilan mereka diterima. Sesungguhnya Sayyid Ahmad bersih dari tuduhan musuh-musuhnya tersebut, beliau adalah ulama yang tsiqat (yang bisa dipercaya).

Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dalam “Nafahatur Rohman” antara lain menulis:- “Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan r.a. hafal al-Qur`an dengan baik dan menguasai 7 cara bacaan Qur`an (Qiroatus Sab`ah). Beliau juga hafal kitab “asy-Syaathibiyyah” dan “al-Jazariyyah”, dua kitab yang sangat bermanfaat bagi pelajar yang hendak mempelajari qiroah sab`ah. Karena cinta dan perhatiannya pada al-Qur`an, beliau memerintahkan sejumlah qori untuk mengajar ilmu ini, beliau kawatir ilmu ini akan hilang jika tidak diajarkan terus.”

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany kembali ke rahmatullah pada tahun 1304 H /1886 M setelah menghabiskan usianya di jalan Allah berkhidmat untuk agama-Nya. Beliau dimaqamkan di Madinah al-Munawwarah. Sangat amat besar jasa ulama ini dalam mempertahankan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah sehingga beliau dijadikan tempat gembong-gembong wahabi ahlul bughoh melepas geram dengan berbagai fitnah dan cacian.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang ulama yang produktif. Selain melahirkan para ulama beliau juga menghasilkan karangan yang sangat banyak, diantaranya adalah: 1. Al-Futuhatul Islamiyyah;

2. Tarikh Duwalul Islamiyyah;

3. Khulasatul Kalam fi Umuri Baladil Haram;

4. Al-Fathul Mubin fi Fadhoil Khulafa ar-Rasyidin;

5. Ad-Durarus Saniyyah fi raddi ‘alal Wahhabiyyah;

6. Asnal Matholib fi Najati Abi Tholib;

7. Tanbihul Ghafilin Mukhtasar Minhajul ‘Abidin;

8. Hasyiah Matan Samarqandi;

9. Risalah al-Isti`araat;

10. Risalah I’raab Ja-a Zaidun;

11. Risalah al-Bayyinaat;

12. Risalah fi Fadhoilis Sholah;

13. Shirathun Nabawiyyah;

14. Syarah Ajrumiyyah;

15. Fathul Jawad al-Mannan;

16. Al-Fawaiduz Zainiyyah Syarah Alfiyyah as-Sayuthi;

17. Manhalul ‘Athsyaan; dll.

“ad-Durarus Saniyyah fir raddi alal Wahhabiyyah” (Mutiara-mutiara yang amat berharga untuk menolak faham Wahhabi). Inilah diantara kitab karangan Panutan kita Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasany. Kitab inilah yang menyebabkan gerombolan wahabi marah dan murka dengan Sayyid Ahmad. Diantara isi kitab ini ialah penjelasan mengenai hukum ziarah ke maqbaroh Nabi Muhammad SAW, hukum tawassul, hukum istighotsah, hukum tabarruk (ngalap berkah), kesesatan wahabi, penolakan ulama terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab dan sejarah muncul dan perlakuan Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mengatakan: "Abd al-Wahhab, bapak Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang salih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitu juga dengan al-Syaikh Sulaiman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulaiman, keduanya dari awal ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Keduanya telah mengkritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad. [ tuqilan Sayyid Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, hlm. 357].

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Dalam keterangan beliau yang lain dikatakan bahwa bapaknya `Abd al-Wahhab, saudaranya Sulaiman dan guru-gurunya telah dapat mengenali tanda-tanda penyelewengan agama (ilhad) dalam diri Muhammad yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap banyak persoalan agama. [Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, hlm. 357].

Dari Kitab ad-Durarus Saniyyah fir raddi alal Wahhabiyyah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi’i menulis: "Diantara sifat-sifat wahabi yang tercela ialah kebusukan dan kekejiannya dalam melarang orang berziarah ke makam dan membaca sholawat atas Nabi SAW, bahkan dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) sampai menyakiti orang yang hanya sekedar mendengarkan bacaan sholawat dan yang membacanya di malam Jum’at serta yang mengeraskan bacaannya di atas menara-menara dengan siksaan yang amat pedih.

Pernah suatu ketika salah seorang lelaki buta yang memiliki suara yang bagus bertugas sebagai muadzin, dia telah dilarang mengucapkan shalawat di atas menara, namun lelaki itu selesai melakukan adzan membaca shalawat, maka langsung seketika itu pula dia diperintahkan untuk dibunuh, kemudian dibunuhlah dia, setelah itu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Perempuan-perempuan yang berzina di rumah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara-menara dengan membaca shalawat atas Nabi. Kemudian dia memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk memelihara kemurnian tauhid (kayaknya orang ini maniak atau menderita sindrom tertentu -red). Maka betapa kejinya apa yang diucapkannya dan betapa jahatnya apa yang dilakukanya ( mirip revolusi komunisme -red)."

Tidak hanya itu saja, bahkan diapun membakar kitab Dalailul Khairat (Kitab ini yang dibaca para pejuang Afghanistan sehingga mampu mengusir Uni Sovyet/Rusia, namun kemudian Wahabi mengirim Taliban yang akan membakar kitab itu -red.) dan juga kitab-kitab lainnya yang memuat bacaan-bacaan shalawat serta keutamaan membacanya ikut dibakar, sambil berkata apa yang dilakukan ini semata-mata untuk memelihara kemurnian tauhid.

Muhammad bin Abdul Wahhab juga melarang para pengikutnya membaca kitab-kitab fiqih, tafsir dan hadits serta membakar sebagian besar kitab-kitab tersebut, karena dianggap susunan dan karangan orang-orang kafir. Kemudian menyarankan kepada para pengikutnya untuk menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sehingga para pengikutnya menjadi biadab dan masing-masing menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sekalipun tidak secuil-pun dari ayat Al Qur’an yang dihafalnya.

Lalu ada seseorang dari mereka berkata kepada seseorang: “Bacalah ayat Al Qur’an kepadaku, aku akan menafsirkanya untukmu, dan apabila telah dibacakannya kepadanya maka dia menafsirkan dengan pendapatnya sendiri. Dia memerintahkan kepada mereka untuk mengamalkan dan menetapkan hukum sesuai dengan apa yang mereka fahami serta memperioritaskan kehendaknya di atas kitab-kitab ilmu dan nash-nash para ulama, dia mengatakan bahwa sebagian besar pendapat para imam keempat madzhab itu tidak ada apa-apanya.

Sekali waktu, kadang memang dia menutupinya dengan mengatakan bahwa para imam ke empat madzhab Ahlussunnah adalah benar, namun dia juga mencela orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Dan di lain waktu dia mengatakan bahwa syari’at itu sebenarnya hanyalah satu, namun mengapa mereka (para imam madzhab) menjadikan empat madzhab. Ini adalah kitab Allah dan sunnah Rasul, kami tidak akan beramal kecuali dengan berdasar kepada keduanya dan kami sekali-kali tidak akan mengikuti pendapat orang-orang Mesir, Syam dan India. Yang dimaksud adalah pendapat tokoh-tokoh ulama Hambaliyyah dan lainnya dari ulama-ulama yang menyusun buku-buku yang menyerang fahamnya.

Dan, dialah orang yang mengurangi keagungan Rasulullah SAW atas dasar memelihara kemurnian tauhid. Dia mengatakan bahwa Nabi SAW itu tak ubahnya :”Thorisy”. Thorisy adalah istilah kaum orientalis yang berarti seseorang yang diutus dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Artinya, bahwa Nabi SAW itu adalah pembawa kitab, yakni puncak kerasulan beliau itu seperti “Thorisy” yang diperintah seorang amir atau yang lain dalam suatu masalah untuk manusia agar disampaikannya kepada mereka, kemudian sesudah itu berpaling (atau tak ubahnya seorang tukang pos yang bertugas menyampaikan surat kepada orang yang namanya tercantum dalam sampul surat, kemudian sesudah menyampaikannya kepada yang bersangkutan, maka pergilah dia. Dengan ini maka jelaslah bahwa kaum Wahabi hanya mengambil al Qur’an sebagian dan sebagian dia tinggalkan).

Diantara cara dia mengurangi ke-agungan Rasulullah SAW, ia pernah mengatakan : “AKU MELIHAT KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH, MAKA AKU DAPATI SEMESTINYA BEGINI DAN BEGINI”, dengan maksud menghina dan mendustakan Nabi SAW (seolah-olah mereka tahu waktu Nabi SAW membuat perjanjian itu –pen.) dan seterusnya masih banyak lagi nada-nada yang serupa yang dia ucapkan, sehingga para pengikutnya pun melakukan seperti apa yang dilakukannya dan berkata seperti apa yang diucapkannya itu.

Sehingga ada sebagian pengikutnya yang berkata : “SESUNGGUHNYA TONGKATKU INI LEBIH BERGUNA DARIPADA MUHAMMAD, KARENA TONGKATKU INI BISA AKU PAKAI UNTUK MEMUKUL ULAR, SEDANG MUHAMMAD SETELAH MATI TIDAK ADA SEDIKITPUN KEMANFA’ATAN YANG TERSISA DARINYA, KARENA DIA (RASULULLAH S A W) ADALAH SEORANG THORISY DAN SEKARANG SUDAH BERLALU”.

Sebagian ulama’ yang menyusun buku guna menolak faham ini mengatakan bahwa ucapan-ucapan seperti itu adalah “KUFUR” menurut ke empat madzhab, bahkan kufur menurut pandangan seluruh para ahli Islam.

Peringatan

Berhati-hatilah dengan fitnah yang dihembuskan oleh orang-orang Wahabi kepada al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Mereka menuduh al-`Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sebagai tukang buat fitnah, rafidhi dan lain-lain lagi. Na’udzubillah. Apa yang mereka lakukan merupakan jarum halus musuh untuk menghancurkan kebenaran. Tujuan mereka menghembuskan fitnah atas Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany adalah semata-mata untuk meruntuhkan sanad keilmuan dan pengetahuan para ulama kita bahkan ulama seluruh dunia, agar kebathilan mereka [Wahabi] diterima.

Apakah terbesit kita mengatakan para ulama kita seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, syeikh Hasyim Asy’ari, Syeikh Muhammad Kholil (Mbah Khalil), Sayyid Utsman bin Yahya, Syeikh Utsman Sarawak, Syeikh Abdul Wahab Rokan, Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni Syeikh Ahmad al-Fathoni, dan lain-lainnya itu berguru kepada seorang tukang fitnah?

Ingatlah dan renungkan dalam hati sanubari kita, apa jasa Muhammad bin Abdul Wahhab dengan kita atau dengan nenek datuk kita dibandingkan dengan jasa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan para ulama Nusantara kita terdahulu.

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/biografi-sanad-syeikh-zaini-dahlan.html

Sabtu, 26 November 2011

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang Part 2

Amaliyah di bulan Rajab memang banyak sekali. Itu dikarenakan betapa mulianya bulan Rajab menurut Allah Swt. Dalam memberikan pemahaman amaliyah di bulan Rajab ini, KH Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) menyebutkan amalan istighfar yang perlu dibaca setiap pagi dan sore sebanyak 70 kali agar terbebas dari neraka.

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang Part 2
Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang Part 2


Perintah membaca istighfar itu ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya: "Barangsiapa yang mengucapkan dalam Rajab, Sya'ban dan Ramadan pada waktu diantara dzuhur dan ashar:

استغفر الله العظيم الذي لا اله الا هو الحي القيوم واتوب اليه توبة عبد ظالم لا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياتا ولا نشورا

Maka Allah memerintahkan dua malaikat untuk membakar buku tulisan amal jeleknya". Allah bahkan menegaskan bahwa setiap malam Rajab adalah malam bulan milik Allah. Dan hamba yang mengikuti juga hambaKu dan rahmat juga milik Allah. Termasuk fadl (kemuliaan) berada pada kekuasaan Allah. Dan Allah akan memberikan ampunan pada hambaNya yang selalu memohon ampun.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa barangsiapa melaksanakan puasa pada hari keduapuluh tujuh bulan Rajab dan mengeluarkan shadaqah, maka Allah akan menulis pahala puasa dengan seribu kebaikan dan memerdekakan seribu budak.

Mbah Sholeh Darat juga menjelaskan tentang sebuah malam mulia di dalam bulan Rajab yang disebut sebagai lailatu raghaib (ليلة رغائب). Keterangan mengenai itu diambil dari hadits: "Janganlah Anda sekalian lupakan bahwa dalam awal Jum'at di bulan Rajab, maka malamnya disebut lailatu raghaib ketika berada pada sepertiga malam. Saat itu para Malaikat tujuh langit dan tujuh bumi berkumpul jadi satu di kanan kiri ka'bah dengan disaksikan oleh Allah. Saat melihat peristiwa itu, Allah menyampaikan bahwa apa yang diminta Malaikat akan dikabulkan. Dan Malaikat meminta pada Allah untuk memaafkan hambanya yang berpuasa Rajab. Dan Allah tegas menjawab telah memaafkan semua hambaNya itu".

Bersambung.....

Alfatihah.

Oleh M Rikza Chamami, wakil Ketua KOPISODA/Komunitas Pecinta Mbah Sholeh Darat, Alumni Qudsiyyah dan Dosen UIN Walisongo


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/keutamaan-bulan-rajab-menurut-kh-sholeh-darat-semarang_17.html

Selasa, 04 Oktober 2011

Inilah Para Ulama Besar yang Pernah Dituduh Kafir, Syiah, Yahudi oleh Sumbu Pendek

Oki Setiana Dewi - Sebaik apapun niat Anda melakasanakan tugas, pasti ada yang ingin mencari kesalahan. Itulah sifat iri, dengki, hasud, yang jika dicampur dengan bumbu-bum serakah, akan menghasilkan kekacauan di dunia. Hanya karena kebencian kepada seorang non muslim, jutaan manusia bisa digerakkan untuk sama-sama belajar menghasud.

Inilah Para Ulama Besar yang Pernah Dituduh Kafir, Syiah, Yahudi oleh Sumbu Pendek
Inilah Para Ulama Besar yang Pernah Dituduh Kafir, Syiah, Yahudi oleh Sumbu Pendek


Inilah tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam yang tidak pernah lekang dari tuduhan, hinaan, fitnah dan kabar-kabar hoax yang ingin menjatuhkan dan membunuh karakternya. Sebagaimana sedang hangat akhir-akhir ini sejak isu SARA mencuat, dimuali besar-besaran dari Jakarta.

1. Shahabat Ali bin Abi Thalib, sebelum masa Khalifah Adil Umar bin Abdil Aziz, selalu dicela dan dicaci maki oleh para khathib di mimbar-mimbar Jum'ah.

2. Shahabat Abdullah bin Abbas, Turjumanul Qur'an, pernah dituduh ngawur atau asal-asalan dalam menafsirkan Al-Qur'an.

3. Imam Bukhari saat datang ke Naisabur, semua murid-muridnya meninggalkan majlis pengajiannya karena hasudan ulama setempat yang iri terhadap majlis beliau yang ramai di datangi para murid-murid ilmu agama.

4. Imam Thabari pernah dituduh Syiah disebabkan mempunyai pendapat fikih yang kebetulan sama seperti pendapat Syiah.

5. Qadhi Iyadh pernah dituduh Yahudi bahkan tuduhan tersebut berujung pada pembunuhannya karena setiap hari Sabtu beliau tidak keluar rumah karena menulis kitab asy Syifa' bi Huquq al Mushthofa.

6. Imam Taqiyuddin as Subki berkali-kali difatwa kafir sampai meninggal padahal beliau adalah seorang mujtahid mutlak dan diakui kelimuannya.

7. Imam Abdul Wahhab asy Sya'rani pernah dituduh murtad oleh ulama Mesir gara-gara kitab beliau disisipi kekufuran oleh orang-orang yang hasad kepada beliau.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah ulama yang dibenci oleh masyarakatnya sendiri karena suatu fitnah yang muncul dari orang yang hasad. (Lihat dalam kitab al Yawaqit wal Jawahir atau al Ajwibah al Mardhiyyah karya Imam asy Sya'rani)

Senior kami di pondok yang pernah mengenyam pendidikan di Yaman pernah bercerita bahwa di kalangan santri dan ulama Hadhramaut masyhur ucapan:

"Andai bukan karena sifat hasad, tentu manusia akan (banyak yang) menjadi waliyullah".

Bagaimana dengan sejarah umat Islam di era netizen ini? Samakah dengan data-data sejarah di atas? Siapa saja kah yang sering mendapatkan tuduhan kafir, sesat, Yahudi, syiah, dkk? Siapakah yang selama ini sering menghasud tanpa bukti? Bacalah: Mewaspadai Penggembosan NU oleh Minhum dan juga NU Ditarget Hancur dari Indonesia Paling Cepat Tahun 2020.

Ternyata hasad adalah penyakit hati yang paling sulit ditundukkan, meskipun mereka adalah ahli ilmu. Mugi Allah jagi kawulo lan panjenengan saking sifat hasad. Amin. [Oki Setiana Dewi]

Keterangan:

Data artikel di atas disadur dari tulisan Kiai Hidayat Nur

Dibanding Abah Gus Dur, Kontroversi KH Said Aqil Belum Apa-Apanya

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/inilah-para-ulama-besar-yang-pernah-dituduh-kafir-syiah-yahudi.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Oki Setiana Dewi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Oki Setiana Dewi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Oki Setiana Dewi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock