Tampilkan postingan dengan label Soheh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soheh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2016

Dua Khittah Pesantren sejak Wali Songo hingga Sekarang

Pati, Oki Setiana DewiPengasuh Pesantren Entrepreneur al-Mawaddah Kudus, Jawa Tengah, KH Sofiyan Hadi mengatakan, khittah pesantren adalah tempat tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama) dan mengurusi umat. Kenapa? Karena pesantren sudah memiliki semua perangkat dan komponen yang dibutuhkan untuk memberdayakan masyarakat.

Dalam hal figur, pesantren memiliki kiai yang sangat dihormati dan dipercaya masyarakat. Selain itu, keikhlasan para kiai sudah diyakini oleh masyarakat dari generasi ke-generasi, dan inilah kekuatan yang harus terus dilestarikan di pesantren, ujar pengusaha yang juga motivator kewirausahaan ini.

Dua Khittah Pesantren sejak Wali Songo hingga Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Khittah Pesantren sejak Wali Songo hingga Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)


Dua Khittah Pesantren sejak Wali Songo hingga Sekarang

Sofiyan juga menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat bukan kerja sesaat. Membangun partisipasi masyarakat harus berkelanjutan. Berbeda dari program pemerintah yang umumnya bersifat temporer yang hanya berjalan jika ada anggaran, pesantren dari dulu sejak zaman Wali Songo sampai sekarang tetap eksis mendidik masyarakat dari semua golongan.

Ia menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber seminar bertema Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren yang digelar Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Ipmafa (Intitut Pesantren Mathaliul Falah) Kajen, Pati, Jawa Tengah, Sabtu (4/3)

Oki Setiana Dewi

Energi itulah yang dapat ditransfer untuk diarahkan ke pemberdayaan masyarakat. Dengan membawa spirit, hidup tidak bisa hanya spiritual saja, tetapi juga tidak bisa hanya bisnis saja, kedua-duanya harus berjalan beriringan agar nantinya tercipta masyarakat yang berdaya, ujarnya di depan ratusan mahasiswa PMI dan perwakilan dari santri-santri se-Kecamatan Margoyoso.

Oki Setiana Dewi

Kaprodi PMI IPMAFA Faiz Aminuddin menyampaikan, saat ini jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 27 juta lebih, hal itu bisa dilihat dari data BPS bulan September 2016. Realitas ini harus menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, dan pesantren sebagai lembaga yang sudah mengakar di masyarakat harus ikut andil memberikan kontribusi untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

Pengasuh Pesantren Shofa Azzahro Gembong ini berharap, pertama, sudah saatnya pesantren tidak hanya memfokuskan pada tafaqquh fiddin, tetapi juga mengajari para santri agar melek teknologi, melek bisnis, dan lain sebagainya, supaya saat para santri keluar dari pesantren mereka sudah siap untuk mandiri.

Kedua, sudah saatnya pesantren untuk memberdayakan masyarakat sekitar, karena jihad kekinian yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah membuka lapangan pekerjaan, tambahnya.

Sementara menurut narasumber pertama Sri Naharin, Dekan Fakultas Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Ipmafa, memaparkan tentang tujuan dakwah adalah untuk menyadarkan dan menyampaikan risalah, dan yang diubah adalah pola pikir dan perilaku masyarakat. Metodenya bisa dengan dakwah melalui lisan, dengan tulisan, dengan keteladanan, dan lain-lain.

Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, masyarakat adalah basis utama gerakannya, dengan melihat keadaan kehidupan masyarakat atau permasalahan-permasalahan umat, seperti pendidikan, sosial, ekonomi. Artinya pesantren tidak hanya masuk pada ranah spiritual saja tetapi juga masuk pada permasalahan yang kompleks di masyarakat, dan gerakan memberdayakan akan lebih kuat manakala melalui lembaga seperti pesantren. Mengingat masyarakat kita sampai detik ini masih yakin dengan kiai atau pesantren, sehingga itu adalah modal awal yang sangat baik karena dalam perberdayaan masyarakat trust adalah modal dasar yang harus dibangun.

Modal berikutnya yang harus dipersiapkan pesantren adalah memiliki kemampuan untuk mendesain program secara sistematis, terorganisasi, partisipatif, dan terencana agar masyarakat dapat hidup secara mandiri dan sejahtera secara berkesinambungan. Sederhananya, pesantren harus melakukan upaya nyata dan tindakan nyata, dengan alternatif-alternatif program pemberdayaan berbasis kebutuhan masyarakat.

Pada sesi terakhir, moderator Izzul Fahmi membuka termin tanya jawab, dan banyak sekali para peserta seminar yang mengajukan pertanyaan, tetapi karena keterbatasan waktu hanya dibatasi empat penanya. Acara terakhir ditutup dengan bacaan doa yang dipimpin oleh KH. Sofiyan Hadi. (Red: Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75919/dua-khittah-pesantren-sejak-wali-songo-hingga-sekarang

Oki Setiana Dewi

Rabu, 01 Oktober 2014

Antar-Media NU Harus Jaga Sinergi dan Resonansi

Malang, Oki Setiana Dewi. Potensi media di Nadlatul Ulama (NU) sangat besar. Ada kearifan lokal, tokoh atau ulama dan kiai dengan pandangan Islam ramah, kegiatan yang dilaksanakan umat demikian berfariasi, serta potensi lain. Kalau setiap daerah melakukan sinergi kekuatan yang ada, bukan tidak mungkin hal tersebut menjadi kekuatan dahsyat di kemudian hari.

"Kita bisa saling mendukung dan berbagi ide maupun gagasan, serta potensi apa saja yang ada di daerah," kata Sururi Arumbani, Ahad (27/3). Justru liputan berbasis daerah menjadi khazanah bagi keberadaan Islam Nusantara yang didengungkan NU, lanjut Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PW LTNNU Jatim) ini.

Antar-Media NU Harus Jaga Sinergi dan Resonansi (Sumber Gambar : Nu Online)
Antar-Media NU Harus Jaga Sinergi dan Resonansi (Sumber Gambar : Nu Online)


Antar-Media NU Harus Jaga Sinergi dan Resonansi

Sejumlah potensi daerah tersebut di antaranya adalah profil para kiai dan ulama setempat dalam mendampingi umat, khidmat para perempuan yang melakukan pemberdayaan kesehatan dan ekonomi, anak muda yang telaten mendampingi pemuda dan sejenisnya. "Saya rasa kreasi seperti ini layak ditampilkan di sejumlah media yang dikelola NU," katanya.

Pemimpin Redaksi di TV9 Surabaya ini juga mengingatkan bahwa liputan daerah tersebut dapat dishare atau dibagi kepada komunitas media NU di berbagai tempat. "Bisa jadi hal tersebut akan menjadi inspirasi untuk dilakukan di daerah lain," ungkapnya.

Oki Setiana Dewi

"Inilah yang dinamakan dengan sinergi dan resonansi media NU lintas daerah," terang Kang Sururi, sapaan akrabnya. Bahkan bila digarap dengan serius, potensi para kiai lokal akan juga menjadi tokoh yang disegani di level nasional.

Oki Setiana Dewi

Karena dalam pandangan dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya ini, para tokoh yang kini telah mencapai level nasional dan bisa berbicara terkait isu global adalah mereka yang banyak belajar dari bawah dengan muatan lokal. "Kita ingin kiai, ulama, gus dan ustadz yang layak berbicara di level nasional adalah mereka yang telah melewati jam terbang di daerah dengan kapasitas dan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan," ungkapnya.

Ungkapan senada disampaikan Ahmad Najib AR yang juga Ketua PW LTN NU Jatim. "Saatnya mulai ditumbuhkan kesadaran bersama bahwa potensi para kiai NU layak ditampilkan di publik karena memang memiliki kedalaman pengetahuan agama dan wawasan kenegaraan," kata Gus Najib, sapaan akrabnya.

Sebelumnya, Sekretaris PC LTN NU Kota Malang, Mahmudi mengingatkan bahwa ada banyak tokoh nasional di Kota Malang dengan latarbelakang NU. "Demikian pula para kiai di sini juga layak dimunculkan di media," katanya.

Potensi serupa tentu saja ada di kota dan kabupaten lain di seluruh Indonesia. "Karenanya, sinergi antar media NU dengan muatan lokal di daerah setempat adalah sebuah kebutuhanyang tidak terhindarkan," kata pegiat media lokal di Malang tersebut.

Sejumlah masukan sihasilkan dari diskusi intensif antara PW dan PC LTN NU se-Jawa Timur yang diselenggarakan di kantor PCNU Kota Malang tersebut. Para peserta juga menyampaikan laporan kegiatan sekaligus berbagai kendala yang dihadapi di daerah. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66862/antar-media-nu-harus-jaga-sinergi-dan-resonansi

Oki Setiana Dewi

Selasa, 03 Desember 2013

Cak Nun: Ruwatan Bagian dari Ajaran Islam

Semarang, Oki Setiana Dewi. Budayawan asal Jombang, Jawa Timur, Emha Ainun Nadjib bersama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Walisongo Semarang meresmikan Ruwatan sebagai bagian dari ajaran Islam yang diambil dari al-Quran dan Hadits.

"Ruwatan bukan sebagai budaya Hindu-Budha melainkan sebagai bagian dari ajaran al-Quran yang dijalankan oleh umat Islam. Ruwatan juga bukan asal usul kebatilan maupun bidah melainkan ajaran yang terkandung di dalam Al-Quran," ucap Cak Nun, sapaan akrabnya.

Cak Nun: Ruwatan Bagian dari Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun: Ruwatan Bagian dari Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Cak Nun: Ruwatan Bagian dari Ajaran Islam

Istilah "ruwatan" sebagai budaya Hindu-Budha ditolak oleh budayawan berusia 60 tahun itu. Hal itu dikatakanya dalam Guyub Rukun Bareng Cak Nun Jilid 3, di halaman Mahad Walisongo, Kampus II IAIN Walisongo Semarang, belum lama ini.

Oki Setiana Dewi

Ia menjelaskan, ajaran ruwatan tidak sekedar dilestarikan saja, melainkan juga harus tamasyuk dibumikan. Hal itu sesuai dengan istilah KH Fadlan Musyafak selaku pengasuh Mahad Walisongo ruwatan ialah harokatut tamasyuk bis tsaqafah wal hadloroh al Indonesiyah.

Menanggapi kelompok yang mentafsirkan ruwatan sebagai bidah dholalah pihaknya menolak. "Keliru dan salah bila mengartikan istilah ruwatan sebagai bidah. Sebab bidah ada yang diperbolehkan dan dilarang dalam hukum syara. Tamasyuk merupakan bidah khasanah yang harus dijaga dan dibumikan," beber suami Novia Kolopaking.

Ia mengajak Jamaah Maiyah yang hadir agar tidak memaknai ruwatan secara menyeluruh. Sebab lanjutnya suatu ajaran yang diturunkan dari langit ke bumi adalah sesuatu ketentuan, anjuran, perintah yang sudah baku dan permanen lebih dari itu ada pula ibadah atau kebaikan yang bermula dari bumi ke langit yang tidak ada dalil larangannya.

Oki Setiana Dewi

Bagian anjuran yang dibolehkan ajaran agama, kata penerima penghargaan Satyalancana kebudayaan tahun 2010 itu, ibadah dibagi menjadi 2 yang diperintahkan dan dilarang sesuai ketentuan Aluran.

Pertama, ibadah melalui jalur vertikal antara makhluk dengan sang pencipta yang sudah tidak bisa ditawar dan menjadi ketentuan baku. Kedua, sambungnya ibadah melalui jalur horizontal, yakni hubungan ibadah dengan alam, sesama makhluk semisal ruwatan yang merupakan kebudayaan dari ajaran Islam yang patut dijalankan dan dijaga.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45485/cak-nun-acircruwatanacirc-bagian-dari-ajaran-islam

Jumat, 26 Oktober 2012

Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II

Kediri, Oki Setiana Dewi. Kickoff Liga Santri Nusantara (LSN) Regional Jatim II resmi dibuka Asisten Pemerintahan dan Kesra Mandung Sulaksono di Lapangan Sepak Bola Brawijaya Kediri, Rabu (24/8). Regional Jatim II meliputi Kediri, Jombang, Malang, Batu, Nganjuk, Blitar, dan Tulungangung.

Kota Kediri mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Region II Jawa Timur dalam gelaran LSN 2016 yang digelar mulai 24-31 Agustus. Dalam kompetisi ini akan ada 17 tim yang berlaga.

Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)


Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II

Dalam sambutanya, Mandung mengatakan Pemerintah Kota Kediri mengapresiasi digelarnya Liga Santri ini. "Ini merupakan suatu dorongan bagi dunia sepak bola. Dalam kompetisi ini banyak santri-santri berbakat dalam dunia sepak bola yang bermunculan," ujarnya.

Lebih lanjut, Mandung menambahkan agar dalam pertandingan ini para pemain tetap menjaga sportifitas. "Junjung dan jaga terus sportifitas. Untuk para pemain yang sedang tidak bertanding kalian bisa jalan-jalan untuk mengunjungi beberapa tempat di Kota Kediri," imbuhnya.

Oki Setiana Dewi

Mandung mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah mempercayai Kota Kediri menjadi tuan rumah pada pelaksanaan Liga Santri Nusantara regional Jatim II ini. "Kota Kediri menjadi tuan rumah Liga Santri Nusantara regional Jatim II ini terasa istimewa. Sebab, kompetisi ini merupakan kali pertama bagi Kota Kediri menjadi pelaksana," ungkapnya.

Oki Setiana Dewi

Lelaki yang menduduki posisi Kesra di Pemkot Kediri ini menambahkan, demi menyambut baik kepercayaan Kemenpora terhadap Kota Kediri dalam pelaksanaan LSN Regional Jatim II, Pemkot Kediri akan berusaha keras untuk suksesnya liga santri ini, "Sebagai tuan rumah yang baik, Pemkot Kediri akan berusaha keras demi terciptanya liga yang kompetitif dan sportif," jelasnya.

Mandung yang mewakili Walikota Kediri juga berharap pelaksanaan LSN bisa dimaksimalkan oleh pesantren untuk menghasilkan pemain sepak bola yang mumpuni . Dengan demikian, ke depan Timnas Indonesia tidak akan pernah kekurangan pemain berbakat untuk membela nama bangsa dan negara.

Hadir dalam Kickoff LSN ini para Pengasuh Pondok Pesantren Kota Kediri, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, serta Manajer Persik Kediri. (Red-Zunus)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70688/jadi-tuan-rumah-pemkot-kediri-sambut-baik-lsn-regional-jatim-ii

Jumat, 14 September 2012

Hilal Masih di Bawah Ufuk, Awal Ramadhan Kamis

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Rukyatul hilal atau pengamatan bulan sabit untuk penentuan awal bulan Ramadhan 1436 H pada Selasa (16/6) petang, bertepatan dengan 29 Syaban dinyatakan tidak berhasil. Hilal masih berada di bawah ufuk sehingga tanggal 1 Ramadhan ditetapkan jatuh pada hari Kamis 18 Juni 2015.

Data hisab dalam almanak yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah PBNU menyebutkan bahwa peristiwa ijtima atau konjungsi baru terjadi pada pukul 21.07 WIB dan tinggi hilal pada saat Matahari terbenam masih -2 derajat di bawah ufuk sehingga dinyatakan hilal belum memenuhi kriteria imkanurrukyat atau tidak bisa dilihat.

Hilal Masih di Bawah Ufuk, Awal Ramadhan Kamis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Masih di Bawah Ufuk, Awal Ramadhan Kamis (Sumber Gambar : Nu Online)


Hilal Masih di Bawah Ufuk, Awal Ramadhan Kamis

Meski demikian Lajnah Falakiyah NU tetap melaksanakan rukyatul hilal di beberapa titik di Indonesia. Hasil hisab tetap harus diuji lewat rukyat di seluruh Indonesia, kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU ditemui Oki Setiana Dewi di kantor PBNU Jakarta, Selasa petang.

Dalam pandangan NU rukyatul hilal itu setidaknya mempunyai tiga nilai, yaitu memperkuat imam, ibadah dan untuk tujuan ilmiah atau menguji hasil hisab yang sudah dilakukan, tambahnya.

Oki Setiana Dewi

Berdasarkan hasil rukyatul hilal yang didukung dengan metode hisab yang kontemporer itu maka dilakukan istikmal atau penggenapan bulan Syaban menjadi 30 hari, sehingga tanggal 1 Ramadhan ditetapkan jatuh pada hari Kamis.

Oki Setiana Dewi

Sementara itu, pada saat yang bersamaan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang memimpin Itsbat Penetapan awal Ramadhan 1436 H di kantor Kementerian Agama Jakarta melaporkan, dari 36 titik rukyat yang dikoordinir tidak satu pun tim rukyat yang berhasil menyaksikan hilal. (Anam/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60215/hilal-masih-di-bawah-ufuk-awal-ramadhan-kamis

Oki Setiana Dewi

Selasa, 28 Desember 2010

P4nt4tmu Seperti Wajahku, eh Kebalik, Wajahku yang Seperti Itu

Oki Setiana Dewi - Seseorang yang sedang marah-marah mengatakan, "p4nt|4tmu seperti wajahku". Dipikir-pikir lagi, "Oh, kebalik!". Ia katakan lagi, "Jadi, keliru tadi. Bukan ‘P4n|t4tmu seperti wajahku’, tapi ‘Wajahku seperti p4|nt4tmu”.

Itulah gambaran seseorang yang sedang marah.

Sufi Nusantara, Sunan Kalijaga, dalam kaitan ini membagi ada 4 jenis nafsu, 1) Nafsu Lawwamah, dipersonifikasikan sebagai Begawan Maenaka, yang melambangkan Bayu Langgeng yang berwatak hitam. Warna hitam melambangkan batin dan pikiran yang gelap.

P4nt4tmu Seperti Wajahku, eh Kebalik, Wajahku yang Seperti Itu - Oki Setiana Dewi
P4nt4tmu Seperti Wajahku, eh Kebalik, Wajahku yang Seperti Itu - Oki Setiana Dewi


P4nt4tmu Seperti Wajahku, eh Kebalik, Wajahku yang Seperti Itu

Oki Setiana Dewi

Yang ke 2). Nafsu Sufiah, dipersonifikasikan sebagai Gajah Situbondo atau Bayu Kanitra berwatak kuning, melambangkan tendensi hingga bisa menyebabkan seorang bisa menjadi lemah dan cepat lupa.

Nafsu yang ke-3). Nafsu Amarah. Dipersonifikasikan sebagai raksasa Jayareksa atau Bayu Anras yang berwatak merah, melambangkan kecenderungan merusak, membakar hati dan pikir.

Sedangkan yang ke-4) Nafsu Muthmainnah yang dipersonifikasikan sebagai Resni Hanoman atau Bayu Kinara yang berwatak putih, melambangkan sifat membimbing, men-suci-kan dan menuntun. [Oki Setiana Dewi]

Ditulis oleh Riadi Ngasiran

Oki Setiana Dewi

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/p4nt4tmu-seperti-wajahku-eh-kebalik.html

Kamis, 31 Desember 2009

LP Maarif Luncurkan Pergamanas Perdana

Jakarta, Oki Setiana Dewi. Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama, Jumat (14/11) petang, meluncurkan Perkemahan Pramuka Penggalang Maarif NU Nasional (Pergamanas) Ke-1 di gedung PBNU, Jakarta. Perhelatan ini mengusung tema Pramuka Maarif NU Bersatu, Berkarya, Membangun Karakter Bangsa.

Acara peluncuran dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Ketenagakerjaan Muh Hanif Dhakiri, dan sejumlah perwakilan dari Kementerian Sosial, Kementerian Pemuda dan Olaraga, serta Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

LP Maarif Luncurkan Pergamanas Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif Luncurkan Pergamanas Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)


LP Maarif Luncurkan Pergamanas Perdana

Menurut rencana, Pergamanas perdana ini diselenggarakan secara nasional pada 7-15 Januari 2015 di Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Sekitar 4000 siswa tingkat penggalang dari berbagai provinsi bakal meramaikan kegiatan akbar tersebut.

Ketua PP LP Maarif NU HZ Arifin Junaidi mengatakan, Pergamanas digelar setelah pihaknya sukses melaksanakan Perwimanas (Perkemahaan Wirakarya Maarif NU Nasional) pada 2013 lalu. Kegiatan ini menitikberatkan pada pembinaan karakter pelajar agar berguna bagi diri, keluarga, bangsa, dan negara.

Oki Setiana Dewi

Karena itu, dalam kegiatan kemah pramuka di LP Maarif NU selalu ada olimpiade keislaman, olimpiade kebangsaan, wisata religi, pentas budaya-budaya Indonesia, penanaman seribu pohon, bazar khas makanan Indonesia dan lainnya, imbuhnya.

Oki Setiana Dewi

Saat ini panitia penyelenggara telah menerima konfirmasi kesanggupan peserta dari 25 provinsi. Jumlah ini sudah melewati angka peserta Perwimanas tahun lalu yang diikuti 16 provinsi atau sekitar 3000 siswa.

Arifin juga menyampaikan, untuk memperkuat ciri khas, Pergamanas memasukkan olimpiade Aswaja sebagai bagian dari kegiatan utama. Pergamanas menghadirkan pula para peninjau dari luar negeri, antara lain Arab Saudi, Malaysia, Singapura, dan Mesir. (Mahbib Khoiron)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55736/lp-marsquoarif-luncurkan-pergamanas-perdana

Oki Setiana Dewi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Oki Setiana Dewi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Oki Setiana Dewi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Oki Setiana Dewi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock